Kamis, 06 Oktober 2011

Karnaval Budaya, Membangun Masyarakat Berbudaya

Sejak pukul 12.00 hingga 17.00 WIB, siang tadi, Kamis (6/10), di sepanjang Jalan Ramelan, Lukmonohadi, dan berpusat di Alun-alun Simpang Tujuh (depan Kantor Bupati) berlanjut sampai ke Jalan Jendral Sudirman, Kudus, Jawa Tengah (Jateng), dipenuhi warga masyarakat. Karena di sepanjang jalan, kurang lebih tiga kilo meter, itu dilaksanakan karnaval budaya.Warga masyarakat antusias melihat karnaval budaya, yang selama ini digelar setiap tahun sekali saat memperingati HUT Kota Kretek.

Berjubelnya masyarakat, bahkan di titik-titk tertentu, seperti di titik menjelang masuk dan keluar Panggung Kehormatan, peserta karnaval sering tidak kebagian area untuk berjalan. Karena penonton meransek masuk memenuhi badan jalan. Beberapa polisi pamong praja terlihat kurang mampu membendung arus warga yang semakin meransek mendekati Panggung Kehormatan.  Sehingga pembawa acara (lewat pengeras suara) sering memberi imbauan kepada warga untuk mundur. Namun tampaknya imbauan itu pun kurang berpengaruh. Warga tetap berjubel di seputaran Panggung Kehormatan. Yang mengganggu sirkulasi peserta.

Hal itu barangkali disebabkan oleh  di depan Panggung Kehormatan memang dijadikan tempat menampilkan pertunjukan kemasan peserta karnaval budaya. Pertunjukan kemasan itu disebut teatrikal. Teatrikal yang dibawakan masing-masing peserta, sekalipun hanya disediakan waktu tampil selama tiga menit, bagian ini merupakan inti karnaval budaya. Oleh karena itu, setiap peserta selalu manampilkan fragmen yang menarik. Yang tidak hanya dapat ditonton oleh warga masyarakat, tetapi juga bupati dan jajaran pemerintah. Di Panggung Kehormatan seolah-olah menjadi pusat kegiatan karnaval budaya.

Itulah sebabnya warga lebih terkonsentrasi di tempat itu. Apalagi setiap peserta yang (niscaya) membawa “persembahan” (umumnya berupa makanan atau yang lain), menyerahkannya kepada bupati dan jajarannya. Lantas persembahan yang mereka terima sebagian diberikan kepada masyarakat. Dengan demikian,  wajar jika di seputaran Panggung Kehormatan menjadi pusat berjubelnya warga. Sayang, untuk memperoleh itu warga (anak-dewasa, laki-laki-wanita) saling berebut.

Ya barangkali itu salah satu ciri khas warga. Kejujuran, kepolosan, dan keterbukaan warga masyarakat dalam turut merasakan  kegembiraan. Kegembiraan yang diungkapkan lewat perilaku kerakyatannya.Tidak rakyat kalau tidak begitu. Namun yang lebih dari itu, melalui karnaval budaya, saya melihat keantusiasan warga masyarakat menonton itu memuat sikap menghargai budaya bangsa. Bahkan memberi pengukuhan terhadap seni, tradisi, dan budaya yang ditontonnya.

Di samping itu, masyarakat memiliki wawasan pengetahuan yang lebih luas. Masyarakat akhirnya mengetahui berbagai seni, tradisi, dan budaya yang disuguhkan lewat karnaval budaya. Menarik, karena tema-tema yang diusung dalam karnaval budaya lebih mengacu ke seni, tradisi, dan budaya lokal. Dengan demikian, pelaku karnaval budaya dan juga masyarakat penonton mengenal seni, tradisi, dan budaya mereka sendiri. Yang sesungguhnya memang tak terhitung banyaknya tersimpan di bumi pertiwi ini.

Melalui ajang karnaval budaya mendorong masyarakat untuk senantiasa mengeksplorasi seni, tradisi, dan budaya sendiri. Dengan demikian, akan memperkaya kasanah budaya bangsa. Di sadari atau tidak, melalui momen serupa itu, masyarakat akan semakin terdidik. Menjadi masyarakat yang melek budaya. Yang secara tidak langsung (sekaligus) membangun masyarakat berbudaya sejak usia anak. Mengingat tidak sedikit anak yang mengambil peran sebagai pelaku dan penonton dalam karnaval budaya tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""