Jumat, 28 Oktober 2011

BB yang Merangsang Kreativitas Berbahasa dan Bersastra



Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), Senin (24/10), mengadakan kunjungan belajar ke Balai Bahasa (BB)Yogyakarta. Dalam kunjungan belajar sengaja memilih objek BB karena  guru mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus ingin mengenal lebih dekat tentang kiprah BB, yang selama ini memang hanya sebatas mendengar. Apalagi dalam pengakuan beberapa guru mapel Bahasa Indonesia yang turut kunjungan belajar, termasuk saya, belum pernah mengenal yang namanya BB itu seperti apa. Sehingga tepat sudah jika kunjungan belajar kali ini ke BB. “Mendengar sudah, tetapi belum pernah ke sana,” kata salah satu peserta kunjungan belajar.

Kunjungan belajar ke Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) sebenarnya karena dilandasi, pertama, di antara peserta kunjungan belajar ada yang telah mengenal pejabat BBY. Dengan begitu urusan lebih mudah. Panitia tidak perlu mengadakan kunjungan awal/penjajagan. Cukup via telepon segala sesuatunya dapat dikomukasikan, yang terjamin beres. Kedua, oleh karena di samping Yogyakarta letaknya dekat (dengan Kudus), dalam artian dapat terjangkau dalam satu hari pulang-pergi, juga memiliki banyak pilihan objek (pendidikan) lain yang dapat dikunjungi, kalau toh masih ada waktu kunjung.

Kunjungan belajar yang diikuti oleh sekitar 80 guru mapel Bahasa Indonesia, baik negeri maupun swasta itu, menggunakan dua bus besar. Karenanya, kedua armada itu terlihat longgar. Peserta ada yang menempati dua kursi sendirian. Kelonggaran itu terjadi karena jumlah peserta saat awal tidak sama dengan saat hari “H”-nya. Ketika pendaftaran ada seratus lebih peserta, tetapi pada saatnya sekitar 80-an. Hal itu dikarenakan beberapa peserta batal mengikuti karena ada acara lain dan beberapa ada yang sakit. Perjalanan dari Kudus, sekitar pukul 05.30 WIB, menuju ke Yogyakarta dapat berjalan lancar.

Kurang lebih pukul 11.00 WIB peserta tiba di lokasi, Jalan I Dewa Nyoman Oka 34, Yogyakarta 55224. Kedatangan peserta disambut baik oleh segenap pegawai BBY. Diadakan acara pertemuan di ruang Sutan Takdir Alisjahbana, lantai dua. Ruang yang relatif cukup luas itu mampu menampung semua peserta. Dalam waktu kurang lebih dua jam diadakan acara semacam kuliah umum tentang keberadaan BBY oleh Kepala BBY, Drs. Tirto Suwondo, M.Hum, yang diikuti dengan sesi tanggapan dan tanya jawab.

Dalam kuliah umumnya itu, Tirto Suwondo, menyampaikan sejarah singkat berdirinya BBY dari masa-masa kemerdekaan hingga sekarang. Dinamika aktivitas BBY selama ini di-shar-kan kepada peserta. Dikatakan, BBY telah berperan aktif di dalam pembinaan  bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan Daerah (Jawa), yang melibatkan guru/dosen, siswa/mahasiswa, bahkan masyarakat umum se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang terdiri atas lima kabupaten/kota itu. Pembinaan itu dilakukan dalam bentuk latihan-latihan, baik aspek kebahasaannya maupun kesastraannya. BBY juga turun ke kabupaten/kota memberikan penyuluhan dan pelatihan. Semua itu dilakukan bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan. Teragendakan juga pelatihan untuk memompa kreativitas berbahasa dan bersastra dengan mengharuskan peserta datang ke BBY dalam rentang waktu tertentu. Namun, peserta (guru, dosen, siswa, maupun mahasiswa, dan umum) sekalipun masa pelatihannya habis, tetap diberi ruang untuk tumbuh berkreasi.

Itulah sebabnya, di BBY dibuka bengkel-bengkel kreasi. Ada bengkel bahasa, ada bengkel sastra. Bahkan, selain ada jurnal ilmiah BBY, setiap bengkel memiliki media yang dipakai untuk menampung karya para anggota bengkel. Ada media untuk menampung karya-karya anggota kategori anak, demikian juga kategori pendidik. BBY sering juga mengagendakan berbagai lomba. Dengan begitu seluruh kreativitas berbahasa dan bersastra dapat ditumbuhkembangkan secara positif. Tidak sedikit (akhirnya) buku bahasa dan sastra, baik berbahasa Indonesia maupun Jawa karya kreator-kreator didikan BBY, yang diterbitkan oleh BBY bekerja sama dengan pihak-pihak terkait.

Gambaran tersebut ternyata mampu menyulut peserta untuk menyampaikan tanggapan dan pertanyaan. Apalagi (kemudian) diketahui bahwa betapa BBY sangat peduli terhadap pertumbuhan berbahasa dan bersastra di kalangan siswa dan pendidik di Provinsi DIY. Yang, tidak serupa dengan yang dirasakan oleh siswa dan pendidik yang berdomisili di Jateng. Siswa dan pendidik di Jateng, termasuk MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus belum banyak mengetahui keberadaan (kiprah) BB Provinsi Jateng (BBJT), yang memang  usianya belum setua BBY. Barangkali karena sejarah perjalanannya yang masih hijau itu, BBJT belum dikenal banyak masyarakat pendidikan di Jateng. Beberapa di antara kami (MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus) malah baru mengetahui kalau di Provinsi Jateng ada BB saat kunjungan belajar ke BBY itu. Terus terang, sejak keberangkatan yang terbayangkan dalam pikiran kami (termasuk saya) adalah BB itu adanya hanya di Yogyakarta.

Ya boleh jadi kenyataan ini barangkali karena kesalahan kami yang memang kurang aktif mengikuti perkembangan pembangunan di Jateng. Sampai-sampai adanya BBJT saja belum mengetahui. Padahal, Kudus dan Semarang, tempat BBJT beralamat, tidaklah jauh. Sangat dekat. Karena hanya dipisahkan satu kabupaten, yaitu Kabupaten Demak. Kudus – Semarang dapat ditempuh dengan mengendarai kendaraan, baik pribadi maupun umum, paling-paling kurang dari satu jam. Tetapi, toh demikian, keberadaan BBJT belum sepenuhnya kami kenal.  

Hanya, bukan mustahil belum dikenalnya BBJT oleh masyarakat pendidikan Jateng karena selama ini BBJT (sendiri) memang kurang melakukan gerakan berbahasa dan bersastra ke daerah-daerah. Kalau dugaan ini benar, maka ke depan BBJT harus mau mengadakan gerakan itu ke daerah-daerah. Bukankah BBJT memiliki program untuk itu? Silakan tengok program BBJT, di sini. Saya optimis, jika BBJT melakukan gerakan-gerakan berbahasa dan bersastra ke daerah-daerah, tentu saja bekerja sama dengan pihak-pihak terkait, ke depan dinamika kehidupan berbahasa dan bersastra (baik berbahasa Indonesia maupun Jawa) semakin bertumbuh.

Memang pekerjaan ini tidak seringan pekerjaan BBY, yang memang hanya memiliki luas wilayah tidak seluas Provinsi Jateng. Kalau dalam kuliah umum saat kami kunjungan belajar ke BBY dikatakan bahwa BBY telah mengadakan gerakan kreativitas hingga menjangkau ke daerah-daerah terjauh di wilayah DIY, itu karena wilayah DIY tidaklah luas. BBJT tentu berbeda karena wilayahnya sangat luas, yang meliputi 35 kabupaten/kota. Karenanya tidak salah jika BBJT memulai dari daerah-daerah terdekat terlebih dahulu. Kemudian, semakin lama semakin meluas, menjangkau ke seluruh daerah di Jateng. Sayang, sejauh saya ingat, hingga sekarang, belum terdengar dan terlihat BBJT turun ke daerah, taruhlah misalnya ke Kudus, memberi ruang kreativitas bagi masyarakat pendidikan. Karena saya berpikir, BB dapat menjadi pemicu kreativitas berbahasa dan bersastra. Bukan begitu?

1 komentar:

  1. terlanjur orang yg berkunjung sih....

    kalau niatnya belajar, BB bisa jadi tempat yg baik...tapi kalau mau ribut dan tidur...BB mah ndak cocok jadi tempat nongkrong

    BalasHapus

""