Kamis, 10 November 2011

Mimpi, Membangun Hiperpendidikan


Barangkali memang sudah zamannya. Orang atau lembaga memuja kepentingan materi. Hal itu ditandai dengan adanya pembangunan daerah  yang mengorientasi pada ranah bisnis. Di kabupaten/kota mudah dijumpai pusat-pusat perdagangan, baik yang sudah sejak lama ada maupun yang sekarang baru dibangun. Bahkan, sekarang ada kecenderungan pusat-pusat perbelanjaan  yang sedang dibangun ukurannya kelewat besar. Kalau sepuluh tahun yang lalu, berkembang supermarket, untuk menyebut pasar besar yang menyediakan berbagai kebutuhan orang dengan cara swalayan (melayani sendiri), kini, muncul Hypermarket (hypermart). Tentu saja dari sisi service, ketersediaan barang, keragaman produk, dan thethek bengek-nya, hypermart jauh lebih “wah” ketimbang supermarket.

Hanya, pembangunan pusat-pusat perbelanjaan sekaliber itu di bebarapa daerah terkesan mengada-ada, atau memaksa-maksakan. Betapa tidak, sekalipun tidak ada hypermart, misalnya, kebutuhan masyarakat masih dapat terlayani karena telah ada pusat-pusat perbelanjaan yang sejak lama sudah ada. Apalagi sekarang, pusat-pusat perbelanjaan sekelas indomart telah tumbuh menjamur di beberapa tempat, yang tidak jauh dari hunian masyarakat. Tidak hanya di pusat-pusat kota, di pinggir-pinggir kota, bahkan di desa-desa, kini sangat mudah dijumpai pusat perbelanjaan tersebut.

Hal itu menunjukkan bahwa apa pun yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit ditemukan. Datang ke indomart, atau alfamart mau mencari buah jenis apa saja, beras, sayuran, kue, minuman, makanan suplemen, buku, dan kebutuhan lainnya, begitu mudah. Asal membawa cukup uang, kebutuhan yang diinginkan dapat dibawa pulang. Tidak susah-susah mencari ke sana ke mari. Semuanya telah tersedia dan kebutuhan dapat terpenuhi secara praktis lewat pusat-pusat perbelanjaan yang telah menyebar ke mana-mana itu. 

Dengan begitu sejatinya kemunculan pusat perbelanjaan “raksasa”, lebih-lebih di kota-kota kecil, tidak perlu. Untuk apa sih. Pusat-pusat perbelanjaan yang sudah ada saja cukup mampu melayani masyarakat. Itu saja sudah merangsang masyarakat menjadi manusia-manusia yang gila belanja, manusia konsumeris. Apalagi adanya pusat perbelanjaan “raksasa”, boleh jadi semakin merangsang orang bersikap konsumeris dan hedonis. Berdampak buruk bagi pertumbuhan mental masyarakat, lebih-lebih bagi anak-anak, generasi penerus bangsa ini.

Sekalipun dapat diprediksi dampaknya seperti itu, tetapi pembangunan terus berjalan. Kadang justru tidak memedulikan eksistensi usaha masyarakat kecil. Usaha masyarakat kecil tergusur, entah akhirnya pindah ke mana, tidak pasti. Mendapat lokasi (baru) di sini atau di sana tetap diterima sekalipun mungkin ada risiko kehilangan konsumen. Harus berjerih lelah lagi memikat konsumen. Inilah fakta usaha masyarakat kecil di mana pun berada.

Yang lebih memrihatinkan adalah walaupun ada banyak pihak yang menolak pembangunan “raksasa” sebagai pusat perbelanjaan, pun (proyek itu) tetap terus berjalan. Ada kritik ini kritik itu, dibiarkan saja berlalu. Pembangunan terus berlangsung, bahkan boleh jadi proses pembangunannya dipercepat. Karena (mungkin) dengan begitu, kepentingan-kepentingan “sesaat” (maaf, sesat), pribadi atau kelompok, dapat segera diraih. Maka, wajar jika keberadaannya diperjuangkan dengan segala upaya.

Kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan proyek pendidikan. Proyek-proyek yang terkait dengan pendidikan, baik pembangunan fisik maupun nonfisik jarang (atau bahkan tidak) diperjuangkan  dengan sungguh-sungguh. Untuk merenovasi sekolah-sekolah yang ambruk saja harus menunggu waktu lama pencairan dana. Namun, barangkali wajarlah karena begitu banyak sekolah yang memang membutuhkan perhatian sehingga perlu antre, dengan risiko sementara waktu anak-anak bangsa yang seharusnya belajar di ruang-ruang belajar, harus belajar di tempat-tempat yang boleh dibilang kurang layak sebagai tempat belajar. Namun, fakta itu, terus tetap ada dari waktu ke waktu, hingga sekarang.    

Pihak daerah, yang menjadi lokasi sekolah berada, pun kurang memiliki interes. Kalaupun dikatakan memiliki, bolehlah. Tetapi tidak seinteres ketika mengahadapi proyek, semisal proyek pembangunan hypermart. Sekalipun saya tidak mengkalkulasi secara matematis, harus diakui dibandingkan dengan membangun sekolah keuntungan materi yang diperoleh jauh lebih tinggi (berlipat-lipat) ketika membangun proyek di ranah bisnis. Sehingga yang serupa ini diperjuangkan semaksimal mungkin, sementara yang ranah pendidikan dibiarkan mengalir seadanya.

Padahal, kita mengerti pembangunan di ranah pendidikan semestinya menjadi yang utama karena terkait dengan SDM ke depan, yang dapat dipastikan (akan) penuh dengan persaingan. Kalau SDM-nya rendah, tentu tidak memiliki daya saing, baik di tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional. Bangsa kita akan senantiasa menjadi bangsa yang terakhir. Bangsa konsumen. Bisa berubah menjadi bangsa produsen jika ada penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Adanya pendidikan yang berkualitas dibutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh terutama dari pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Tetapi fakta yang ada, membangun pendidikan yang berkualitas, atau katakanlah (yang) hiperpendidikan, hingga sekarang masih menjadi mimpi, atau malah sama sekali belum menjadi mimpi, masih terpendam dalam entah di lubuk mana. Pertumbuhan karakter anak-anak bangsa, dengan demikian, lebih banyak diwarnai oleh dinamika pembangunan proyek di ranah bisnis, yang sekarang (memang) sedang marak-maraknya terjadi.

3 komentar:

  1. pendidikan memang lebih penting dari segalanya. pendidikan dapat mengangkat harkat derajat dan moral seseorang.

    selain itu, dengan pendidikan yang mumpuni juga dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. secara pribadi, hal penting lainnya dari pendidikan yang kita miliki adalah pendidikan dapat membuat kita bebas finansial dan dapat hidup lebih sejahtera.

    BalasHapus
  2. pendidikan kalau tidak didasari motivasi bisnis tidak akan berkembang pesat. buat apa coba anak2 belajar sampai gila kalau bukan untuk jadi org kaya...

    BalasHapus
  3. Benar sih mas, tetapi motivasi bisnis melulu kan ya kurang pas, sebab manusia kan juga butuh pertumbuhan dalam aspek nonbisnis, semisal bersosial. Jadi, sekolah itu untuk meraih kaya materi dan hati.

    BalasHapus

""