Selasa, 11 Oktober 2011

Tak Suka Memanjakan Pengemis

Jumat (7/10) sore, sepulang mendampingi anak-anak ekstra teater di sekolah, di sebuah perempatan jalan, yang biasa digunakan mangkal para peminta-minta, saya didekati seorang anak peminta-minta. Anak tersebut sering saya jumpai di tempat itu. Sendiri atau dengan teman-temannya, bahkan tidak jarang bersama ibunya. Sekalipun ibunya sering berada di bagian jalan lain di sekitaran perempatan itu.

Saya tidak tahu persis mengapa ibunya lebih sering berada di bagian lain. Tidak bersama anaknya, yang menurut perkiraan saya baru berumur enam tahunan itu. Anaknya dibiarkan sendiri. Meminta sana-meminta sini, di antara lalu lalang motor. Akan tetapi sekalipun tempatnya agak berjauhan, mereka masih saling berkomunikasi. Bahkan tidak jarang ibunya tanpa segan-segan (dari kejauhan) menunjukkan anaknya akan pengendara motor yang dimungkinkan bisa “dimintai” ketika lampu bangjo sedang menyala merah.  Terlihat anaknya menurut saja “perintah” ibunya.

Ya boleh jadi ibunya/orang tuanya berada di lokasi lain hanya sebagai sebuah taktik belaka. Maksudnya, dengan tidak terlihatnya orang tua di dekat anak, “daya sentuh” anak saat meminta-minta diperkirakan lebih mengena. Sehingga setiap sasaran lebih mudah beriba hati, yang akhirnya mengulurkan uang untuk mereka. Tentu berbeda dengan ketika anak masih didampingi orang tua saat meminta belas kasihan. Para sasaran bukan mustahil akhirnya malah mencuekin mereka. Bahkan memaki dalam hati terhadap orang tua yang mendampingi anaknya mengemis itu. Lebih-lebih yang dengan sengaja menggendong (bawah tiga tahun) batita untuk mengambil hati sasaran. Tidak mungkin para sasaran mengulurkan uang untuk mereka.

Sebaliknya, para sasaran (malah) benci terhadap kenyataan itu. Orang tua yang masih demikian sehat kok tidak mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang mandiri, berpikir positif, kreatif, dan beraktivitas secara layak. Orang tua malah membunuh masa depan baik anak-anak. Karena anak-anak dibiasakan bersikap bergantung pada belas kasihan orang lain.

Anak-anak menjadi pasif. Tidak mau berusaha. Atau katakanlah ikhtiarnya hanya meminta-minta. Dan jelas hidup begitu tidak membangun karakter. Anak-anak akan menjadi keras, brutal, dan tidak menghargai norma jika mereka tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Mereka akan bertindak apa saja. Bahkan boleh jadi sekalipun masih anak-anak telah terbiasa hidup dengan cara menipu.

Perihal menipu itulah yang saya tangkap dalam diri anak yang mengemis pada Jumat sore itu. Betapa tidak, ketika itu, ia meminta uang kepada saya alasannya untuk keperluan sekolah. Tetapi saya yakin, anak itu meminta-minta uang di perempatan jalan tersebut, yang hampir setiap waktu dilakukan, hasilnya tidak akan digunakan untuk keperluan sekolah. Bagaimana ia sekolah kalau setiap harinya terus berada di jalanan? Anak seusianya jika mau sekolah tidak perlu banyak biaya. Pemerintah sudah memberikan dana BOS untuk meringankan beban sekolah anak-anak. Jadi, kalau anak itu meminta-minta, yang uangnya katanya digunakan untuk kepentingan sekolah rasanya kok mengada-ada.

Cara itu dipakai untuk meluluhkan hati para sasaran, saya yakin, telah diajarkan oleh orang tuanya. Ya orang tua mereka seakan-akan telah menjadi sutradara. Menyuruh anaknya untuk bergaya saat meminta-minta. Baik dari segi bahasa yang digunakan maupun tingkah laku. Dengan gaya yang telah dibuat-buat mereka harapkan para sasaran jatuh iba. Lantas bermurah hati memberikan uang.

Tetapi tampaknya masyarakat telah mengerti gaya-gaya demikian itu. Sehingga banyak para sasaran yang mengabaikannya. Kalau ada pengendara motor lantas merogoh saku dan mengulurkan recehan atau selembar ribuan, boleh jadi mereka orang yang baru melewati jalan itu. Orang-orang yang baru inilah yang sering menjadi sasaran mereka.

Bagi masyarakat sekitar, yang setiap harinya melewati jalan itu, sepertinya telah dihapal para peminta-minta tersebut. Sehingga mereka (para peminta-minta)  tidak mau meminta. Sekalipun kendaraan telah berhenti mepet dengannya ketika lampu bangjo berwarna merah, peminta-minta (anak-anak maupun orang tua) tersebut menghindar. Mencari pengendara lain yang dipandang dapat memberi uang.  

Saya termasuk orang yang sering dihindari peminta-minta di perempatan jalan itu. Mereka sepertinya sudah hapal benar diri saya. Bahkan hapal betul motor saya (ketika saya masih sering mengendarai motor). Sehingga sekalipun suatu kali saya berhenti persis berada di dekatnya saat lampu menyala merah, tidak ada di antara mereka yang mendekati saya, untuk meminta-minta. Seolah-olah mereka alergi terhadap diri saya. Ya barangkali saya memang termasuk orang yang tidak suka memanjakan pengemis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""