Selasa, 29 November 2011

Jembatan Itu Kita

Beberapa hari yang lalu kita dikagetkan runtuhnya jembatan yang melintas di atas Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Kaltim). Jembatan yang panjangnya 710 meter itu dibangun sejak 1995 dan selesai 2001. Dalam masa usia yang boleh dibilang masih sangat muda itu rupanya ia harus "wafat" terlebih dahulu sebelum cukup lama membahagiakan banyak warga yang memanfaatkan jembatan tersebut. 

Padahal, didasari atau tidak, lahirnya jembatan itu tentu saja menjadikan daerah-daerah yang dahulu tidak dapat terjangkau, akhirnya terjangkau. Daerah yang terisolasi menjadi daerah yang terbuka. Akses yang demikian akan memberi banyak kesejahteraan bagi warga. Katakanlah yang dahulu (sebelum ada jembatan) mau bepergian saja harus menyeberang Sungai Mahakam, kini sudah semakin mudah. Tidak harus berlama-lama dan repot. Dengan adanya jembatan itu, aktivitas semakin efektif, praktis, dan efisien.

Kesejahteraan itu dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Baik yang miskin maupun yang kaya. Semua mendapatkan rasa sejahtera  dari jembatan yang ada. Petani-petani lebih mudah menjual hasil pertaniannya. Para pedagang lebih gampang bermobilisasi untuk berdagang. Pegawai-pegawai lebih lancar melakukan aktivitas kerjanya. Anak-anak sekolah pun mudah mencapai sekolah dan rumah. Bukankah itu artinya jembatan memberi kemudahan bagi banyak orang?

Hanya memang, jembatan yang memberi kemudahan semacam itu hanya jembatan-jembatan yang berkualitas. Jembatan yang kuat. Jembatan yang terbuat dari unsur-unsur yang bermutu tinggi. Sebaliknya, jika jembatan itu tersusun dari bagian-bagian yang kualitasnya rendah, pastilah kurang baik juga. Semen berkualitas jelek, batu bermutu buruk, besi berkualitas nomor sekian, dan sebagainya, yang boleh jadi menjadikan jembatan itu tidak lama bertahan untuk memberi kemudahan bagi banyak orang. Bahkan, sebaliknya membuat banyak orang menderita.

Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar), Samarinda, Kaltim, sebagai contohnya. Runtuhnya jembatan itu memakan banyak korban, baik jiwa maupun harta benda. Jembatan yang seharusnya memberi kenikmatan bagi banyak orang, oleh karena kualitasnya kurang baik, dapat menghantarkan banyak orang ke jurang kesengsaraan.  Itulah jembatan yang kurang berkualitas. Tidak akan memberi  makna bagi banyak orang yang seharusnya memanfaatkannya.  

Sejatinya, kita seumpama jembatan. Bukankah kita juga tersusun dari sekian banyak elemen, yang dapat memungkinkan kita menjadi bermanfaat bagi banyak orang? Katakan, kita dapat berkualitas jika kognitif, afektif, dan psikomotorik kita terbangun secara bermutu. Jika ketiga unsur itu ada pada diri kita dalam keberadaan yang optimal, kita pasti menjadi sebuah bangunan yang kokoh dan kuat. Kekokohan dan kekuatan itu dapat menjadikan kita akhirnya dapat berbagi bagi orang lain. Orang-orang lain, melalui kita, dapat merasakan kebahagiaan. 

Itulah sebabnya, kita harus menjadi berkualitas. Apalagi insiyur yang membangun kita adalah insiyur yang penuh kuasa, yakni Sang Khalik. Insiyur yang tidak perlu diragukan lagi kehebatannya. Dan karenanya, kita pasti bisa menjadi “jembatan manusia” yang berkualitas itu, yang akhirnya dapat menjadi akses banyak orang yang membutuhkan. Memberi kemudahan bagi orang lain. Bermakna bagi orang lain. Siapkah kita menjadi jembatan hidup, yang memberi “hidup” bagi sesama?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""