Jumat, 21 Oktober 2011

Membantu Anak Keluar dari Jerat Konflik

Sebagai guru, di sekolah, saya kadang menemukan anak bermasalah. Masalah yang menimpa anak beragam jenisnya. Ada masalah tidak disiplin, malas belajar, kurang sopan, mengabaikan tugas dan PR, mencoret-coret meja dan dinding sekolah, merokok, minum-minuman keras, dan sebagainya. Masalah-masalah itu mudah dicarikan solusinya asal anak merespon “baik” ketika diajak komunikasi. Sebaliknya, masalah-masalah itu sulit ditangani jika anak merespon “kurang baik” manakala diajak komunikasi.

Anak yang merespon “baik” ketika diajak komunikasi berani mengatakan secara jujur persoalan yang mereka hadapi. Memberikan keterangan apa adanya. Tidak menutup-tutupi persoalan yang ada. Justru proaktif terhadap orang yang mengajak komunikasi. Hal itu boleh jadi menandakan anak (memang) ingin keluar dari masalah yang sedang melilitnya. Sebaliknya, anak yang merespon “kurang baik” saat diajak komunikasi tidak berani mengatakan secara jujur persoalan yang mereka hadapi. Mereka terkesan menyembunyikan persoalan. Sehingga keterangan yang diberikan cenderung palsu. Bahkan sulit dimengerti karena keterangan tersebut melingkar-lingkar, tanpa ada pangkal dan ujung yang jelas. Hal itu boleh jadi mengindikasikan anak ingin (tetap) terlihat “bersih” di mata orang lain.

Dalam menangani persolan ada yang dapat diselasaikan tanpa melibatkan orang ketiga, seperti yang dialami anak pertama. Berbeda dengan yang dialami anak kedua, karena bukan mustahil akhirnya harus menghadirkan orang ketiga. Hanya, orang ketiga yang dihadirkan belum tentu memberi kontribusi dalam menemukan solusi. Boleh jadi konfliknya malah semakin menjadi-jadi karena orang ketiga kurang proaktif dalam memberikan keterangan.

Tidak sedikit orang ketiga (yang umumnya orang tua) memberikan “perlindungan” terhadap anaknya ketika menghadapi konflik. Di sekolah, saya sering menghadapi orang tua yang terkesan menutup-tutupi kelemahan anaknya. Yang ditonjolkan di depan guru sering sisi-sisi baiknya saja. Sementara sisi-sisi buruk anak sengaja disembunyikan. Hal itu boleh jadi karena orang tua hanya ingin menjaga prestise diri, baik pribadi maupun keluarga.   

Bukan tidak mungkin dampaknya semakin buruk pada anak karena anak merasa memperoleh tempat “berlindung” dan merasa ada yang “membela”.  Sehingga sekalipun berperilaku kurang benar (bahkan salah sama sekali, misalnya), ia merasa “bersih” dan tidak pernah merasa bersalah. Bisa jadi perilaku yang demikian itu akan terus “dilestarikan” bahkan tidak mustahil semakin payah.

“Kesaksian” teman, guru, atau siapa saja yang bermuatan kurang baik terhadapnya boleh jadi dianggapnya bohong. Justru tidak menutup kemungkinan ia membalik fakta. Teman, guru, atau siapa saja  yang memberi “kesaksian” dibilangnya telah menyampaikan fitnah. Jika demikian yang terjadi anak tersebut jelas terjerat konflik yang semakin sulit dilepaskan.

Satu-satunya cara yang dapat melepaskan jerat konflik itu adalah orang tua harus mau mengakui “kenyataan” anaknya. Mau terbuka tentang keberadaan anaknya, baik buruk maupun baiknya. Karena “keterbukaan” orang tua merupakan langkah awal membangun kerja sama dengan guru/pembina/pembimbing anak. Kerja sama yang dilandasi saling memercayai akan dapat membantu anak dari jerat konflik.

1 komentar:

  1. memang tdk mudah utk membangun karakter anak, pak. ada banyak faktor yang bermain, salah satu di antaranya ortu yang suka bersikap "over-protektif" terhadap anak2 yang berperilaku menyimpang demi menjaga nama baik si ortu.

    BalasHapus

""