Rabu, 23 November 2011

Pendidikan Praktis Melalui Komunitas Sosial



Sepertinya tidak sepenuhnya benar di zaman ini merebak sikap individualis. Sikap mementingkan diri sendiri, yang berarti mengabaikan peran dan kehadiran orang lain. Kehadiran orang lain tetap diharapkan sekecil apa pun jumlahnya, entah satu, dua, atau tiga. Karena kenyataannya tidak ada orang yang dapat hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Senantiasa membutuhkan pihak lain untuk mempertahankan eksistensi. Dipastikan tidak akan bertahan jika melepaskan keterkaitan dengan orang lain. Hanya memang hubungan yang terjalin lebih karena adanya kesamaan.

Akan tetapi, kesamaan itu tidak hanya didasarkan pada kesamaan suku, agama, golongan, budaya, seperti yang dulu-dulu pernah merebak, dan kini pun masih berlangsung. Ada paguyuban orang Jawa, orang Ambon, orang Batak, orang Madura, misalnya, yang semuanya itu lebih menonjolkan kesukuan/kedaerahan. Sekarang, tampaknya telah mengalami pergeseran. Karena paguyuban-paguyuban yang terbentuk justru lebih banyak berangkat dari hobi/kesenangan, yang boleh jadi melintasi suku, agama, golongan, budaya, ras, gender, dan umur. Ada komunitas pencinta alam, komunitas sepeda (gowes), komunitas pengrajin, komunits filatelis, komunitas blogger, komunitas facebooker dan sebagainya.

Akhir-akhir ini komunitas-komunitas serupa itu dari hari ke hari selalu bertambah. Hal itu tidak dipungkiri peran media sangat membantu. Awalnya mereka membangun komunikasi lewat jejaring sosial virtual, kemudian komunikasi darat, lantas membentuk komunitas. Atau, langsung melalui jejaring sosial virtual membentuk komunitas sekalipun mereka belum pernah kopdar (kopi darat; ketemu di darat). Demikianlah sepertinya kebanyakan komunitas lebih cepat terbentuk oleh karena peran media mutakhir.

Yang menarik, fenomena yang terlihat dalam komunitas itu adalah adanya semangat saling berbagi. Hal itu boleh jadi karena mereka memiliki hobi yang sama. Sehingga memungkinkan mereka saling tukar pengalaman, yang disadari atau tidak, menambah pengetahuan. Semangat untuk mengembangkan hobi (akhirnya) tersulut. Yang, akhirnya berkembang ke aktivitas-aktivitas produktif, baik bergerak di bidang lingkungan, sosial, kemanusiaan, maupun bisnis. 

Sering kita lihat di media, komunitas-komunitas itu menunjukkan aktivitas positifnya. Ibu-ibu, misalnya, yang tergolong sibuk, ternyata membentuk komunitas pengrajin kain perca. Yang awalnya hanya hobi, begitu bergabung dalam komunitas tersebut, mulai memikirkan hasil kerajinan itu untuk dikembangkan dan digulirkan ke ranah bisnis. Melalui komunitas, “pekerjaan” itu menjadi semakin mudah dicapai karena banyak teman (sesama anggota komunitas) yang membantu.  Bahkan, karena anggota komunitas domisilinya satu dengan yang lain berjauh-jauhan, boleh jadi tidak hanya antarkabupaten/kota, tetapi antarprovinsi, bahkan pulau, usaha yang dilakukan tentu lebih luas memiliki konsumen.  

Komunitas sepeda, yang sekarang ini marak, ternyata tidak hanya bergerak di bidang olahraga. Komunitas ini awalnya memang dibangun untuk bersama-sama menjaga kondisi tubuh tetap bugar sekalipun disibukkan oleh berbagai kerja (orang dewasa) dan belajar (anak-anak, remaja, dan pemuda). Tetapi kemudian berkembang ke pembangunan mental sikap peserta. Membangun sikap peduli terhadap lingkungan, yang sekarang ini lingkungan memang membutuhkan kepedulian manusia. Bagaimana tidak, kalau pada kenyataannya lingkungan telah penuh dengan polusi, baik polusi udara, suara, air, maupun yang lainnya. Kamunitas sepeda paling tidak telah ambil bagian di dalam memerangi tingkat polusi udara dan suara yang semakin menjadi-jadi ini. Dengan membiasakan diri menaiki sepeda berarti mengurangi gas perusak ozon dan gemuruh suara kendaraan bermotor.

Komunitas-komunitas yang lain pun memiliki aktivitas yang pada prinsipnya sama, yang bermuara pada pembangunan sikap kebersamaan, berbagi, dan bergerak untuk kepentingan banyak orang. Yang pasti dalam komunitas-komunitas sosial itu sebuah pendidikan praktis telah dilakukan. Dan fakta ini tidak boleh diabaikan, menurut saya, karena justru melalui komunitas-komunitas itu sebuah kemajuan bersama dapat dilakukan secara alamiah. Keberagaman pendidikan praktis dapat dibangun melalui komunitas-komunitas tersebut secara berkelanjutan.

Hal itu jelas memberi kontribusi positif bagi pemerintah karena berkembangnya pendidikan praktis secara alamiah dapat terkelola dengan baik oleh praktisi-praktisi yang boleh dibilang tidak memerlukan kucuran dana dari pemerintah. Keberlangsungan pendidikan praktis yang berorientasi pada lingkungan, sosial, kemanusian, dan bisnis melalui komunitas-komunitas itu, diakui atau tidak, mengurangi beban pekerjaan pemerintah. Begitulah kira-kira.

2 komentar:

  1. betul, awalnya dengan ajang kumpul2 di komunitas, kemudian bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada anggota komunitas lain.
    cukup menarik juga wacana yang diangkat. :)

    BalasHapus
  2. yaps pak...
    dengan bergabungnya diri kedalam komunitas membuat diri tambah ilmu secara tidak langsung...
    dan mendapatkan pengalaman yang berbeda dari sebelumnya....

    BalasHapus

""