Minggu, 04 September 2011

Pemanfaatan Wisit yang Mendidik

Saat-saat ini, anak-anak, khususnya yang merayakan Lebaran, boleh jadi mendapat banyak wisit (angpao Lebaran) dari orang tua, kerabat, dan tetangga. Dengan banyak wisit, anak-anak tentu gembira. Karena apa pun keinginan yang (barangkali) sejak lama telah terpendam dalam benak, mungkin saja akan segera dapat dipenuhi. Katakanlah ingin itu ingin ini pasti akan terkabul. Hanya, sering anak-anak kurang dapat membedakan mana keinginan yang harus dituruti. Anak-anak belum (sepenuhnya) mengerti keinginan yang sesuai dengan kebutuhan. Mereka umumnya hanya mendasarkannya pada tren yang ada. Sekalipun tren yang ada belum tentu relevan dengan kebutuhan.

Oleh karena di kalangan mereka, misalnya, sedang marak-maraknya menggunakan perangkat tertentu, wisit yang diperoleh dipakai untuk membeli perangkat tertentu itu. Padahal boleh jadi baru beberapa saat lalu mereka membeli perangkat yang tak jauh berbeda. Perangkat yang ada masih dapat dimanfaatkan. Tidak terlalu ketinggalan zaman. Tetapi, oleh karena tidak tren lagi, mereka menggantinya dengan produk terbaru. Baik dalam konteks hal yang kita anggap kurang berharga maupun berharga, dampaknya sama saja. Anak-anak kehilangan sikap pengendalian diri.

Itulah sebabnya perlu keterlibatan orang tua dalam memanfaatkan wisit. Anak-anak perlu dipahamkan mengenai keinginan yang relevan dengan kebutuhan. Sebab memenuhi keinginan tanpa “pengendalian” jelas berdampak kurang baik. Kebutuhan dapat mengendalikan keinginan. Anak-anak, yang memang masih membutuhkan bimbingan dan pengarahan, kurang bijak kalau dibiarkan mengambil keputusan sendiri dalam hal ini. Mereka harus diberi pengertian secara benar, tanpa harus mengabaikan kehendak-kehendak mereka. Ini memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih terbuka dan akrab sebelum menentukan pilihan.

Tidak ada jeleknya jika komunikasi yang terbangun mengarah pada kebutuhan-kebutuhan anak yang memang harus dipenuhi. Anak-anak yang masih bersekolah, yang tentu membutuhkan berbagai keperluan pendidikan, tidak salah diajak berbicara mengenai kebutuhan sekolah saat ini demi kemajuan pendidikannya. Anak-anak dapat diajak mendata kebutuhan sekolahnya. Kebutuhan-kebutuhan yang mendesak barangkali yang perlu diprioritaskan. Secara tidak langsung, ini mengajarkan anak tentang mengklasifikasikan sesuatu sekaligus menentukan pilihan berdasarkan kepentingannya. Semakin penting semakin didahulukan. Ini tindakan yang sepertinya perlu dibiasakan.

Dengan demikian, (dalam hal ini) wisit yang diperoleh anak tidak termanfaatkan secara sia-sia. Anak akan memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Akan tetapi ini jangan lantas diartikan  orang tua mengesampingkan tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak. Atau, agar beban orang tua untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak lebih ringan. Tidak sepenuhnya benar. Sebab, bukankah wisit itu hanya didapat anak umumnya setahun sekali saat Lebaran? Justru melalui pemanfaatan wisit secara benar, ini orang tua (telah) mendidik anak lebih terdidik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""