Sabtu, 03 September 2011

Lebaran di Mata Anak-anak


Ritual Lebaran, kali ini, tak berbeda jauh dengan Lebaran tahun-tahun lalu. Ritual ini selalu diramaikan oleh acara mudik, silahturami, dan balik. Barangkali yang agak membedakan adalah banyaknya pelaku Lebaran yang mudik dan balik, khususnya, dalam hal memanfaatkan kendaraan bermotor, yang semakin lama (tampaknya) semakin bertambah jumlahnya. Baik kendaraan roda dua maupun empat. Sampai ke daerah-daerah (pelosok-pelosok desa) tak sedikit kita jumpai kendaraan bermotor bernomor polisi kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, bahkan dari luar pulau. Sehingga menimbulkan kemacetan bahkan kecelakaan di mana-mana.  Entahkah fenomena itu menandakan rakyat Indonesia bertambah makmur atau tidak? Saya tidak tahu.

Yang saya tahu adalah saat silahturahmi selalu dimaknai oleh anak-anak sebagai hal yang berbeda dengan orang dewasa. Bagi anak-anak, sejauh pengetahuan saya, silahturahmi sepertinya lebih dipahami sebagai mendapatkan uang saku (dalam bahasa orang-orang di daerah saya, “wisit”). Wisit atau bagi-bagi uang (angpao) yang didapatkan anak-anak jumlahnya beragam dari satu orang dan orang lain tergantung tingkat kemampuan dan hubungan kekerabatan. Kalau yang memberi wisit orang kaya boleh jadi jumlahnya banyak, tetapi kalau kemampuan ekonominya biasa bisa jadi jumlahnya lebih sedikit. Demikian juga kalau yang memberi masih ada hubungan kekeluargaan, umumnya jumlahnya lebih banyak ketimbang orang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan.

Yang telah menradisi adalah cucu mendapat wisit dari nenek-kakek, kepokanan mendapat dari paman-bulik dan pakdhe-budhe, atau dari kerabat lainnya yang lebih dewasa. Tetapi, hal itu dilakukan juga oleh orang sekalipun tidak memiliki hubungan kekeluargaan. Anak-anak di daerah saya ketika Lebaran mengadakan kunjungan ke tetangga dekat yang sedang berlebaran. Sehabis sholat Id, umumnya, mereka berkunjung dari satu tetangga ke tetangga lainnya. Dan,  memang rumah-rumah tetangga yang mengikuti Lebaran terbuka bagi mereka. Mereka bersalaman dengan tuan rumah dan biasanya mereka ditawari menikmati kue-kue Lebaran yang disediakan. Tetapi, anak-anak sering tidak mau karena mungkin mereka sudah kenyang makan kue-kue. Mereka (tampaknya) hanya ingin mendapatkan wisit.

Itulah sebabnya, rumah-rumah yang mereka kunjungi hanya rumah-rumah orang yang biasa membagi-bagikan wisit. Mereka akan melewati rumah-rumah, yang sekalipun  terbuka, orang yang tidak biasa memberikan wisit. Inilah yang saya lihat pada anak-anak ketika berlebaran selama ini.

Maka jangan heran jika ketika masa-masa Lebaran  Anda membuka facebook anak Anda yang kebetulan masih anak-anak, di statusnya tertulis seperti yang saya jumpai ini. “Ah saat-saat ini aku tidak kanker lagi”.  Ketika saya menemukan tulisan itu, pikiran saya langsung mengaitkannya dengan tradisi wisit. Bukankah wisit terkait dengan uang, yang membuat kantong menjadi tidak kering lagi karena terisi uang? Ada juga yang saya jumpai, di salah satu dinding facebook seorang siswa didik saya, “Aduh aku sedih karena sudah gedhe”. Karena dalam konteks berlebaran, saya langsung menghubungkannya dengan tradisi angpao yang lebih dikenakan kepada anak-anak (kecil). Ya, barangkali yang sudah menginjak pemuda-(pemudi) tak memperoleh wisit lagi dari orang tua atau kerabat yang dewasa. Bahkan, anak sulung kami, SMP kelas VIII, sekalipun sebenarnya tidak mengikuti Lebaran, oleh karena budhenya (kakak perempuan saya)  melaksanakan ritual Lebaran, mengajak saya berkunjung ke rumahnya (budhenya) dengan berkelakar agar mendapat wisit. Barangkali masih ada banyak pengalaman serupa yang boleh Anda tambahkan di sini.

Ini hanya salah satu sisi yang saya jumpai dalam diri anak-anak ketika berlebaran. Yang, saya pikir sangat wajar saja. Anak-anak memang memiliki dunianya sendiri. “Dunia” yang memang sering berbeda dengan “dunia” orang dewasa. “Dunia” anak-anak memang unik dan menarik. Berlebaran bagi anak-anak seakan sebagai momen yang tak hanya memberi berkah rohani, tetapi juga berkah jasmani. Uang saku menjadi banyak karena mendapat wisit dari nenek-kakek, orang tua, dan kerabat yang lebih dewasa. Selamat berbahagia, anak-anak!    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""