Kamis, 24 November 2011

Mengingatkan Anak yang “Memanjakan Diri”


Di dalam kelas boleh jadi kita temukan anak yang telah terbiasa “memanjakan diri”. Kebiasaan “memanjakan diri” ini dimungkinkan telah terbentuk sejak lama. Kadang, oleh karena orang tua kurang memerhatikan pertumbuhan anak, kebiasaan itu di rumah sudah menjadi hal yang lumrah. Apalagi jika orang tua justru sekalipun mengetahui kebiasaan buruk itu, membiarkannya saja. Tentu saja hal itu terjadi bukan karena orang tua ingin menjerumuskan anaknya ke dalam sikap buruk. Akan tetapi, pertama-tama tentu orang tua ingin membangun rasa senang pada diri anaknya.

Hanya memang ketika orang tua ingin menyenangkan hati anak kurang melihat dampak-dampak buruk di kemudiannya. Yang dilihat orang tua sering hanya yang penting anak merasa senang. Padahal, dalam hal demikian, tak jarang anak menyalahgunakan kesempatan itu. Anak dapat saja akhirnya membangun sikap manja dan orang tua oleh karena “sayangnya”, sekalipun yang terjadi seperti itu, tidak memandang sebagai sikap yang bisa buruk. Sehingga yang terjadi semakin lama anak semakin biasa bersikap demikian itu.

Dan bukan tidak mungkin sikap demikian itu akhirnya merambah ke hal-hal lain. Sekalipun anak berada di tengah-tengah orang lain, sikap yang demikian itu bisa terbawa-bawa.  Maka, sangat mungkin kebiasaan itu dapat dijumpai guru di sekolah ketika anak mengikuti proses pembelajaran. Misalnya, ketika guru sedang membahas satu topik dan topik itu sebenarnya sudah pernah dipelajari. Hanya, yang kali berikutnya ini menambah-nambah dan memperdalam penggalian topik. Anak-anak yang sudah terbiasa “memanjakan diri” sangat dimungkinkan “merasa” tidak mengetahui topik itu. Kalau misalnya guru menanyakan kepada seluruh siswa bagian mana yang mereka kurang jelas dengan maksud untuk diterangkan, anak yang terbiasa “memanjakan diri” bukan mustahil justru malah tidak menjawab bagian ini atau itu, tetapi minta semua diterangkan.

Saya menjumpai siswa yang seperti itu di sekolah. Yang saya lihat anak itu tidak mau berusaha dulu mengingat-ingat apa yang pernah diajarkan. Tidak mau mengeksplorasi apa yang dulu sudah pernah didapat. Pikirannya tidak digunakan untuk menjelajah alias pasif. Terkesan tidak mau berpikir agak “keras” untuk menemukan bekal-bekal yang dulu sudah didapat, tapi yang kini (barangkali) “tersembunyi”. Anak yang demikian tentu tidak akan dapat tumbuh dengan maksimal karena cenderung menggantungkan saja. Logika sederhananya, kalau ada orang mau memberi, dia mau menerima. Akan tetapi jika tidak ada yang memberi, dia diam saja. Dan, apa yang sudah dia miliki tidak kembangkan.

Anak yang tergolong demikian harus kita ingatkan. Tidak dibiarkan saja. Dia harus dibantu supaya memiliki motivasi mau berusaha. Tidak “memanjakan dirinya” terus. Sedikit demi sedikit sikapnya harus diubah. Barangkali awalnya akan membuat anak itu “tidak nyaman hati” karena harus diingatkan. Akan tetapi, perjuangannya untuk lebih baik itu tidak akan sia-sia. Dia akan menjadi anak yang kreatif, mau berpikir, mau berusaha, dan berani menghadapi tantangan serta tidak putus asa sekalipun menghadapi persoalan yang rumit. Kesadaran bahwa selama ini sikap dirinya tidak benar akan dia mengerti.

Dan, itu tentu bagian yang menyenangkan kita (baik guru maupun orang tua). Membangun sikap untuk bertumbuh melalui upaya mengingatkan telah berhasil bukan? Tentu, perjuangan kita tidak hanya pupus sampai di sini sebab masih banyak anak serupa yang menanti kehadiran kita untuk peduli mengingatkannya. Selamat untuk senantiasa mengingatkan anak-anak yang “memanjakan diri”!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""