Rabu, 14 Desember 2011

Awas, Perilaku Anak yang Bernilai Buruk



Apakah ini sudah menggejala di mana-mana atau tidak, saya tidak mengerti. Akan tetapi, yang pasti, saya menjumpai sebuah fenomena yang sangat memrihatinkan. Fenomena itu adalah sikap anak (pelajar) ketika merespon hasil ulangannya yang kurang baik. Sikap yang dimunculkan yakni melakukan tindakan yang tidak sewajarnya sebagai seorang pelajar. Barangkali merasa kecewa mendapat nilai yang kurang baik, lantas merokok. Tindakan yang menyimpang tersebut sedihnya dilakukan di lingkungan sekolah. Dengan begitu tindakan itu dapat dilihat oleh siswa lain, yang berasal dari berbagai-bagai latar belakang.

Saya tidak mengetahui hal itu secara langsung. Akan tetapi, ada siswa lain mengetahui, lantas memiliki kepedulian mau memberitahukan hal itu kepada gurunya, di antaranya saya. Saya sangat senang melihat anak didik yang memiliki kepedulian terhadap hal-hal yang demikian. Sebab, anak didik yang demikian itu, sedikit banyak, telah memberi kontribusi kepada pihak sekolah agar sekolah lebih membangun sikap waspada. Harus diakui bahwa guru tidak memiliki kesempatan terus mengawasi anak didiknya, yang jumlahnya jauh lebih banyak, yang geraknya seluas lingkungan sekolah. Jadi jelas tidak mungkin guru mampu memantau semua aktivitas anak didiknya secara maksimal selama jam-jam di luar pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, anak-anak didik yang memiliki kepedulian membangun kebaikan bersama di sekolah sangat dibutuhkan. Menjadi (seolah-olah) rekan sekerja guru dan sekaligus murid bukan menjadi persoalan.

Dijumpainya fenomena seperti di atas jelas menjadi hal yang memrihatinkan dan mengagetkan. Anak yang kita ketahui biasanya  mengalami kegagalan dalam meraih nilai tidak melakukan penyimpangan yang sedemikian, kini telah melakukan hal yang jauh, tidak teperkirakan banyak orang, termasuk saya. Sebagai guru, saya tidak berpikir bahwa anak yang kurang puas memeroleh nilai ulangan bisa berbuat demikian. Bukankah selama ini anak-anak yang belum dapat meraih nilai baik sekadar menyesalinya dan bersedih? Lantas mereka merenungkan kenyataan itu, yang tentu saja dalam benak mereka, ke depan tidak mau mendapat hal yang serupa (lagi). Apalagi anak-anak tertentu (yang malas belajar) ketika melihat nilainya jeblok, biasa-biasa saja, tanpa respon apa-apa.  

Itulah sebabnya, begitu ada anak didik saya yang melapor bahwa ada di antara temannya yang oleh karena mendapat nilai kurang baik lantas merokok, saya agak kaget. Dan, tentunya menyadarkan kepada kita bersama (guru dan orang tua) bahwa sebenarnya anak-anak kita, yang harapannya ke depan menjadi tulang punggung bangsa, kini, sedang berada dalam situasi yang kurang menguntungkan. Gemburan budaya kekerasan, perilaku kurang baik (lewat media atau langsung), kesibukan orang tua (oleh karena tuntutan kebutuhan) yang akhirnya jarang membangun komunikasi dengan dengan anak, menjadikan anak miskin “sentuhan” psikologis. “Kemiskinan” inilah yang mudah membawa anak-anak kita berpikir kurang dewasa. Mudah putus asa, mudah marah, pesimis, berperilaku menyimpang sebagai kompensasi atas kelemahan yang ada pada dirinya.

Sekolah bukan sebuah lembaga yang memiliki “kesaktian” membawa anak-anak ke arah yang  baik jika orang tua dan bahkan masyarakat tidak memberikan dukungan secara utuh. Bahkan, kalau di sekolah saja sudah dijumpai seperti fenomena di atas, itu artinya sekolah tidak memiliki kemampuan untuk mencegah secara sempurna akan perilaku-perilaku menyimpang anak didiknya. Dan bukan tidak mungkin perilaku-perilaku menyimpang lainya oleh karena keputusasaan, kekecewaan, penyesalan  atas kegagalan meraih nilai baik, banyak dijumpai lagi. Misalnya, minum-minuman keras, tawuran, dan tindakan nekad lainnya.

Kenyataan pahit semacam itu tentu tidak kita inginkan. Harapan kita, tentu anak-anak memeroleh masa depannya yang gemilang. Masa depan yang baik bagi mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama yang baik antarguru dan juga sekolah-orang tua (masyarakat). Anak-anak memang perlu disadarkan sejak dini akan keberlangsungan hidup yang akan senantiasa dialaminya, silih berganti antara suka dan duka, antara berhasil dan gagal. Harapan yang terjadi berbeda dengan kenyataan pun sering dialami banyak orang. Anak-anak perlu memahami hal yang demikian. Anak-anak yang sudah belajar mati-matian (sungguh-sungguh) saja  (oleh karena faktor kondisi tubuh kurang prima, misalnya) dapat memeroleh nilai yang buruk, apalagi anak-anak yang belajarnya malas-malasan. Kondisi tubuh prima pun, anak seperti yang disebut terakhir itu sulit rasanya mendapatkan hasil yang baik.

Perolehan nilai yang buruk oleh karena kurang belajar, malas memerhatikan guru menerangkan, tidak rajin mengerjakan tugas atau PR, agaknya tidak dapat diselesaikan dengan perilaku menyimpang seperti merokok, minum-minuman keras, atau dengan perilaku-perilaku menyimpang lainnya. Jika yang dilakukan demikian, justru persoalannya akan semakin rumit dan sulit dicarikan solusinya.

Perolehan nilai yang buruk justru harus diberantas dengan sungguh-sungguh belajar, aktif belajar, ada kemauan bertanya kepada teman atau guru atau orang tua atau saudara yang dianggap memiliki kemampuan memberi jawaban perihal pelajaran. Membentuk komunitas-komunitas belajar, baik dengan anak dari berbagai-bagai asal sekolah maupun dengan teman seasal sekolah, yang harus difasilitasi oleh orang tua/wali murid, masyarakat, dan guru. Komunitas-komunitas belajar yang demikian itu yang menjadi kerinduan, tentu saja, semua orang tua/wali murid dan guru dari semua anak sekolah. Barangkali dengan membangun budaya semacam itu tidak akan lagi dijumpai perilaku konyol anak didik dalam merespon perolehan nilai buruk karena malas belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""