Selasa, 29 November 2011

Mencatat Memberi Terang


Kalau Anda seorang guru, saya pastikan pernah menjumpai peserta didik Anda yang senantiasa malas mencatat hal-hal penting yang Anda ucapkan. Sekalipun bagi Anda itu semestinya harus dicatat karena penting, peserta didik tersebut malas melakukan. Namun, ia mendengar apa yang sedang Anda ucapkan itu. Seolah ia hanya mengandalkan pendengarannya dalam menangkap materi yang sedang Anda jelaskan. Barangkali ia berpikir bahwa cukup melalui mendengar ia sudah mampu menguasai apa yang dijelaskan guru. Tentu juga berpikir bahwa ia akan mampu mengingat-ingat dalam rentang waktu yang lama.

Tidak menjadi persoalan jika ia memang tergolong anak yang memiliki daya tangkap dan ingat yang relatif baik. Mampu menyimak penjelasan guru dengan baik. Sebab ada kalanya guru harus menjelaskan dengan ceramah. Karena, tidak semua materi disampaikan kepada peserta didik dengan satu metode. Ada yang disampaikan dengan metode eksperimen, bermain peran, diskusi, permainan, dan sebagainya, termasuk ceramah. Bahkan, sekalipun ceramah boleh dibilang sangat konvensional, tetapi keberadaannya tetap dipentingkan karena hampir dapat dipastikan metode ceramah selalu mendampingi metode yang lain. Metode ceramah selalu ada (seberapa pun pendeknya) hadir bersama metode lain.    

Anak-anak yang memiliki kemampuan menyimak dan mengingat baik, metode ceramah tidak rintangan sekalipun ia tidak mencatat. Dan masih ada baiknya sekalipun anak tergolong kurang baik menyimak dan mengingat kalau (saja) ia tetap memiliki kemauan mencatat materi-materi yang diajarkan. Dengan mau mencatat berarti ada upaya untuk mengingat-ingat materi itu. Sekalipun rentang waktunya lama materi itu terus dipentingkan, tetapi karena ada catatan masih dapat dibaca-baca. Melalui membaca-baca itu dipastikan membuka ingatan-ingatan lama, yang barangkali telah terlupakan. Itu artinya bahan catatan menjadi penting adanya lebih-lebih untuk anak yang tergolong mudah lupa.
Yang kurang baik barangkali anak-anak yang tergolong mudah lupaan, tetapi tidak ada kemauan mencatat ketika ada proses pembelajaran berlangsung. Ketidakmauan mencatat itu dapat saja disebabkan oleh kemalasannya dan sikap pengabaiannya terhadap materi. Anak-anak demikian tentu menyadari bahwa dirinya kurang memiliki kemampuan mengingat dalam jangka panjang. Akan tetapi, oleh karena sikap abai dan malasnya itu, mencatat tidak dilakukan. Anak-anak yang demikian umumnya mau mencatat jika guru telah mengingatkan. Jika tidak diingatkan, aktivitas belajarnya kurang maksimal.
 Baru beberapa menit diajarkan bukan mustahil anak-anak tertentu ketika ditanya tidak menjawab. Tidak menjawabnya itu memang dia tidak mengetahui oleh karena kealpaannya (lupa) materi yang baru saja diterangkan. Sekarang ini anak-anak yang berperilaku demikian itu jumlahnya tidak sedikit. Banyak anak yang mudah lupa. Kadang saya berkelakar di kelas kepada anak didik saya tentang mengapa ada kecenderungan anak-anak sekarang ini mudah lupa. Saya katakan, anak-anak sekarang ini lebih menyenangi makanan-makanan yang sedap karena menggunakan bumbu penyedap, seperti moto, miwon, dan penyedap nonherbal lainnya. Bukankah anak-anak suka snack-snack yang gurih oleh karena bumbu yang digunakan? Sekalipun saya tidak pernah mengetahui secara pasti akan keberanan hal itu, tetapi itulah yang saya gunakan berekelakar di hadapan peserta didik. Ini bukan berarti saya memrovokasi anak-anak untuk tidak makan ciki, misalnya. Tidak. Tidak sama sekali. Sekalipun sesungguhnya makan makanan sejenis itu banyak risikonya terhadap kesehatan tubuh.
Anak-anak yang mudah lupa kalau memiliki catatan masih dapat membuka catatan semisal ditanya guru tidak dapat menjawab. Itu masih baik. Hanya memang kebiasaan seperti itu kurang baik kalau dibiarkan terus terjadi pada diri anak. Anak-anak harus mau berlatih dengan rajin untuk menghindari perilaku-perilaku yang bersifat menggantungkan itu. Karenanya, mempelajari catatan di rumah harus ditradisikan.  Sebab, memiliki catatan lengkap pun kalau tidak dimanfaatkan semestinya, catatan itu kurang berguna.
 Catatan, dengan demikian, seumpama dian yang memberi terang dalam kegelapan. Anak-anak yang ketika ditanya guru tidak dapat menjawab (berarti dalam kegelapan); ketika membuka catatan, tertolong dapat menjawab. Bukankah itu namanya memberi “terang” kepada yang mengalami “kegelapan”? Mari senantiasa mengingatkan anak-anak yang  malas merekam penjelasan secara tertulis agar mereka masih memiliki peluang untuk menjemput terang di depan!  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""