Selasa, 06 September 2011

Menyambut Anak Masuk Sekolah


Besok, Rabu (7/9), anak-anak mulai masuk sekolah setelah libur beberapa lama sejak di penghujung Puasa hingga beberapa hari setelah Lebaran. Barangkali malam ini anak-anak sudah mulai sibuk mempersiapkan buku-buku dan peralatan lainnya untuk sekolah. Bahkan tidak mustahil, sorenya ada yang pergi ke toko untuk memperlengkapi sarana yang kurang. Membeli ini membeli itu. Apalagi dapat dipastikan anak-anak memiliki sejumlah uang hasil wisit. Jadi, akan lebih meleluasakan mereka untuk membeli keperluan sekolah.

Dalam pikiran mereka mungkin telah terbayang “kesibukan” sekolah. Mereka sudah harus mulai mengikuti proses pembelajaran. Menerima tugas-tugas dari guru. Ceramah guru ini, praktik guru itu, mencatat, membaca buku, menulis, kerja kelompok, ulangan, dan kesibukan lainnya.  

Boleh dibilang mereka mengalami perubahan suasana hati. Ketika mereka libur, hari-harinya dinikmati dengan rileks, tetapi saat masuk sekolah terasa tidak dapat rileks lagi. Saat libur, misalnya, mereka dapat bangun tidur dan mandi agak siang. Aktivitas itu dilakukan dengan santai. Karena tidak berpatokan pada waktu. Jadi agak kurang tertib memanfaatkan waktu. Tetapi, ketika mulai masuk sekolah, mereka harus bangun tidur dan mandi pagi. Waktu harus mulai tertib. Jika bangun kesiangan tentu mandi juga kesiangan, tiba di sekolah dipastikan terlambat. Atau paling tidak, pergi ke sekolah dalam keadaan tergesa-gesa. Suasana hati menjadi kemrungsung (kurang nyaman).

Maka, akan sangat membantu suasana hati anak-anak tercipta nyaman dan rileks apabila suasana sekolah di hari pertama masuk sekolah setelah libur terasa nyaman. Kenyamanan itu dapat diciptakan melalui berbagai cara. Misalnya, memperdengarkan lagu-lagu nasional dan daerah melalui pengeras suara. Sejak anak-anak memasuki pintu (gerbang) sekolah telah mendengar lagu-lagu itu. Sekalipun tidak pernah melakukan penelitian (tentang hal itu), saya yakin lagu-lagu yang diperdengarkan itu akan mampu membawa suasana hati anak-anak menjadi lebih damai.

Apalagi kalau misalkan lingkungan sekolah terlihat bersih dan penataannya sangat rapi. Pemandangan yang seperti itu akan sangat berpengaruh pada pikiran dan perasaan anak-anak. Bukan mustahil mereka akan sangat bergembira. Sehingga memasuki halaman sekolah pun dengan semangat, tidak malas-malasan.   

Dan tentu akan semakin menggairahkan anak-anak bersekolah jika kepala sekolah, guru, dan karyawan membawa diri secara ramah. Ketika berjumpa dengan anak-anak, bersikap familiar. Mewujudkan senyum, salam, dan sapa kepada seluruh warga sekolah, termasuk anak-anak yang dijumpai, baik saat istirahat maupun proses pembelajaran berlangsung. Suasana keakraban serupa itu, disadari atau tidak, akan menjadikan atmosfer di sekolah lebih nyaman, tentram, dan menyejahterakan. Dengan demikian, anak-anak merasa bergairah belajar di sekolah. Dan bukan mustahil suasana hati anak-anak, yang barangkali saat masih di rumah dan perjalanan suntuk (kurang sejahtera), begitu memasuki lingkungan sekolah berubah menjadi sejahtera.

Ya tentu saja suasana seperti itu tidak hanya diciptakan ketika hari pertama masuk sekolah setelah libur, tetapi perlu senantiasa dibudayakan di sekolah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, sekolah benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka dapat belajar, membangun potensinya secara merdeka.

Hal itu tentu membutuhkan peran banyak pihak. Ada satu saja pihak kurang memberi dukungan, hal yang baik itu tidak akan terwujud. Kemauan untuk menciptakan suasana yang menyejahterakan bahkan perlu tumbuh dari masing-masing pribadi. Harus bersama-sama merasa memiliki tanggung jawab membangun suasana belajar kondusif  bagi anak-anak. Mari kita sambut dengan bangga anak-anak masuk sekolah!

2 komentar:

  1. Ini adalah momen penting bagi anak untuk menggali ilmu di sekolah kedepan...pertama masuk adalah menjadi pijakan yang kuat suksesnya proses belajar.maka bagi kita sebagai orang tua harus selalu mendukungnya dengan lahir dan batin.

    BalasHapus

""