Minggu, 11 September 2011

Perlu Juga Perlakuan yang Berbeda


Kemarin anak-anak ada yang tidak membawa cerita pendek (cerpen) seperti yang saya perintahkan kepada mereka sebelum masa libur. Waktu itu saya berpikir, mereka akan lebih leluasa untuk mendapatkan cerpen. Waktu libur dapat digunakan untuk mencari cerpen yang dimuat di media cetak, baik koran, majalah, maupun tabloid. Begitu mereka telah menemukan cerpen, saya minta cerpen itu digunting. Jika eman digunting, cerpen itu dapat difotokopi sehingga tidak membuat rusak media cetak itu.. 

Saya memang tidak mengizinkan mereka mencari cerpen dari media elektronik lewat internet, misalnya. Karena cerpen yang dipublikasikan lewat internet boleh jadi tidak semua melalui pemilihan secara objektif. Sebab, ada cerpen yang dipublikasikan secara pribadi melalui web/blog pribadi. Saya tidak mengklaim bahwa cerpen yang dimuat di media virtual itu tidak baik, sementara yang di media cetak baik. Tidak begitu. Tetapi, cerpen yang dimuat di media cetak barangkali memiliki kelebihan karena pemuatannya melewati penyeleksian oleh redaksi, yang bukan penulisnya sendiri. Sekalipun sebetulnya banyak cerpen bermutu yang dipublikasikan lewat media virtual, baik oleh pribadi maupun komunitas media online. Saya hanya khawatir saja kalau anak-anak salah memilih. Melalui media cetak, hal serupa kemungkinannya sangat kecil.

Di samping itu, secara fisik guntingan cerpen dari koran, majalah, dan tabloid lebih menarik ketimbang cerpen dari media virtual hasil prin-prinan. Guntingan dari media cetak lebih bervariasi. Sementara hasil prin-prinan dari media virtual cenderung monoton. Demikian juga, jika mencari cerpen lewat media virtual lebih cepat (karena hanya melewati satu “pribadi”, yaitu Tuan Google) daripada lewat koran, majalah, dan tabloid. Karena jika tidak memilikinya (sendiri) anak-anak harus mencari ke orang lain yang mungkin berlangganan atau pernah membeli (koran, majalah, atau tabloid) untuk dimintanya. Anak-anak jarang (atau bahkan tidak ada) yang sengaja membeli (hanya untuk itu).

Hal demikian sangat positif karena, mau tidak mau, perlu membangun komunikasi dengan orang lain. Nilai-nilai sosial demikian tidak dijumpai ketika mencari (cerpen) lewat internet. Dengan demikian sedikit banyak melatih anak membangun sikap sosial, yang disadari atau tidak, sikap demikian di masa kini mulai menipis bersamaan dengan meningkatnya perangkat modern yang menawarkan berbagai kemudahan beraktivitas.

Namun saya harus mau menerima kenyataan yang kurang menyenangkan. Karena ternyata ada beberapa anak, bahkan dalam satu kelas tertentu sebagian banyak tidak membawa cerpen seperti yang saya anjurkan. Saya tidak mengetahui persis apa alasan mereka. Padahal awalnya saya berpikir bahwa selama masa libur, baik libur akhir Puasa maupun Lebaran, dapat digunakan untuk “berburu” cerpen di media cetak. Waktu sepanjang itu ternyata belum dimanfaatkan secara efektif untuk "berburu" cerpen.

Di antara mereka (yang tidak membawa) ada yang mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan mencari. Hal ini bisa saja terjadi. Tetapi, tentu tidak dialami oleh banyak anak. Seperti terbukti di dua kelas yang lain hanya satu dua anak tidak membawa. Anak-anak ini mungkin benar mengalami kesulitan mencarinya (cerpen). Tetapi untuk satu kelas yang sebagian besar anaknya tidak membawa cerpen boleh jadi mereka kurang maksimal berusaha mencari.  Sekali mencari belum menemukan, misalnya, sudah bersikap putus asa. Aras-arasen (malas) mencari lagi.

Anak-anak yang tidak membawa cerpen akhirnya saya perlakukan (agak) berbeda dengan yang membawa. Anak-anak yang membawa cerpen mengadakan aktivitas saling bertukar cerpen. Cerpen milik A ditukar dengan cerpen milik B, cerpen milik C bertukar cerpen milik D, misalnya. Mereka menukarkan satu dengan yang lain. Jadi, anak-anak akan mengahadapi cerpen yang berbeda dengan cerpen bawaannya (sendiri). Tetapi jika pas kebetulan mereka mendapat cerpen yang sama, ya mau tidak mau, mereka menerimanya. Hal ini sangat mungkin terjadi karena media cetak yang memuat cerpen sekali terbit jumlahnya banyak. Akibatnya cerpen yang sama bukan mustahil dapat dimiliki oleh beberapa anak.

Sekalipun begitu mereka tetap dapat beraktivitas. Membaca cerpen yang baru ditukar dengan milik temannya. Kalau ternyata cerpen hasil tukar itu sama persis dengan cerpennya, tidak menjadi persoalan. Mereka malah memperoleh keuntungan. Karena sebelum bertukar cerpen, mereka tentu telah membaca cerpen tersebut. Sehingga lebih cepat memahami isi ceritanya. Tentu dengan begitu akan lebih mudah baginya menulis kembali cerpen tersebut.

Berbeda dengan anak-anak yang setelah bertukar mendapat cerpen yang sama sekali baru. Mereka harus membaca lebih sungguh untuk dapat memahami isi ceritanya. Barangkali sekali membaca belum dapat mengetahui secara baik isi cerita dalam cerpen tersebut. Sehingga mereka harus membaca ulang lagi sampai benar-benar mengerti isinya. Baru setelah itu, mereka menulis kembali cerpen yang telah mereka baca.

Sementara anak-anak yang membawa cerpen sibuk membaca yang lantas dilanjutkan dengan aktivitas menulis, anak-anak yang tidak membawa cerpen harus menerima konsekuensinya. Mereka tidak dapat beraktivitas apa-apa. Ini sengaja saya lakukan untuk memberi pembelajaran kepada mereka akan kekeliruannya. Bahwa semua tindakan selalu diikuti konsekuensi. Tindakan baik, konsekuensinya positif; perbuatan kurang baik, konsekuensinya negatif. Maka, ketika beberapa teman sibuk memasuki proses pembelajaran, mereka pasif tidak berkegiatan. Kalau anak-anak yang beraktivitas mendapat nilai dari aktivitasnya itu, anak-anak yang tidak beraktivitas tidak mendapat nilai. Perlakuan berbeda tersebut harapannya dapat membangun kesadaran mereka ke depan lebih baik, yaitu tumbuh sikap tanggung jawab dan tidak mudah putus asa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""