Kamis, 24 November 2011

UKBI Mulai Dimasyarakatkan


TOEFL adalah singkatan dari Test Of English as a Foreign Language (Test Bahasa Inggris sebagai bahasa asing). Yang, biasa diperuntukan bagi penutur bahasa Inggris. Kemahiran berbahasa Inggris hanya dapat dibuktikan melalui pencapaian nilai TOEFL yang baik. Bahkan, dalam konteks tertentu TOEFL menjadi syarat yang harus dipenuhi. Jika tidak memiliki nilai TOEFL yang dipersyaratkan, bekerja atau kuliah atau sekolah, bisa jadi tidak diterima. Jadi, dalam hal tertentu TOEFL menjadi perihal yang dibutuhkan.

Dalam bahasa Indonesia ada yang menyerupai TOEFL, yaitu uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI). Yang, memiliki kewenangan secara yuridis formal untuk memberikan UKBI kepada penutur bahasa Indonesia adalah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BP2B) Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaaan, yang beralamat di Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta. Namun, untuk dapat menjangkau ke seluruh wilayah Indonesia, balai bahasa yang berada tersebar di 30 tempat di Indonesia dapat menjadi perpanjangan tangan BP2B. Artinya, balai bahasa-balai bahasa itu dapat memberikan UKBI kepada penutur bahasa Indonesia.

Exti Budhastuti, Staf Subbid Proses Pembelajaran, Bidang Pembelajaran, Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang memberikan sosialisasi UKBI di hadapan 40 guru bahasa Indonesia di Kudus, Jawa Tengah, yang bertempat di Hotel Griptha (23/11), menjelaskan bahwa saat ini BP2B menargetkan 2.000 guru bahasa Indonesia mengikuti UKBI. Sasarannya ada di 14 provinsi (47 kabupaten/kota). Di Indonesia, jumlah guru bahasa Indonesia 87.861 orang dari 2,7 juta guru (data 2009/2010). Itu artinya, masih sangat sedikit guru bahasa Indonesia yang terlayani UKBI.

Kudus, yang termasuk kabupaten sasaran sosialisasi UKBI, hanya mendapatkan jatah 20 guru bahasa Indonesia (SMP) dan 20 guru bahasa Indonesia (SMA) sederajat. Bagi ke-40 guru bahasa Indonesia itu, UKBI sepertinya hal yang baru karena ketika ditanya apakah sudah pernah mengikuti UKBI atau belum, tak ada satu pun guru yang dengan percaya diri mengatakan sudah. Bahkan sebaliknya, satu-dua di antaranya mengatakan baru beberapa lama mendengar istilah itu.

Jadi, mengetahui UKBI agak sedikit rinci ya ketika mengikuti sosialisasi ini. Sebelum itu, dalam pikiran masih beranya-tanya seperti apa sebenarnya UKBI itu. Nah, ternyata UKBI, yang adalah sarana uji untuk mengukur kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia lisan dan tulis, itu meliputi lima seksi uji. Kelimanya itu dapat dilihat di tabel berikut:
 
Seksi
Jumlah Soal
Alokasi Waktu
Seksi I Mendengarkan
40 soal
25 menit
Seksi II Merespon Kaidah
25 soal
20 menit
Seksi III Membaca
40 soal
45 menit
Seksi IV Menulis
1 soal
30 menit
Seksi V Berbicara
1 soal
15 menit

Sosialaisasi sekaligus pelaksanaan UKBI yang dimulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 15.00 WIB itu, pada sesi UKBI hanya melaksanakan uji Seksi I sampai dengan IV. Seksi V Berbicara tidak dilaksanakan karena mengingat keterbatasan tenaga dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, yang saat pelakasanaannya hanya dihadiri empat personal. Akan sangat tidak efisien jika Seksi V Berbicara dilaksanakan. Tentu akan memakan waktu begitu lama jika tetap berpatokan pada aturan seperti yang ada pada tabel di atas. Coba Anda bayangkan berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menguji guru dalam Seksi V Berbicara kalau gurunya ada 40 orang? Lama bukan? Itulah sebabnya, Seksi V Berbicara tidak dilaksanakan.

Guru-guru yang hanya menghadapi empat mata uji (Seksi I s.d. IV) sudah begitu lelah, terutama lelah di pikiran. Dan, kondisi itu paling banyak disebabkan oleh mata uji Seksi I Mendengarkan. Ketika menghadapi mata uji Seksi I Mendengarkan, benar-benar guru (kami) harus berkonsentrasi maksimal selama 25 menit. Sudah berkonsentrasi maksimal saja, untuk mengerjakan soal-soal yang ada ternyata sulitnya bukan kepalang. Kesulitan itu boleh jadi karena memang kami kurang memiliki kemahiran dalam menyimak. Secara umum, kami yang mengikuti UKBI, setelah rampung mengikuti kegiatan itu, mengeluh ketika menghadapi uji Seksi I Mendengarkan.

Bentuk uji Seksi I Mendengarkan ada dua macam. Pertama, teks yang diperdengarkan berbentuk dialog (dilakukan oleh dua orang). Kedua, teks yang diperdengarkan berbentuk monolog (dilakukan oleh satu orang). Sekalipun sembari telinga mendengarkan dialog atau monolog, teruji (guru yang diuji) boleh menjawab soal-soal yang telah disediakan, tetap saja mengalami kesulitan. Saya sendiri mengakui bahwa saat-saat di  sinilah justru konsentrasi terpecah. Di satu sisi telinga mendengarkan, di sisi lain mata dan pikiran menatap soal-soal yang jumlahnya sekitar lima sampai enam setiap monolog atau dialog yang diperdengarkan. Jawaban soal-soal itu ada dalam monolog atau dialog yang diperdengarkan, tetapi toh sulit juga menjawabnya. Saya pikir persoalan ini lebih terletak pada kurangnya kebiasaan kami, termasuk saya, melakukan kegiatan menyimak yang sesungguhnya.

Sekalipun melelahkan dan kami pun pesimis akan hasilnya nanti (memang belum diketahui), kami tetap merasa beruntung karena telah mengetahui apa itu UKBI dan bagaimana “rasanya” menikmati UKBI itu. Terkait dengan pemeringkatan hasil UKBI, di dalam katalog yang telah kami terima dari balai bahasa, dituliskan ada tujuh peringkat hasil UKBI. Yaitu, 1) Istimewa (750 s.d. 900), berarti memiliki kemahiran yang sempurna berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. 2) Sangat Unggul (675 s.d. 749), memiliki kemahiran yang sangat tinggi. 3) Unggul (525 s.d. 674), memiliki kemahiran yang tinggi. 4) Madya (375 s.d. 524), memiliki kemahiran yang memadahi. 5) Semenjana (225 s.d. 374), memiliki kemahiran yang cukup memadahi. 6) Marginal (150 s.d. 224), memiliki kemahiran yang tidak memadahi. 7) Terbatas (0 s.d. 149), memiliki kemahiran yang sangat tidak memadahi.

Dan, guru bahasa Indonesia dianggap memiliki kompetensi profesional di bidangnya kalau paling tidak guru itu mencapai peringkat Madya. Oleh karena itu, marilah, kita, yang mengampu bidang ajar bahasa Indonesia untuk terus mau belajar sehingga minimal target tersebut dapat kita raih dengan tanpa memaksakan diri. Artinya, target itu dicapai dengan sungguh sungguh alamiah. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama UKBI dapat menyentuh seluruh guru, paling tidak guru bahasa Indonesia, yang mendedikasikan diri demi kamajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""