Selasa, 04 Oktober 2011

Kepolosan Anak

Ketika kami mengadakan kerja bakti mempersiapkan perbaikan jalan, ada seorang anak tetangga yang berada di tengah-tengah kesibukan kami. Salah satu di antara kami ada yang berkelakar menanyakan bapaknya. Entah karena apa, tiba-tiba anak itu nyelethuk (berucap spontan), bapak mau mabuk (bapak tadi mabuk). Ya spontan saja di antara kami tersenyum kecut. Ada-ada saja perbuatan orang tua yang demikian itu. Tidak peristiwa yang lucu. Tetapi peritiwa menyedihkan.

Betapa tidak, di hadapan anak-anak yang semestinya orang tua menyuguhkan perilaku positif, justru menyajikan tindakan yang negatif. Masakan minum minuman keras sampai mabuk di hadapan anak. Orang tua yang memiliki hati, tentu saja tidak tega melakukan tindakan kurang bermoral itu di hadapan anaknya. Orang tua yang demikian sangatlah egois. Sebab hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Tidak melihat kepentingan orang lain, apalagi anaknya sendiri.

Bukankah anak-anak juga memiliki kepentingan yang harus dihargai? Minum ya minum, jika itu telah menjadi kebiasaan, tetapi di tempat yang jauh dari penglihatan anak-anak. kepentingan anak untuk dapat bertumbuh dengan baik secara optimal perlu didukung oleh orang tua. Orang tua harus menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya. Waktu yang relatif panjang dapat bertemu dengan anak-anak semestinya dimanfaatkan untuk mendampingi anak-anak dengan sepenuh hati.

Apa yang dilihat anak, lebih-lebih bawah lima tahun (balita), akan sangat mengesan di jiwa anak. Ia merekam dengan setandas-tandasnya. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan orang tua di depan anak-anak menjadi asupan tak sehat bagi jiwa mereka. Anak-anak yang masih bersih sebersih kertas putih akan terlukisi kisah-kisah getir orang tua. Bukan tidak mungkin, suatu saat anak-anak akan membeo perilaku orang tuanya. Sebab, bagi anak-anak, bisa jadi hal seburuk apa pun akan menjadi contoh karena anak-anak memang belum dapat membedakan buruk-baik.

Apa yang dilihat menjadi bahan belajar bagi anak-anak. Apa itu perihal buruk atau baik, mereka tidak melihatnya. Semua yang dilihat, mengesankan dan menarik, ya akan menjadi “bekal” mereka dalam berperilaku. Sikap kepolosan anak inilah yang tidak dapat ditutup-tutupi. Maka, sangat wajar jika anak tetangga kami, yang saya tokohkan, itu nyelethuk tanpa beban di hadapan kami. Sekalipun materi yang diucapkan spontan itu kurang baik. Tetapi itulah anak. Begitu polos. Apa adanya. Tidak segan mengatakan perilaku buruk bapaknya di depan banyak orang.

Orang lain yang sebelumnya tidak mengetahui keadaan orang tuanya, oleh karena kepolosan anak, akhirnya menjadi tahu. Saya sebagai guru, ketika itu akhirnya berkelakar di hadapan teman-teman kerja bakti (di antaranya ada yang seprofesi dengan saya) begini, tugas guru menjadi semakin berat. Bagaimana tidak semakin berat, jika ternyata ada juga orang tua yang justru menggurui anak-anaknya berperilaku kurang bermoral. Sementara guru, diakui atau tidak, di sekolah mengajarkan hal-hal yang baik. Berbicara dan bertingkah laku mendekati ajaran kebaikan.

Ya itulah fakta yang ada. Guru sering berlawanan dengan fenomena yang ada di masyarakat. Masyarakat menyodorkan berbagai “kebejatan”, sekolah harus mengajarkan “kebaikan”. Akibatnya keduanya sering tidak ketemu pada satu visi yang sama dalam mempersiapkan anak-anak. Padahal, Ki Hajar Dewantara, Pelopor Pendidikan Klasik, yang ajaran-ajarannya masih sangat relevan di zaman kini, membangun pendidikan di atas tiga pilar pendidikan, yakni keluarga, masyarakat, dan sekolah.

Nah, kalau yang ada ternyata seperti yang kami jumpai pada anak tetangga kami itu, bagaimana pendidikan anak-anak jadinya. Anak akan kesulitan menemukan figur. Sebab, di sana ada yang begini, di situ ada yang begitu. Anak-anak senantiasa menemukan sesuatu yang berbeda. Dalam keluarga begini, dalam masyarakat begitu, dalam sekolah lain lagi. Kasihan mereka bukan?

2 komentar:

  1. ngeri sekali perbuatan ayahnya itu ya...

    kalau sampai anaknya nanti salah didik seperti itu kan bahaya...

    BalasHapus
  2. @choirul
    benar, mas, itu sangat berbahaya.

    BalasHapus

""