Kamis, 24 November 2011

Melihat Anak-anak dalam Kelompok Kerja

Suatu saat di sekolah, kita memberi kesempatan anak-anak untuk mengerjakan tugas secara bersama dalam kelompok-kelompok kecil atau kelompok-kelompok besar. Kelompok kecil beranggotakan dua atau tiga anak, sedangkan kelompok besar beranggotakan lima atau enam anak. Yang dapat kita lihat ketika anak-anak itu mengerjakan tugas secara bersama, muka anak-anak cerah, riang, dan terkesan begitu rileks.

Tentu suasana yang demikain itu yang senantiasa kita harapkan pada diri anak-anak. Karena, dengan suasana cerah, riang, dan rileks, diakui atau tidak, akan sangat membantu anak-anak dapat berpikir dengan cerdas. Dalam suasana yang, katakanlah “cair” semacam itu anak-anak justru sangat mudah melakukan ziarah pikiran ke mana-mana. Sikap kritis dan kreatifnya akan muncul. Dan, itu tentu akan sangat membuka kemungkinan untuk mendapatkan ide-ide yang brilian, yang dapat digunakan sebagai jawaban atas pertanyaan dalam tugas kelompok.
Anak-anak yang biasanya kurang bergairah berpikir saat harus mengerjakan tugas sendiri bukan mustahil ketika ada dalam satu kelompok akhirnya muncul gairah untuk mau berpikir. Teman sebaya yang berada dalam satu kelompok akan lebih dapat memahami pikiran dan perasaan masing-masing. Sehingga, semangat untuk berpacu dalam berpikir dan merenung-renungkan topik/persoalan sangat mungkin terjadi. Dan ini menandakan bahwa sebuah proses pembelajaran yang sesungguhnya sedang terjadi.
Anak-anak dapat saling bertukar pikiran, belajar menghargai pendapat teman, belajar memahami usulan teman, belajar bersikap ikhlas jika pendapatnya tidak diterima dalam kelompok, belajar menolak pendapat teman dengan bahasa yang  mereka kuasai. Jelas, secara tidak terasa, dalam kondisi pembelajaran yang serupa itu terjadi saling asah, asuh, dan asih antaranggota kelompok.

Bukankah mengerjakan tugas secara bersama-sama membuat pekerjaan semakin ringan ditanggung? Anak-anak akan merasa tidak terbeban berat karena persoalan yang dihadapi dipecahkan secara bersama-sama. Jadi, sekalipun anak-anak memikirkan keputusan yang harus diambil, mereka tetap akan merasa senang. Tidak merasa tertekan. Sebab, andai pun salah dalam mengambil keputusan, bukankah akhirnya ditanggung secara bersama-sama? Pada titik ini kondisi mental anak tetap akan “terjaga” dengan baik.

Tentu saja tugas-tugas yang bersifat untuk memperoleh gambaran kemampuan siswa per siswa tidak dapat dikerjakan secara bersama-sama.  Akan tetapi, diakui atau tidak, bekerja sama yang pernah dilakukan dengan baik akan sangat memodalinya untuk mau berpikir lebih maju. Artinya, proses yang dialami dalam kerja kelompok (sedikit banyak) akan memengaruhi siswa per siswa dalam memperoleh hasil pribadi yang maksimal.  Karena, bukan mustahil kegairahannya “belajar” saat ada dalam kelompok tetap akan ada saat siswa bekerja sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""