Senin, 12 September 2011

Sedikit Terkendala Bersepeda ke Sekolah

Beberapa hari terakhir ini, saya memang tidak bisa  menepati kemauan menaiki sepeda setiap pergi-pulang mengajar seperti yang telah saya canangkan beberapa hari lalu. Hari ini saja, Senin (12/9), yang rencananya hendak menaiki sepeda ke sekolah, tempat mengajar, tidak kesampaian. Karena saya dan beberapa rekan guru semata pelajaran mengadakan halal bihalal Musyawarah Guru Mata Pelajaran  (MGMP) Bahasa Indonesia di tempat yang lokasinya jauh dari sekolah. Dengan terpaksa saya harus mengendarai motor. Meski sebetulnya, sekalipun jauh, dapat saja saya menaiki sepeda. Tetapi daripada menjadi bahan perhatian dan omongan rekan-rekan guru, saya memilih menghadiri halal bihalal tersebut dengan mengendarai motor saja.

Padahal jika saya nekad menaiki sepeda, yang tentu mengundang perhatian banyak rekan, pastilah membuat saya menjadi terkenal. Dikenal oleh rekan-rekan guru karena sekarang begitu langkanya guru menaiki sepeda saat menunaikan tugas. Sekarang guru-guru umumnya sudah mengendari motor bahkan mobil. Itu semua oleh karena kesejahteraan guru (terutama guru negeri) telah diperhatikan pemerintah. Terasa sekali (kesejahteraan guru meningkat) ketika sertifikasi  diluncurkan pemerintah. Guru-guru yang telah tersertifikasi yang paling dahulu merasakannya. 

Sosok Oemar Bakri, ikon guru masa lalu, yang terkenal dengan sepeda ontanya, itu kini telah hilang disapu oleh citra guru di masa modern ini. Sehingga kalau ada guru yang menaiki sepeda saat menjalankan tugas mendidiknya, kini, dipastikan menjadi pemandangan yang begitu langka. Dan karena kelangkaan itu boleh jadi  menobatkan guru tersebut cepat terkenal. Seperti terkenalnya saya ketika masih mahasiswa di Surabaya dulu. Pergi-pulang kuliah selalu menaiki sepeda. Melintassi jalan-jalan besar di Surabaya, yang dipenuhi lalu-lalang kendaraan bermotor, baik motor maupun mobil, tidak mengecilkan nyali saya. Mengayuh sepeda di keramaian jalan di Surabaya ketika itu menjadi makanan saya sehari-hari.

Bahkan ketika hujan pun saya tetap bersepeda saat kuliah karena sepeda satu-satunya harta benda bergerak saya yang dapat saya manfaatkan. Tidak hanya ke kampus, untuk bermobilisasi ke mana pun saya menggunakan sepeda. Ketika hujan tidak segan-segan saya menaiki sepeda dengan menggunakan payung. Jadi, menaiki sepeda dengan memegang payung terbuka ketika itu menjadi salah satu keahlian saya. Sampai-sampai saya terkenal di lingkungan teman kuliah oleh karena saat hujan bersepedaan dengan payungan dalam menjalani aktivitas kuliah.

Tetapi, kini rekor itu tidak ingin saya dapatkan lagi. Bukan karena saya malu oleh karena sudah menjadi guru masa masih menaiki sepeda. Bukan. Tetapi lebih kepada menjaga diri agar (seperti yang telah saya sebutkan di atas) tidak menjadi perhatian dan bahan omongan banyak rekan guru. Omongan mereka tentu tidak selalu buruk terhadap saya. Bahkan bisa jadi sebaliknya. Yaitu, begitu bersahajanya saya ketika melihat saya menaiki sepeda. Tetapi, terlepas dari penilaian itu saya tak hendak memancing perhatian dan omongan rekan-rekan guru.

Di samping itu karena jaraknya agak jauhan tentu akan mengundang keringat membasahi baju bukan? Pertemuan di halal bihalal rasanya tidak nyaman jika harus berbasah kuyub oleh keringat. Secara pribadi tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan badan. Rekan-rekan pun tentu saja akan merasa kurang sejahtera berdampingan dengan saya yang basah kuyub oleh keringat. Karena bau keringat yang memang kurang sedap. Yang bagaimana pun hal itu akan mengurangi nilai keakraban dalam bersilaturahim di halal bihalal.

Tidak menaiki sepeda pergi-pulang sekolah juga saya alami selama dua tiga hari sebelumnya (sebelum acara halal bihalal). Sebab, pada hari-hari sebelumnya, saya harus dapat memanfaatkan waktu secara efektif oleh karena keponakan saya opname di rumah sakit dekat tempat tinggal saya. Keberadaannya yang opname di rumah sakit itu perlu perhatian saya. Sekalipun perhatian itu tidak selalu terwujud dalam bentuk mendampinginya di rumah sakit. Sebab, sekalipun rumahnya di luar kota, bapak dan ibunya, kakak perempuan saya, dapat mendampingi anaknya.

Saya mengambil keputusan untuk tidak menaiki sepeda selama hari itu karena jangan-jangan secara mendadak kakak saya membutuhkan bantuan (saya). Kalau menaiki sepeda, tentu saja saya tidak dapat membantunya secara cepat. Dari sekolah menuju rumah sakit dan sebaliknya, atau jika ada keperluan lain, saya pasti tidak dapat menolongnya tepat waktu. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang mengharuskan saya sementara mengabaikan sepeda. Sepeda, yang sudah sembuh dari “perawatan” dokter sepeda, itu harus saya relakan untuk beberapa saat beristirahat.

Akan tetapi yang terjadi selama waktu itu kakak saya tidak membutuhkan “kehadiran” saya. Jadi saat mengajar di sekolah (selama waktu keponakan opname) saya belum diperlukan kakak secara tiba-tiba harus berada di rumah sakit. Padahal ketika di hari pertama, kakak saya sendirian karena suaminya harus pulang mengurus pekerjaan di rumah. Pun ia mengatakan kepada saya bahwa dirinya tidak tahu arah ketika berada di area rumah sakit. Kalau (benar) tidak mengetahui arah, saya membayangkan ia pasti mengalami kesulitan. Apalagi dikatakannya juga jika dirinya dari kamar perawatan keluar untuk membeli ini membeli itu, misalnya, bingung ketika hendak kembali masuk ke kamar.

Toh pada kenyataannya tidaklah demikian. Sebab, ternyata ia dapat keluar dari kamar perawatan untuk menyelesaikan administrasi keuangan, yang letak kantornya relatif jauh dari kamar perawatan tersebut. Ia dapat kembali ke kamar perawatan anaknya dalam keadaan selamat. Tidak kesasar ke sini ke sana. Jadi, jelas bahwa langkah antisipasi saya (dengan cara tidak menaiki sepeda pergi-pulang mengajar selama keponakan saya opname) kurang bermanfaat. Akan tetapi saya tidak kecewa. Toh besok, Selasa (13/9), saya sudah dapat memulai lagi menaiki sepeda pergi-pulang mengajar. Ya semoga sejak besok dan hari-hari selanjutnya niat saya bersepeda ke sekolah lancar-lancar saja.

6 komentar:

  1. terus kampanyekan bersepeda ke kantor pak, saya pun mulai tertarik. sekarang di rummah sudah ada dua sepeda, namun keduanya masih dipakai sikembar untuk pulang pergi ke sekolah. nanti kalau kami sudah bisa membelikan sepeda motor untuk mereka, saya akan berusaha untuk bersepeda... menemani bapak

    BalasHapus
  2. yuk ikutan guru era baru pak

    BalasHapus
  3. wah, niat yg mulia sob, sebenarnya saya juga pengen ke kampus pake sepeda, namun belum ada uang. ya udah lah. jalan kaki ja lah.

    wah, niat yg mulia sob, sebenarnya saya juga pengen ke kampus pake sepeda, namun belum ada uang. ya udah lah. jalan kaki ja lah.

    BalasHapus
  4. @budi santosa Ya, Pak Bud. Mari kita kampanyekan serupa menggembar-gemborkan kampanye politik. Hihihihi....

    BalasHapus
  5. @budies Guru era baru itu guru yang seperti apa ya, Pak? hahahahaha...

    BalasHapus
  6. @Said Arsyad Semoga sebentar lagi Sobat memiliki sepeda dan bersepeda saat pergi-pulang kuliah serta mau mengampanyekan tindakan mulia itu. Selamat dan sukses selalu.

    BalasHapus

""