Sabtu, 29 Oktober 2011

Menghangatkan


Sore hari, sehabis mandi, menjelang malam, satu keluarga berkumpul memunculkan keindahan tersendiri. Apalagi berkumpul dalam aktivitas rohani bersama. Membaca Alkitab bersama, berdoa bergantian, dan memuji kemuliaan Tuhan, sungguh menghangatkan suasana keluarga.

Si bungsu yang belum seberapa memahami maksud berkumpul, itu membawa Alkitab, dengan riangnya. Membuka-bukanya meski tidak membaca karena memang belum dapat membaca. Tetapi perilaku yang rohani itu sungguh menggemaskan. Mulutnya yang komat-kamit seperti gerak bibir orang sedang membaca dilakukannya. Terlihat lucu dan membuat kami semakin gemas.

Apalagi ketika kami sedang bernyanyi, ia sungguh bersemangat. Kami bernyanyi memang tidak memilih lagu-lagu yang menjadi selera kami, yang dewasa, tetapi lagu-lagu yang kami nyanyikan pilihan si bungsu. Kami memang menawarkan memilih lagu kepada si bungsu. Lagu-lagu yang si bungsu bisa kami mengikutinya. Kami akhirnya menyanyi sedikit terbawa ke dalam suasana si bungsu menyanyi. Mengikuti gaya anak-anak, terutama yang paling jelas terasa adalah gaya suara kami. Walau sedikit agak keluar dari “aturan” ketukaan berirama, kami tetap berusaha menikmatinya.

Itu yang membuat, salah satunya, si bungsu akhirnya betah dalam aktivitas rohani saat itu. Bersikap tidak tenang, senang toleh ke sana tengok  ke sini, itu memang karakteristik anak-anak pada umumnya yang harus kami hargai. Karena menghargai kekhasannya itu berarti memberi ruang bagi dirinya untuk tetap berada di tengah-tengah kami.

Dan itu berarti kami dapat melibatkannya secara persuasif dalam aktivitas. Tidak memaksanya. Sehingga ketika kakaknya mendapat giliran membaca salah satu bagian teks dalam Alkitab, ia tetap mengikuti dengan wajar, tidak merengek-rengek serupa hendak beraktivitas lain. Bahkan ketika saya membaca teks renungan yang telah dipersiapkan gereja, ia tetap berada di tengah-tengah kami. Saya membaca memang agak sedikit berbeda dengan kebiasaan membaca. Membaca dengan sedikit agak lucu agar si bungsu kerasan mengikuti. Dan itu terbukti membawa si bungsu tetap betah di tengah-tengah kami sampai akhir saya membaca teks renungan itu. Kegiatan kami berlangsung tanpa terganggu.

Pun ketika kami berdoa bergilir. Si bungsu, yang semula tidak mendapat giliran berdoa, oleh ibunya ia diberi kesempatan untuk bedoa. Sekalipun kami mengerti bahwa si bungsu belum dapat berdoa seperti yang dilakukan oleh kakaknya. Saya pikir, ibunya benar mengambil langkah itu. Bukankah itu bagian pembelajaran yang memang harus diterapkan sejak usia dini? Si bungsu toh akhirnya memang berdoa, sekalipun baru sekata terucap ia berhenti. Akhirnya saya membantunya sekata demi sekata untuk ditirukan sampai selesai. Yang terlihat, si bungsu mampu berdoa walaupun tidak serupa kakaknya sedang berdoa.

Suasana serupa itu yang membahagiakan kami, terutama saya dan ibunya. Berkumpul dalam suasana yang menghangatkan jiwa, batin, dan akal budi, sekaligus membangun karakter anak-anak. Saya merasakan itu suasana yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan keluarga. Karena terbangun keakraban, keterbukaan, dan kebersamaan yang terkemas dalam aktivitas sederhana. Si bungsu menjadi semakin dewasa dan mendewasakan kami sebagai insan sosial dan personal.   

1 komentar:

  1. Jadi ingat telah cukup lama saya dan keluarga tidak kumpul bareng dalam suasana ritual semacam itu, terakhir Idul Fitri kemarin.
    Salam kekerabatan dari Pekalongan.

    BalasHapus

""