Senin, 28 November 2011

Kangen


Sudah lama memang kami tidak pernah main-main ke rumah saudara. Itu terjadi karena kesibukan kami. Sehingga, keinginan untuk berkunjung selalu tertunda. Akan tetapi, bagi si sulung sepertinya keinginannya tidak dapat ditunda lagi. Sudah minggu yang lalu sebenarnya si sulung ingin ke rumah sepupunya. Hanya, karena saya tidak dapat mengantarkannya akhirnya batal bermain. Nah, Minggu kemarin (27/11), sehabis ikut kegiatan ibadah remaja di gereja, begitu ia keluar dari pintu gerbang gereja, langsung menyampaikan keinginannya yang telah tertunda seminggu itu kepada saya. Meminta saya mau mengantarnya ke sepupunya. Katanya, ia telah begitu kangen.

Kangen dapat saja menerpa siapa pun. Tidak mengenal batasan. Baik tua maupun muda, baik wanita maupun laki-laki, baik kanak-kanak, remaja, maupun pemuda, baik orang desa maupun kota, baik orang miskin maupun kaya, dan sebagainya. Siapa pun, sekali lagi, dapat disergap rasa kangen. Kangen terjadi karena sudah sangat lama tidak berjumpa dengan yang dikangeni. Menghilangkan rasa kangen tentu saja dengan membangun pertemuan. Dengan bertemu orang yang dikangeni (dirindu), rasa kangen itu akhirnya bisa hilang.  

Mungkin baru saja sebatas bertemu, saling berjabat tangan, bertatap muka, rasa kangen sudah mulai meluntur. Baru saja sebatas melihat wajah dan tubuh, rasa kangen yang menggebu dapat berkurang. Apalagi jika pertemuan itu dilanjutkan dengan berbagai aktivitas dengan berbincang-bincang santai, dapat dipastikan rasa kangen itu akan lenyap dari perasaan. 
Rasa kangen itu ditunda-tunda, seperti yang dialami si sulung, dipastikan mengganggu pikiran. Boleh jadi akhirnya belajar saja tidak jenak, makan tidak enak, tidur terganggu, kegiatan apa pun yang dilakukan tidak maksimal karena pikiran tidak tenang. Kangen yang tidak tersalurkan dapat melemahkan produktivitas diri. Apalagi kangen bertemu pacar, misalnya, lebih hebob lagi. Karenanya boleh jadi kangen bertemu pacar dampaknya lebih berat dibandingkan dengan kangen bertemu saudara. Bisa-bisa mau melakukan apa saja rasanya tidak nyaman.

Karena berpikir demikian, saya akhirnya menyetujui si sulung untuk mengantarnya ke rumah sepupunya. Dari gereja langsung menuju ke sepupunya. Tidak pamitan dengan ibunya terlebih dahulu. Saya pikir perihal pamitan sekarang ini sangat mudah dilakukan karena ada berbagai alat komunikasi yang dapat digunakan. Lewat SMS saja, pamitan dapat dilakukan. Ya begitulah, akhirnya saya mengantarnya.

Sudah menjadi semacam tradisi, entah karena apa, setiap bermain ke rumah saudara selalu membawa sesuatu yang dapat dinikmati bersama. Sering-sering yang dibawa berupa makanan. Entah jenis makanan ringan atau buah-buahan, yang sekarang ini banyak dijajakan di pinggir-pinggir jalan sehingga begitu mudahnya kita menjangkau, atau yang lain. Pokoknya kalau sudah membawa sesuatu rasanya lebih tenang di hati. Barangkali itu karena sudah menjadi tradisi. Apalagi jika di keluarga yang dikunjungi itu ada anak-anak, membawa sesuatu sepertinya sebuah keharusan. Boleh jadi sesuatu yang dibawa tadi sebagai simbol tali persaudaraan yang menandakan hubungan begitu erat dan menyatu, tak ubahnya seperti keluarga sendiri.
 Dan biasa, ketika sudah sampai di rumah saudara, tentu selalu disambut dengan pernyataan “kok repot-repot”. Maksudnya, dengan membawa sesuatu itu dianggap merepotkan diri. Basa-basi semacam itu sudah lazim. Itu juga bagian dari sebuah kebiasaan bukan? Rasanya kalau tidak mengucapkan pernyataan semacam itu kurang lengkap. Bisa jadi dianggap nilai perhatian kurang. Ya kalau sudah demikian, pertemuan menjadi terkesan lebih enak, cair, tanpa beban, dan hangat.

Akhirnya rasa kengen-kangenan dapat segera terobati karena komunikasi mulai terbangun. Bicara ini-bicara itu. Saking banyaknya yang dibicarakan sering-sering materi pembicaraan loncat sana-loncat sini. Tidak runtut. Akan tetapi, memang begitulah yang terjadi. Semua keinginan yang beberapa waktu tersumbat, akhirnya dapat tersalurkan. Seperti di awal tulisan ini telah disinggung, sentuhan-sentuhan fisik (bertatap muka, berjabat tangan, berpelukan, cipika-cipiki, dan lainnya) pun menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan dalam melepas rasa kangen. Rasa kangen dapat dibayar dengan komunikasi verbal dan sentuhan fisik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""