Kamis, 20 Oktober 2011

Karnaval Budaya, Media Pendidikan Karakter


Even karnaval budaya sepertinya telah menjadi agenda tahunan di kabupaten/kota, yang ada di bumi tercinta Indonesia ini. Boleh jadi karena kegiatan itu dapat menjadi daya tarik masyarakat, baik dalam maupun luar, yang dimungkinkan dapat menambah pendapatan daerah. Di samping itu, upaya pelestarian budaya lokal terus dapat dilakukan. Kegitan karnaval budaya sering diadakan bersamaan dengan hari ulang tahun kabupaten/kota.  

Seperti halnya kota Kudus, Jawa Tengah (Jateng) yang ber-HUT ke-462, 23 September 2011, yang lalu juga disemarakkan dengan karnaval budaya. Karnaval budaya itu melibatkan berbagai elemen masyarakat Kota Kretek.  Masyarakat pendidikan pun tidak ketinggalan ambil bagian. Sekolah-sekolah di Kudus, baik negeri maupun swasta, hampir dapat dipastikan turut mengambil peran. Karena menyadari bahwa karnaval budaya dapat dijadikan sebagai media pendidikan karakter.

Apalagi kita mengetahui bahwa akhir-akhir ini nilai-nilai karakter semakin menipis di kalangan masyarakat negeri ini. Buktinya, tidak sedikit terjadi pertengkaran antarkelompok masyarakat, tawuran antarmahasiswa, bahkan antarsiswa. Di sisi lain kita juga melihat adanya para elite negeri ini yang kurang dapat menjaga hati. Sehingga mereka larut dalam tindak korupsi, manipulasi, dan tindak kejahatan lainnya. Bukankah hal itu mengindikasikan terjadinya demoralisasi dalam kehidupan masyarakat kita?

Maka, menjadi menarik ketika Pemerintah Daerah (pemda) Kabupaten Kudus, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Kudus, menggelar karnaval budaya. Dengan begitu, Pemda Kudus mewujudkan komitmen untuk membangun karakter warganya  menuju ke tatanan masyarakat yang lebih berbudaya, beradab, dan berjiwa nasionalisme. Dan sangat relevan jika masyarakat pendidikan yang berada di Kudus, di antaranya, menjadi sasaran pembangunan karakter lewat karnaval budaya tersebut.

Karnaval budaya yang melibatkan banyak orang (masyarakat) memang dapat dijadikan sebagai media pendidikan karakter yang relatif efektif. Hanya, dalam persiapannya membutuhkan konsentrasi yang lebih. Sehingga masyarakat pendidikan (dalam hal ini sekolah), khususnya, harus cermat-cermat mengelola waktu. Ada kalanya waktu pagi berlatih, memanfaatkan jam belajar. Kadang sore hari. Karena melibatkan ratusan peserta didik, lapangan digunakan sebagai area latihan. Namun toh demikian  sekolah menyambut baik karena karnaval budaya dipandang sebagai bagian dari sebuah proses pembelajaran.

Bukankah proses pembelajaran dapat berlangsung di mana saja, termasuk di luar kelas bahkan di luar sekolah? Proses pendidikan yang berlangsung di tempat terbuka, semisal di lapangan, justru tidak hanya (sekadar) merangsang kecerdasan kognitif, tetapi juga kecerdasan afektif dan psikomotorik. Dengan demikian, saya melihat, tahap latihan karnaval budaya (yang dilaksanakan di di lapangan, baik pagi maupun sore), itu menjadi bagian proses pembelajaran yang lebih komprehensif.

Dalam proses pembelajaran yang komprehensif itu peserta didik tidak hanya dikenalkan pengetahuan teoritis, tetapi juga praktik kehidupan nyata. Mereka harus membangun komunikasi dengan orang lain untuk melakukan sesuatu. Mereka harus terampil membawakan peran-peran tertentu. Mereka harus berlatih untuk tidak malu tampil di depan umum. Mereka harus mampu mengendalikan diri (mengikis sikap emosional), dan yang lebih dari itu adalah  mereka diajak menghayati nilai-nilai nasionalisme.

Apalagi dalam karnaval budaya, umumnya, sekolah mengangkat topik-topik yang berkaitan dengan budaya, tradisi, dan kesenian daerah, yang diakui atau tidak, di dalamnya terkandung nilai-nilai kearifan lokal.  Maka, jelas melalui karnaval budaya, anak-anak dikenalkan budayanya sendiri. Sebagai orang tua, kita, (barangkali termasuk media massa), tentu merasa berdosa jika anak-anak, yang adalah generasi penerus bangsa ini tercerabut dari akar budayanya.

Coba kita seolah-olah menghitung, ada berapa banyak budaya asli negeri ini yang tidak dimengerti anak kita (bahkan barangkali kita sendiri). Kalau kita mau jujur, mungkin kita berani mengatakan, banyak yang tidak kita kenal. Bahkan bukan mustahil budaya yang berada di sekitar tempat tinggal kita saja, kita tidak mengetahuinya. Oleh karena kekurangpedulian kita terhadap harta warisan budaya leluhur itu.

Karenanya, karnaval atau kirab budaya, yang telah menjadi agenda tahunan kabupaten/kota menjadi momentum penting dalam menggali tradisi, budaya, dan kesenian daerah sebagai upaya membangunn karakter bangsa. Membangun rasa cinta terhadap budaya daerah (lokal) secara tidak langsung membangun sikap nasionalisme, yang sekarang memang harus terus diperjuangkan. Mengingat budaya global tidak mengenal ampun terus menggempur budaya kita. Bagaimana?

2 komentar:

  1. Salah satu warisan budaya adalah bahasa daerah. Kalau kita ya bahasa Jawa. Tetapi mari kita merenung betapa sebagian dari kita (orang tua) zaman sekarang justru cenderung meninggalkan bahasa daerah dalam komunikasi kehidupan sehari-hari dalam keluarga. Akibatnya apa? Kini anak2 muda sudah tidak mengerti basa krama lagi, termasuk anak saya.
    Ini juga musti jadi perhatian kita, Pak.

    BalasHapus
  2. memang sejatinya lokalitas mulai dimunculkan sebagai pembelajaran, bukan bagian perpecahan. menggali kekayaan lokal untuk kepentingan nasional

    BalasHapus

""