Sabtu, 17 Desember 2011

Berbagi Beban Persoalan Anak


Hari ni, Sabtu (17/12), pembagian rapor, buku yang berisi hasil laporan pembelajaran anak didik selama satu semester, dilaksanakan. Di sekolah kami, dilakukan dengan dua cara. Pertama, dilaksanakan di kelas masing-masing dengan difasilitasi oleh guru wali kelas. Ini umumnya anak didik yang tidak memiliki catatan khusus di bimbingan karier (BK). Kedua, dilaksanakan di ruang OSIS yang difasilitasi oleh kepala sekolah, guru BK, dan kesiswaan. Kelompok ini umumnya anak didik yang memiliki catatan khusus di BK. Catatan khusus yang dimaksudkan di sini adalah anak didik yang bermasalah, baik masalah-masalah yang tergolong kecil (sering dingatkan/dinasihati, tetapi masih sulit berubah) maupun besar. Masalah-masalah yang tergolong kecil misalnya, tidak mengenakan seragam secara wajar, rambut tidak memenuhi aturan, jarang masuk sekolah, dan beberapa hal lainnya. Masalah-masalah yang tergolong besar misalnya merokok, minum-minuman keras, tawuran, dan sebagainya.

Saya kebetulan bertugas di bagian kelompok kedua. Bersama kepala sekolah dan guru BK menyampaikan secara umum pelanggaran-pelanggaran yang sering dilakukan anak didik yang ada dalam kelompok ini. Jumlahnya tidak banyak, tetapi sekalipun tidak banyak, justru yang kelompok inilah yang menyita banyak perhatian kami. Anak didik yang tidak masuk dalam kategori sering melanggar tata tertib sekolah justru kurang mendapat perhatian. Boleh jadi hal ini karena anak didik yang bermasalah memang perlu didampingi secara khusus sehingga tidak terus-terusan dirinya dibelit persoalan, yang disadari atau tidak, mengganggu proses pembelajarannya. Sementara anak didik yang tidak bermasalah sekalipun tidak atau jarang didampingi tetap dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Anak didik yang masuk dalam kelompok kedua, di rumah memang termasuk anak-anak yang sudah memiliki persoalan. Beberapa orang tua mereka dalam sharing bahkan mengatakan sudah merasa kesulitan menasihati. Dinasihati ini itu, tidak ada perubahan. Memberikan nasihat ibaratnya seperti telah tipis lambene (Jw, kehabisan bibir). Ada juga yang mengatakan hubungan dengan anak kurang “mesra”. Anak dengan orang tua sepertinya “bermusuhan”. Ada juga yang bilang bahwa anak tidak lagi menganggap orang tuanya (sekalipun memang tidak orang tua kandung) sebagai orang tua. Yang saya sebut terakhir itu justru sampai menangis di hadapan kami ketika sharing karena mengalami kebingungan bagaimana lagi mendidik anak tersebut.

Hal itu menunjukkan bahwa betapa sulitnya beberapa orang tua mengarahkan anaknya agar lebih baik. Kenyataan itu lebih sulit lagi bagi sekolah karena sekolah harus menghadapi banyak anak yang boleh jadi memiliki kesamaan dalam perilaku. Dan bukan mustahil anak-anak yang serupa tersebut menyatu dalam satu komunitas di sekolah, yang lantas umumnya bekerja sama melakukan kebiasaan perilaku mereka. Dan fakta menunjukkan sekalipun semua guru berkomitmen membangun komunikasi dengan semua anak didiknya secara “manis”, tidak sepenuhnya dapat dilakukan. Karena, anak didik yang sering berperilaku menyimpang itu umumnya “takut” dengan guru. Sehingga, sulit untuk dapat bertemu secara baik-baik.

Sekalipun begitu, kami, sebagai sekolah (guru), selalu berusaha mencari solusi agar persoalan-persoalan yang membelit, yang akhirnya menjadikan anak didik kurang nyaman dalam belajar itu dapat diselesaikan. Namun toh sekalipun kami sudah membangun wahana shar  (seperti yang kami lakukan saat pembagian rapor itu) dengan orang tua/wali murid sering mentok pada usaha-usaha yang klasik, yang sebenarnya sejak dahulu pun telah kami lakukan. Yakni, memerhatikan anak-anak tersebut lebih serius lagi. Sekolah ya serius, orang tua ya serius, tetapi sering tidak membuahkan hasil yang maksimal. Ketika pada akhirnya anak didik melanggar aturan sampai pada taraf fatal, katakan begitu, sekolah tidak dapat berbuat apa-apa. Pun demikian orang tua. Jelasnya, kalau orang tua sudah merasa tidak mampu lagi mengarahkan anaknya, tentu saja sekolah jauh lebih tidak mampu lagi. Bagaimana?

2 komentar:

  1. Betul pak, akar pendidikan anak tetap terletak pada lingkungan terkecil mereka, kalau orang tuanya saja ngga mampu mendidik, apalagi sekolah, yg notabene hanya institusi pendidikan yg tidak bisa ngontrol anak sepenuhnya.

    BalasHapus
  2. Akan tetapi, fakta itu sering tidak disadarai orang tua/wali murid, ya Pak.

    BalasHapus

""