Kamis, 08 September 2011

Sepeda pun Bisa Sakit

Padahal sudah saya canangkan sejak Rabu (7/9) saya akan senantiasa menaiki sepeda ketika pergi-pulang mengajar. Artinya, tidak ada satu hari pun sejak saat itu saya mengendarai motor (atau yang lain kecuali sepeda) ketika pulang-pergi mengajar. Kalau sampai ada satu hari saja (tidak menaiki sepeda) berarti saya melanggar kemauan saya sendiri. Ya itu benar. Tapi pada saat saya mencanangkan kemauan itu tidak terpikir bahwa suatu saat sepeda bisa saja “lelah” bahkan “sakit”. Kalau sepeda dalam kondisi seperti itu, tentunya istirahat dulu beberapa saat. Tidak dapat dipaksakan. Sebab jika dipaksakan, itu namanya “pemerkosaan”, dan tindakan itu jelas sangat biadab. 

Barangkali itulah yang baru (saja) menimpa sepeda saya. Rabu sore ketika saya naiki untuk pergi pelayanan gereja ke suatu tempat, yang jaraknya dari rumah kira-kira lima sampai enam kilometer, sudah “mengatakan” tidak sanggup. Sayang, mengatakan tidak sanggupnya itu ketika sudah dalam perjalanan. Kira-kira 500 meter dari rumah, sepeda itu baru mengatakannya. Oleh karena dari semula saya memang mau  menaiki sepeda untuk aktivitas pelayanan itu, sekalipun sepeda sudah mengucapkan  “rintihan”, ya tetap saja saya naiki. Pikir saya saat itu tidak terjadi apa-apa.

Hanya memang saya agak heran karena biasanya tidak demikian. Tidak memunculkan suara apa-apa, kecuali bunyi nggowes…. nggowessss (oleh karena suara angin). Sekalipun begitu, karena dari mulanya memang ada niat untuk menaiki sepeda, ya akhirnya sepeda itu saya kayuh terus.  Tetapi ternyata setiap beberapa kayuhan, ia selalu mengucapkan “rintihan” itu. Saya agak cuek terhadap bunyi-bunyi, yang sebetulnya membuat risih kuping saya.

Barangkali kecuekan saya boleh dibilang tindakan yang sangat biadab. Tindakan “pemerkosaan”. Karena mestinya saya (paling tidak) harus turun sebentar. Memeriksa keadaan sepeda itu. Tetapi saya tidak begitu. Saya menaiki terus sembari sesekali menengok ke bawah, melihat ke gigi (tempat rantai berputar) bagian depan. Sepertinya tidak mengalami apa-apa bagian itu. Tetap seperti sedia kala. Tidak goyah. Ya saya terus saja mengayuh (sembari berdoa agar tidak terjadi apa-apa), sekalipun bunyi yang membuat giris telinga saya tetap saja mengganggu. Sehingga (akhirnya) sampai jarak tempuh sekitar tiga kilometer dari rumah.  Artinya, belum sampai ke tempat tujuan. Masih sekitar dua sampai tiga kilometer lagi.

Boleh jadi karena tindakan biadab saya tadi, rantai sepeda putus, cluiing! Jatuh di jalan beraspal. Terkulai lemas selemas saya ketika mengetahuinya. Saya salah menduga. Sebab awalnya saya menerka yang kurang beres adalah gigi bagian depan, tetapi ternyata yang “merintih-rintih” sejak awal adalah rantai. Akhirnya saya tidak dapat menaiki sepeda lagi karena meskipun terjadinya “kecelakaan” itu dekat dengan bengkel sepeda, bengkel sepedanya sudah tutup. Sepeda sementara tidak dapat dirawat. Dengan terpaksa ia harus menanggung sakitnya (sendiri) tanpa pengobatan.

Sepeda saya memang tidak termasuk sepeda yang penuh dengan “gizi”. Sepeda dorpres sangat langka ada yang “bergizi”. Tergolong sepeda yang biasa-biasa saja (dalam arti harganya murah). Sepeda yang sangat mudah terserang penyakit. Berbeda dengan sepeda bukan sepeda dorpres. Yang banyak dijual di toko-toko khusus, yang harganya mencapai jutaan rupiah itu. Sepeda yang begini tentu kaya “gizi” sehingga untuk aktivitas yang kekerapannya sering pun, tetap tangguh. Tidak mudah terserang virus penyakit.

Akan tetapi, saya tidak perlu kecewa bahkan bersedih sekalipun hari ini, Kamis (8/9), saya harus mengendarai motor saat pergi-pulang mengajar oleh karena sepeda saya “sakit” dan harus dimasukkan ke “rumah sakit” agar mendapat perawatan dokter sepeda. Untuk sementara ini saya harus tega melanggar kemauan sendiri, mengendarai motor. Sakitnya sepeda saya sejatinya tidak melulu karena kurang “gizi”, tetapi lebih pada kurang pekanya saya merespon “rintihan” sakitnya. Coba kalau dari semula sejak ia “merintih” saya meresponnya sepeka seorang dokter terhadap pasiennya, tentu tidak mengalami peristiwa yang sedikit membingungkan saya Rabu sore itu. 
 
Bagaimana tidak bingung, jarak tempuh sampai ke tujuan (tempat pelayanan) masih kurang dua sampai tiga kilometer, sementara waktu terus berjalan. Saya harus naik apa belum jelas. Sepeda harus saya titipkan di mana belum terbayang. Tetapi, oleh karena Hikmat dari Atas datang, persoalan itu dapat terselesaikan dan pelayanan bisa berlangsung sejahtera hingga usai, pukul 20.30 WIB.

2 komentar:

  1. Wow, pak Sungkowo naik sepeda genjot ke tempat kerja? Aksi nyata ikut mengatasi global warming. Berapa kilo dari rumah, Pak?

    BalasHapus
  2. @M Mursyid PW
    Sekitar 2,5 kilometer,Pak. Tidak jauh. Jadi, ya masih terasa ringan untuk aksi nyata itu. Terima kasih.

    BalasHapus

""