Selasa, 01 November 2011

LPMP dalam Catatan 1


Catatan ini saya tulis di kamar nomor 15 Lantai III Wisma 3 Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Jalan Kyai Maja, Srondol Kulon, Semarang.  Saat sedang istirahat setelah menerima materi hari pertama, siang. Sembari menanti teman sekamar yang masih mencari makan karena datangnya agak terlambat. Keterlambatan itu berdampak pada habisnya jam makan di LPMP karena memang waktu jam makan siang telah terlewati. Sekalipun saya yakin makanan yang disajikan tadi masih ada.

Peristiwa serupa pernah saya alami ketika mengikuti Training of Trainers (ToT) In Service 1, beberapa bulan lalu. Saat itu saya datang terlambat. Saya tidak menyadari kalau datang terlambat berisiko tidak mendapat pelayanan makan. Padahal, saya ketika berangkat tidak makan terlebih dahulu. Berharap begitu sampai di LPMP masih ada pelayanan makan. Nah ternyata tidak ada. Jadi, waktu itu saya pun “bergerak” seperti teman saya kali ini. Mencari makan di luar LPMP alias njajan di warung makan. Barangkali inilah risiko yang memang harus ditimpakan kepada orang yang kurang “menjaga” disiplin waktu.

Sayang ketika itu saya hanya mendapati warung makan yang menyediakan soto karena saya memang tidak mencari-cari warung makan. Sekali ketemu warung itu, ya sudah, langsung masuk dan pesan. Barangkali hampir tutup, sehingga saya mendapat soto yang boleh dibilang kurang sehat. Nasinya sebagian ada yang keras, seperti telah mengering. Namun tetap saya makan daripada perut berbunyi terus.  Hanya, selera makan memang berkurang.

Teman saya sepertinya lebih beruntung karena begitu saya telepon ia bilang sedang berada di warung mi ayam. Tentu segar karena mi ayam pasti masih dalam kondisi baru dimasak. Hangat dan sangat mengundang gairah makan. Benar apa yang saya duga. Begitu teman saya masuk ke kamar, ia terlihat ceria. Yang saya kira sekalipun tidak seluruhnya benar, kebahagiaannya boleh jadi disebabkan (agak mengada-ada) habis makan mi ayam.

Namun begitu sudah masuk ke LPMP mengikuti kegiatan dari jam ke jam setiap hari, dipastikan tidak akan “kekurangan” makan. Ruang Makan selalu siap sedia ketika jam waktu makan tiba. Kami berjajar-jajar rapi antre hendak mengambil menu yang telah terhidangkan di meja panjang. Saya melihat, porsi makan setiap individu berbeda. Ada yang mengambil banyak, ada yang sedikit. Menurut kebiasaan dan ukuran makan masing-masing. Dan, sepertinya di antara kami tidak ada yang mempergunjingkan hal tersebut. Mau makan banyak atau sedikit atau bahkan tidak makan sama sekali, misalnya, hanya duduk-duduk saja menemani teman yang sedang lahap menyantap makanan, tidak menjadi soal. Sebuah kemerdekaan terjadi di ruang ini.

Sekalipun di antara kami tidak selalu saling mengenal, kami saling bersapa-tegur ketika berjumpa, berpapasan, dan berkerumun. Keakraban terwujud di sini. Membangun “keluarga baru” yang bukan keluarga biologis, tetapi keluarga sosialis.  Keluarga yang terbangun oleh karena hubungan sosial sekalipun kami berasal dari latar belakang yang berbeda, baik budaya, kebiasaan, (mungkin ada suku), daerah, agama, maupun adat. Semua terbangun dalam hubungan kekeluargaan yang saling menghargai.

Dengan begitu sekalipun kami jauh dari keluarga beberapa hari ini cukup terhibur. Hiburan yang lebih variatif karena berasal dari latar belakang yang berbeda. Apalagi ada hal-hal baru yang dapat diadopsi atau adaptasi terkait dengan aktivitas pembelajaran. Bagaimana teman-teman mengajar dengan stil yang berbeda satu dengan yang lain. Model-model mengajar yang dipraktikkan. Cara berbicara di depan peserta didik ketika mengajar. Itu semua dapat kami temukan di “keluarga baru”, yang boleh jadi dapat menjadi harta baru untuk dapat kami terapkan di sekolah masing-masing.

Di samping itu, tentu saja materi-materi yang disampaikan oleh pengajar dalam ToT in Service 2 ini sangat bermanfaat bagi pengembangan diri dan peserta didik di sekolah. Materi-materi yang bersifat teoritis dan praktis dapat memperbaharui  dan menambah khasanah peran kami sebagai pendidik. Hal-hal itu juga yang dapat memberi hiburan bagi kami. Hiburan yang sekejap dapat menghalangi kerinduan kami, tentu, terhadap kelurga di rumah dan teman-teman seperjuangan serta para siswa di sekolah.

Bagi saya, keluarga, baik istri maupun anak-anak saya, menjadi daya rangsang untuk segera ingin pulang. Menjumpai mereka dalam peluk dan kasih mesra. Yang tentu saja menjadi dambaan teman-teman di “perantauan” LPMP kali ini. Tentu saja ini hanya berlaku bagi kami yang memang berasal dari daerah lain. Sebab, teman-teman yang berdomisili di Semarang tentu mudah untuk selalu membangun komunikasi darat dengan keluarga. Bukankah begitu dekat lokasi LPMP, tempat kami mengadakan aktivitas kali, dengan tempat tinggal teman-teman yang berasal dari Semarang?               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""