Selasa, 25 Oktober 2011

Membangun Kesetiaan Sejak Dini


Hampir dapat dipastikan, semua orang, secara umum, mengalami kejenuhan jika melakukan aktivitas terlalu lama. Barangkali aktivitas yang terkait dengan hobi tidak begitu kentara jenuhnya. Tetapi, disadari atau tidak, sekalipun kesenangan kalau dilakukannya melewati kapasitas energi, baik fisik maupun psikis, rasa bosan itu seperti menghantam diri. Membuat lesu, payah, dan tak bergairah.

Hal itu tidak hanya dapat menimpa anak-anak, yang boleh jadi memang belum “terlatih” karena usia perjalanan hidupnya masih relatif pendek, tetapi juga kaum dewasa. Kaum yang secara umum telah menjalani hidup dalam rentang waktu yang panjang. Yang tentu saja telah belajar dari banyak pengalaman hidup beraktivitas. Namun tidak sedikit kaum dewasa yang gagal karena kurang memiliki kesetiaan ketika ada kendala dalam beraktivitas. Kendala yang semestinya masih dapat diatasi oleh karena (telah) kehilangan kesetiaan, kendala itu seakan menjadi “musuh” yang mematikan. 

Membuat orang menjadi putus asa. Tidak berpengharapan. Karena seperti menghadapi jalan buntu. Seakan-akan dirinya tidak memiliki kemampuan lagi yang dapat digunakan berusaha. Justru yang terasa adalah kelesuan yang semakin menekan. Ibarat sekelilingnya hanya kegelapan, tanpa terlihat sedikit pun warna cerah. Sebuah kegilaan telah menyergapnya. Benar-benar hilang arah.

Hal yang barangkali membuat keadaan semakin parah apabila ada pihak atau pihak-pihak tertentu yang maksudnya memberi semangat, tetapi (malah) dianggap menjelek-jelekkan karena maksud yang disampaikan menggunakan kata-kata dan sikap yang cenderung keras.  “Perhatian” yang cenderung keras itu sering menimbulkan rasa takut, minder, tidak percaya diri, jengkel, marah, dan sebagainya yang (dipandang) lebih bermuatan negatif. Padahal, sebuah proses memang sering juga tidak mengenakkan. Proses tidak selalu berjalan lancar. Ada hambatan-hambatan yang sangat mengganggu. Kenyataan ini yang terkadang tidak disadari banyak orang.

Sehingga yang terjadi kemudian “kesetiaan menggeluti sesuatu” menghilang. Jika sudah demikian kenyataannya dan lantas dibiarkan terus terjadi akan menimbulkan krisis diri. Hal demikian (tentu) hanya dialami orang-orang, baik anak maupun dewasa, yang tidak terlatih menghadapi persoalan (hidup) sejak usia dini. Oleh karena hidup berkecukupan sehingga sejak masa usia dini enak-enak selalu. Tidak pernah merasakan yang namanya kekurangan ini kekurangan itu. Apalagi jika orang tua bersikap memanjakan anak. Kenyataan yang (pasti) terjadi semakin memperpuruk mental anak. Ada sedikit-sedikit persoalan, tidak dapat mengurus karena terlebih dahulu muncul rasa malas, menggantungkan kepada orang lain.

Membangun kesetiaan, dengan demikian, sebagai sebuah keharusan. Dimulai sejak anak masih kecil. Tentu saja terlebih dahulu melalui hal-hal yang sederhana. Yang anak-anak sering lakukan setiap hari. Sering kita jumpai anak yang ketika bermain, misalnya, tiba-tiba ngambek oleh karena ada persoalan. Mungkin mainannya rusak, diganggu saudaranya, atau karena hal lain. Di sinilah dibutuhkan peran orang tua. Sangat tepat misalnya, ketika mainan anak rusak, orang tua (atau orang yang lebih dewasa), berpeduli. Mengajak anak tersebut bersama-sama memperbaiki mainan itu.

Kalau toh pada akhirnya mainan itu tidak dapat diperbaiki, tetapi anak sudah terlibat di dalam usaha memperbaiki. Anak akan mengetahui melakukan sesuatu itu tidak sekali jadi. Ada proses yang dilalui. Anak akan belajar bahwa sesuatu tidak selalu mudah. Ada hambatan-hambatan yang harus dilewati. Saya berani menjamin, ketika bersama-sama dengan anak memperbaiki mainan itu disertai dengan kelakar-kelakar yang membangun semangat, anak akan tetap bergembira sekalipun yang dilakukan itu tidak menghasilkan sesuatu yang maksimal. Di sinilah proses membangun kesetiaan anak dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""