Minggu, 27 November 2011

Belajar yang Terinspirasi


Begitu acara pemahaman Alkitab di rumah selesai, orang-orang sudah meninggalkan rumah untuk pulang ke rumah masing-masing, saya langsung meringkas-ringkas peralatan yang habis digunakan. Kegiatan serupa itu memang sering kami lakukan dengan lesehan di tikar yang digelar di ruang tamu. Di ujung acara telah menjadi kebiasaan ada jamuan kecil-kecilan. Jamuan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Kadang ada makan besar, ada jajan-jajan, tetapi kadang juga hanya jajan-jajan saja. Teh sebagai minuman sudah menjadi tradisi suguhan dalam acara semacam itu. Nah, perkakas-perkakas semacam itulah yang harus kami ringkas/beresi.

Pertama, saya harus mengambil barang-barang pecah-belah (piring dan gelas) yang di dalamnya tersisa makanan dan minuman yang tidak habis karena kenyang (barangkali) atau bungkus jajan atau kulit pisang dan kacang. Pisang dan kacang sering menjadi suguhan favorit dalam setiap acara begini. Bungkus jajan atau kulit pisang dan kacang, yang boleh dikatakan sebagai sampah itu, saya kumpulkan untuk dibuang ke tempat sampah. Tinggal piring-piring dan gelas-gelas kotor itu harus dibawa kebelakang, ke tempat cucian piring. Di sinilah si bungsu mulai ikut berperan. Satu dua barang pecah-belah itu dia bawa ke tempat cucian piring. Berkali-kali. Karena sekali membawa jumlahnya tidak banyak seperti orang dewasa. Paling-paling di tangannya hanya ada satu piring atau dua gelas. Jadinya, ia bolak-balik. Namun, terlihat begitu senang ia melakukannya. 

Si bungsu melakukan itu tidak sendirian. Ia dibarengi saudara sepupunya yang usianya sedikit lebih tua, yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Mereka berdua melakukan perbuatan meringankan tugas orang tua itu dengan sangat gembira. Kegembiraan mereka tecermin dari wajah-wajah kecil ceria mereka sekalipun harus bolak-balik dari ruang tamu ke dapur dan sebaliknya. Saya melihat karena berdua itulah mereka begitu semangat membantu. Bahkan, mereka cenderung menunjukkan semangatnya itu serupa orang sedang menghadapi lomba. Inilah sebagian dunia kanak-kanak yang menarik untuk dicermati.  

Tidak hanya membantu mengambili piring dan gelas, mereka berdua juga ikut membantu melipat-lipat tikar yang habis kami pergunakan untuk acara tersebut. Tikar yang ukurannya relatif besar bagi mereka, yang tidak mungkin dilipatnya sendiri (seperti yang dilakukan oleh orang dewasa), dilakukannya berdua. Caranya, saya sendirian di ujung satu; mereka berdua di ujung satunya. Yang unik, mereka tidak saling berebut, tetapi si bungsu pegang ujung yang satu dan sepupunya memegang ujung yang lain, lantas ujung-ujung itu disatukan. Cara begitu, tidak saya tunjukkan terlebih dahulu. Mereka ternyata sudah mengetahui. Ya itu tentu saja kecerdasan yang diperoleh dengan melihat-lihat ketika ada orang melipat tikar atau sejenisnya. Mereka terinspirasi. 

Kanak-kanak memang ada yang begitu ringan tangan untuk mau membantu kegiatan-kegiatan orang tua semacam itu, baik sendirian maupun bersama temannya. Si bungsu termasuk tipe anak yang suka membantu. Sekalipun tidak ada temannya (kebetulan kali ini ada saudara sepupunya), ia tetap suka membantu pekerjaan ibunya. Misalnya, ketika  ibunya sedang menyeterika. Ia membantu memilih-milih pakaian yang kecil-kecil untuk didahulukan diseterika karena memang ibunya sering melakukan cara begitu. Menyeterika yang kecil-kecil dahulu kemudian menyusul yang besar-besar. Ibunya sedang memasak, ia pun membantu, mengiris-iris sayuran,atau apalah. Pokoknya ketika ibunya, kadang juga saya, sedang melakukan sesuatu, ia ingin membantu. Sekalipun kadang bantuan yang diberikan itu tidak selalu sesuai dengan keinginan kami. Tetapi itulah kenyataan bahwa ada beberapa kanak-kanak yang memiliki tipe suka membantu.

Hanya, tak sedikit pula kanak-kanak yang tidak suka melakukan kegiatan-kegiatan semacam itu. Sekalipun mereka melihat (dari dekat) orang tuanya atau siapa saja melakukan kegiatan, ia diam saja. Malah melihat dari jauh. Atau, bersibuk ria dengan aktivitasnya sendiri. Memang ada tipe-tipe yang begitu pada usia kanak-kanak. Ada yang malas turut ambil bagian, ada yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.  Dalam satu saudara kandung saja, kakak beradik, katakanlah begitu, dapat memiliki sikap yang berbeda dalam merespon orang yang sibuk (entah orang tua atau orang lain) beraktivitas. Ada yang segera mau mengambil peran seperti si bungsu, ada juga yang cuek bebek.

Yang mengambil peran seperti si bungsu barangkali dapat dibilang termasuk kanak-kanak yang mau belajar karena terinspirasi orang lain. Begitu melihat orang lain aktif, ia ikut-ikut aktif. Mau belajar dari yang orang lain lakukan. Saya tidak pernah membaca buku-buku teori tentang mau belajar karena terinspirasi, tetapi saya berani mengatakan bahwa kanak-kanak yang demikian (belajar karena terinspirasi) pertumbuhan kognitif dan motoriknya  relatif baik. Boleh jadi (malah) pertumbuhannya lebih baik jika dibandingkan dengan tipe kanak-kanak yang hanya diam atau cuek terhadap aktivitas yang orang lain lakukan, tentu terkecuali mereka yang (memang) suka sibuk dengan aktivitasnya sendiri.

2 komentar:

  1. memang benar, kalau kita melihat ada sesuatu hal yang baik pasti akan membuat kita terdorong untuk belajar mengenainya.
    paling tidak, kita tahu apa yang menarik itu dan bagaimana cara kerja dan cara pembuatannya.

    BalasHapus
  2. Ya belajar yang demikian itu umumnya lebih berhasil dan mudah meraih prestasi gemilang.

    BalasHapus

""