Minggu, 25 September 2011

Menanti Pendidikan yang Memerdekakan

Jika Anda guru, sudahkah Anda memberikan pendidikan yang memerdekakan kepada siswa didik Anda? Saya mengaku bahwa sekalipun saya sudah relatif lama menjadi guru, hingga kini, belum dapat memberikan pendidikan yang memerdekakan kepada siswa didik saya. Saya menyadari itu. Barangkali Anda berpikir saya mengada-ada. Bukankah saya sudah berusaha mengajar siswa didik saya dengan baik? Buktinya,  ketika pembelajaran berlangsung, siswa didik dikondisikan tidak merasa tertekan. Mereka belajar dengan senang dan suka cita. Mereka dapat membangun diskusi dengan teman secara baik. Berani bertanya ketika siswa didik mengalami kesulitan dalam menguasai materi. Tidakkah itu cukup mengindikasikan bahwa pendidikan yang memerdekakan telah diberikan kepada siswa didik?

Saya yakin, sebagian besar guru di negeri ini telah melakukan proses pembelajaran yang sedemikian itu. Membuat proses pendidikan yang tidak membosankan siswa didik. Menggunakan model-model pembelajaran yang menarik. Kita pernah menggunakan model cara belajar siswa aktif (CBSA), kita juga menggunakan model pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Tetapi, apakah semuanya itu telah mengindikasikan bahwa guru telah memberikan pendidikan yang memerdekakan kepada siswa didiknya?  Barangkali saya harus berani menyuarakan apa yang sejatinya terjadi. Yaitu, sekalipun sudah ada banyak model belajar serupa itu bukan berarti pendidikan yang memerdekakan telah dirasakan siswa didik.

Karena, pendidikan yang memerdekakan itu berarti guru dapat menerima perbedaan yang terjadi atas siswa didiknya. Siswa didik satu dengan yang lain tentu berbeda. Berbeda karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Baik latar belakang keluarga, daerah, budaya, kebiasaan, kekhasan, agama, atau yang lainnya. Bahkan, jika berbiacara persoalan potensi diri, jelas mereka berbeda. Ada yang memiliki potensi menonjol dalam bidang matematika, ada yang sosial, ada yang bahasa, ada juga yang seni, dan sebagainya.

Rasanya jika kita mau jujur, hingga kini, kita belum memberikan pelayanan yang optimal terhadap perbedaan yang dimiliki oleh siswa didik kita. Kita belum dapat melayani siswa didik kita yang memiliki potensi menonjol di bidang seni, misalnya. Sekalipun di sekolah diadakan ekstrakurikuler seni, belum tentu program itu memenuhi apa yang dibutuhkan siswa didik. Bahkan, yang terjadi di sekolah pada umumnya siswa didik diukur menggunakan takaran yang sama. Siswa didik dianggap memiliki potensi yang sama dalam bidang tulis-menulis, misalnya. Sehingga siswa didik satu dengan yang lain seolah-olah dituntut dapat mencapai target tertentu dalam hal tulis-menulis itu. Bukankah yang namanya kriteria ketuntasan minimal (KKM) itu berarti kita menyamaratakan satu siswa didik dengan siswa didik yang lain? Buktinya, yang masih belum mencapai batas KKM, guru harus melakukan remidial bukan?

Padahal boleh jadi siswa didik tersebut memang tidak memiliki potensi di bidang tulis-menulis. Jadi, “dipaksa”  seperti apa pun, kemampuannya dalam tulis-menulis sampai di situ-situ saja. Tidak dapat beranjak lebih tinggi. Kalau pun (sungguh) dipaksakan, yang terjadi akhirnya pencapaian yang tidak otentik. Karena (barangkali) hanya sekadar memenuhi target KKM. Malah yang kurang menjadi perhatian, misalnya, siswa didik tersebut memiliki pencapaian target tinggi di bidang sosial. Kecerdasan siswa didik di bidang sosial ini yang seharusnya menjadi perhatian serius. Bagaimana memberi pelayanan secara optimal sehingga kecerdasan sosialnya itu sungguh tergali secara mendalam. Sampai anak menemukan jati dirinya secara otentik. Yang, kelak akan mengantarkan dirinya bisa “terbang” meraih harapan seluas-luasnya. Jika tindakan pembelajaran seperti ini yang berlangsung, maka pendidikan yang memerdekakan itu terwujud.

Hanya sayang, pendidikan kita (sejauh ini) masih lebih memandang kecerdasan kolektif ketimbang kecerdasan personal. Hal itu tampak jelas karena tetap kukuhnya ujian nasional. Pintu keberhasilan siswa didik seakan-akan hanya melalui beberapa mata ujian. Perbedaan-perbedaan yang ada pada diri siswa didik belum menjadi prioritas menentukan keberhasilan. Perlu kesabaran menanti pendidikan yang memerdekakan, ternyata. Kapan ya?

Artikel ini dimuat di Radar Kudus (Jawa Pos), 21/9/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""