Rabu, 28 September 2011

Meminta Bantuan Anak


Dalam beberapa hal saya harus mengakui apa yang peserta didik saya bisa, belum tentu saya dapat. Saat mengoperasikan LCD suatu ketika saya  meminta bantuan kepada salah satu peserta didik yang terkenal pintar. Itu terjadi beberapa waktu lalu ketika di salah satu kelas saya hendak memanfaatkan LCD untuk mengajar. Entah karena apa tiba-tiba LCD-nya ngadat, tidak dapat digunakan. Saya sudah mencoba mengotak-atiknya, tetapi tidak bisa. Bisa jadi karena saya memang hanya memiliki sedikit kemampuan menggunakan LCD.

Anak-anak dalam kelas tersebut ternyata tidak ada yang dapat membantu saya. Akhirnya saya meminta tolong kepada salah satu peserta didik kelas lain, yang kebetulan saya mengajar di kelas itu juga. Saya mengenal anak yang saya mintai tolong itu. Di samping ia termasuk pintar memanfaatkan perangkat-perangkat modern, boleh saya katakan ia termasuk anak yang paling disukai teman-teman satu kelasnya. Karenanya ia dijuluki “bapak kita” oleh teman-teman sekelasnya. Bahkan julukan itu telah dikenal anak-anak di kelas-kelas lain sekalipun beda tingkat. Julukan “bapak kita” itu dianugerahkan kepadanya oleh karena kepintaran dan sikap pedulinya terhadap teman-temannya. Ketika teman-temannya mendapati kesulitan, ia begitu respek membantu, bahkan tanpa harus diminta.

Ketersendatan pemanfaatan LCD yang saya alami ketika itu dapat ia atasi. LCD akhirnya dapat berfungsi. Tepuk tangan dari kakak kelasnya membahana di kelas itu. Padahal sebelumnya (saat ia baru masuk ke kelas itu), mereka menertawainya. Belakangan saya mengetahui “tertawaan” itu terjadi karena julukan, “bapak kita”, yang disandang anak tersebut telah mereka ketahui. Saya akhirnya menduga bahwa tepuk tangan yang spontan itu barangkali sebagai bentuk pengakuan mereka terhadap “kemampuan” yang dimilki “bapak kita” itu, dalam artian sangat tepat kalau anak tersebut mendapat julukan “bapak kita” karena apa-apa bisa.

Saya tak hendak terus membicarakan tokoh kita ini. Tetapi saya akan berbicara tentang keputusan saya untuk meminta bantuannya. Sekalipun saya salah satu gurunya, saya tidak segan-segan meminta bantuannya karena saya memang mengetahui bahwa dalam hal tersebut ia lebih mampu ketimbang saya. Ketika keputusan itu masih bersarang di pikiran saya, tak sedikit pun tergelitik rasa malu. Saya tidak perlu malu di depan peserta didik dalam ruang kelas itu. Palingan anak-anak menertawai. Apa salahnya saya turut tertawa juga.

Dan saya pikir tertawa itu dapat membangun suasana kelas lebih mencair. Tidak tegang. Karena kelemahan saya tidak tertutupi di depan mereka. Sehingga saya bebas bersikap. Dalam suasana seperti itu pendapat-pendapat spontan anak mengalir tanpa beban. Keberanian bertanya muncul secara tiba-tiba. Anak-anak yang biasanya cenderung pasif menjadi lebih aktif. Suasana kelas menunjukkan ada “kehidupan” pembelajaran.

Barangkali (akan) berbeda kalau guru mengalami kesalahan di depan kelas, tetapi berusaha menutupinya. Takut ketahuan peserta didik. Tidak mau juga meminta bantuan kepada peserta didik sekalipun diketahuinya di antara mereka ada yang bisa membantu, hanya oleh karena (sikap) gengsi. Kalau itu yang terjadi maka guru telah membuat jarak komunikasi dengan peserta didik. Jarak yang dapat menimbulkan suasana kelas menjadi tegang, kaku, dan sulit menumbuhkan “kehidupan” pembelajaran dalam kelas.

Jadi, peserta didik yang dapat memberi bantuan (saya pikir) dapat diberdayakan. Tidak perlu malu-malu. Tidak perlu (apalagi) gengsi. Sebab dengan begitu bukankah peserta didik akan merasa berharga dan bukan mustahil ia akan semakin semangat belajar? Bahkan boleh jadi memotivasi peserta didik lain tumbuh sikap belajar. Di samping itu, ikatan keakraban antara guru dengan peserta didik lebih berkembang. Toh selama ini sekalipun saya melakukan hal seperti itu (meminta bantuan anak), saya tidak melihat ada peserta didik saya yang katakanlah “merendahkan”  diri saya. Justru mereka terasa familiar, namun masih menaruh hormat. Bukankah ini sesuatu yang indah? 

Jelas bahwa dalam hal tertentu meminta bantuan kepada anak yang memiliki kemampuan tidaklah tabu. Karena justru dapat menjadi jembatan terbangunnya sebuah proses pembelajaran lebih bermakna. Anak-anak (dapat) aktif belajar dalam suasana yang menyenangkan karena adanya keterbukaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""