Kamis, 24 November 2011

Kecerdasan Masa Kecil


Rintik-rintik hujan sejak sore tadi sesungguhnya mengingatkan saya akan masa kecil dulu. Entah mengapa hujan yang demikian itu mampu menghipnotis pikiran saya menjadi demikian melankolis. Mengingat masa kecil yang boleh dibilang tidak sepenuhnya bahagia. Ketidakbahagian itu sepertinya kurang pantas saya ceritakan di sini sebab-musababnya. Saya berpikir lebih baik begitu daripada saya ungkapkan secara terus terang di blog ini kalau pada akhirnya membuat kurang nyaman benak ini. Barangkali Anda ingin mengetahui seperti apa (to, bahasa Jawa) sebab-musababnya sampai-sampai tidak dipublikkan. Sudahlah tidak perlu dibayang-bayangkan nanti malah tidak baik, membuat dosa saja kalau berusaha menduga-duga.

Yang jelas saya tidak egois dengan tidak hendak menceritakan sebab-musabab kurang bahagianya saya di masa kecil dulu. Tidak. Saya tidak ingin seenaknya sendiri. Saya hanya ingin menjaga agar sesuatu tetap berlangsung baik-baik saja. Baik bagi saya juga baik bagi semuanya. Itu saja, tidak ada yang lain. Toh kalau tidak bagian itu yang diceritakan, tetap ada bagian lain yang bisa saya bagikan di sisni. Bagian yang boleh dibilang sisi-sisi (sempit) bahagia di masa kecil.

Saya tetap merasa bahagia sekalipun tidak banyak dan panjang bila diukur dengan ukuran volume dan panjangnya. Kebahagian itu adalah manakala saya bersama teman-teman “seperjuangan” masa kecil bermain bersama di sela-sela kami membantu orang tua mencari kayu bakar atau merumput untuk ternak kami. Permainan yang paling mengesankan adalah sepak bola, yang sering kami lakukan di lahan yang agak luas, yang berada persis di lingkungan sekolah kami.

Tentu saja permainan kami itu tidak mengganggu kami belajar di sekolah sebab permainan itu kami lakukan di sore hari setelah sebelumnya kami beraktivitas seperti yang telah saya singgung di atas. Mencari kayu bakar atau merumput. Permainan itu semakin mengasyikkan jika sudah mulai muncul bulan di salah satu bagian hamparan langit. Mengasyikkan karena yang seharusnya sudah gelap oleh karena sinar rembulan, bola masih dapat kami tendang sana tendang sini. Mata-mata kecil kami masih begitu tajam melihat. Sehingga ke arah mana pun si kulit bundar itu menggelinding kaki-kaki kami masih cerdas menghalau. Sering tidak memedulikan adzan yang sudah menggema dari corong yang dipasang tinggi-tinggi dengan batang bambu kering di samping mushola. Kami tetap asyik bermain sampai entah, tiba-tiba kami berhenti sendiri dan pulang beriringan di jalan tanah yang sering kami lewati pergi dan pulang sekolah ketika pagi dan siang.

Sekalipun kami sampai di rumah sudah malam, yang ditandai lampu-lampu di rumah sudah menyala, orang tua kami tidak marah. Benar tidak marah. Mereka paling-paling bertanya kok sampai malam. Begitu saja. Kami dapat dengan mulus masuk rumah. Kami mengerti orang tua kami tidak marah karena kami dianggap anak-anak yang rajin. Buktinya, hingga sudah malam, saat pulang masih memanggul ikatan kayu bakar atau rumput dalam keranjang. Itulah kecerdasan kami, yang tidak pernah sedikit pun kami pelajari di bangku sekolah.

Kenyataan bahwa orang tua kami tidak pernah marah sekalipun kami “nakal”, bukan cerita bualan. Akan tetapi, kenyataan senyata-nyatanya. Saya mengetahui hal itu karena terbukti kami masih dapat berkumpul bersama setiap sore dalam bermain bola hingga malam, ketika rembulan sudah mulai muncul di angkasa. Tidak pernah di antara kami, misalnya, ada yang bercerita dimarahi orang tua gara-gara pulang malam nyaris hampir setiap hari.

Sepertinya orang-orang tua kami tidak merasa kalau kami sebetulnya bermain-main dulu sebelum pulang. Mereka berpikir kami memang menggunakan sepenuh waktu itu untuk mencari kayu bakar atau merumput. Pikiran positif mereka membuat kami bahagia karena kami, terutama saya, dapat menikmati masa-masa kecil. Kebahagiaan semacam itu sungguh menghibur saya sekalipun hanya beberapa waktu.

Hal yang pasti (ada pada kami) adalah kami tidak memiliki niatan membohongi orang tua kami dengan cara-cara seperti yang saya ceritakan di atas. Kami hanya ingin dapat bermain-main dengan leluasa sesenang-senangnya di sela-sela waktu yang sekalipun kami hidup di desa senantiasa disibukkan membantu orang tua. Bukankah dengan cara begitu beberapa hal dapat terlalui dengan baik? Kami dapat bermain, membantu orang tua, dan yang paling kami rasakan adalah masih dapat menikmati kebahagiaan di masa kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""