Selasa, 20 Desember 2011

Berjubel demi Dorpres


Sepeda gembira (yang oleh panitia disebut “sepeda wisata”) yang digelar beberapa waktu lalu, tepatnya Minggu (18/12), di Kudus sungguh mengejutkan saya (barangkali juga orang lain) terutama dari sisi jumlah pesertanya. Boleh jadi saya kira-kira menembus 10.000 lebih peserta. Peserta sebanyak itu berasal dari Kudus dan beberapa kota di sekitarnya. Saking banyaknya peserta, di beberapa titik di jalan yang dilewati peserta terjadi kemacetan yang luar biasa. Kemacetan itu terjadi disebabkan pula kurang adanya kesigapan petugas pengatur arus lalu lintas. Beberapa ratus meter, di beberapa titik jalan, peserta harus berjalan kaki sembari menuntun sepedanya. Akan tetapi, peserta masih terlihat begitu antusias. Peserta umumnya mengikuti sampai ke garis akhir, di Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus, Jawa tengah (Jateng), yang juga sebagai lokasi pemberangkatan.

Keantusiasan peserta hingga (mau) menyelesaikan ke garis akhir sekalipun berkali-kali terganggu oleh kemacetan, yang bukan mustahil membuat rasa malas, mungkin saja disebabkan oleh daya rangsang dorpres yang lumayan menarik, terutama Xenia. Dengan membeli kupon seharga Rp 25.000,00 dapat kaos, snack, dan berhak memiliki angan-angan mendapatkan dorpres tersebut.  Ribuan peserta memiliki angan-angan yang serupa, yakni mendapat dorpres, terutama Xenia. Kita bayangkan dengan hanya bermodal uang Rp 25.000,00 peserta memiliki kemungkinan mendapat dorpres, yang harganya jutaan. Inilah yang menurut saya mengapa even ini diserbu banyak peserta. Dorpres utama yang tawarkan sangat tinggi nilainya, yang menimbulkan banyak orang tertarik mengikuti.

Saya akhirnya berpikir, bersepeda yang merupakan kegiatan ringan menyehatkan badan atau kegiatan lain, sepertinya tidak selalu memiliki daya rangsang banyak orang mau melakukannya. Orang berbondong-bondong seolah hanya mengejar dorpres yang disediakan. Barangkali kalau ada kegiatan serupa itu tanpa ada dorpresnya boleh diduga kurang ada yang berminat mengikuti. Kalau pun ada,  jumlahnya tidak banyak. Dari jumlah yang tidak banyak itu boleh dipastikan orang-orang yang memang sudah terbiasa sepedaan, misalnya. Mereka sudah memandang sepedaan merupakan salah satu bentuk olah raga yang menyenangkan dan bermanfaat. Kelompok ini tidak memandang ada dorpres atau tidak, sama saja, yang penting tetap berolah raga dengan bersepeda ria agar badan sehat.

Kenyataan Minggu kemarin saya yakini tidak sepenuhnya demikian. Ada orang-orang yang mengikuti “sepeda wisata” karena memiliki angan-angan untuk mendapatkan dorpres. Jadi, orientasi pertama mendambakan dorpres, sementara kesehatan menjadi orientasi yang ke sekian. Itu dapat dibuktikan dengan melihat asal peserta. Peserta dari luar kota begitu banyak. Rata-rata mereka membawa sepeda dimuat di truk atau mobil bak terbuka. Sehingga, sekali turun dari truk atau mobil bak terbuka, belasan hingga puluhan sepeda. Padahal truk atau mobil bak terbuka berplat luar kota yang terlihat parkir di pinggir-pinggir jalan sekitar tempat kegiatan (Alun-alun Simpang Tujuh) itu tidak sedikit. Bukankah ini menandakan bahwa peserta dari luar kota banyak?

Kalau misalnya mereka bersepeda melulu untuk kesehatan, buat apa “mengejar” kegiatan bersepeda sampai ke luar kota. Bersepeda di tempat sendiri tentu lebih efektif bukan? Dekat dengan tempat tinggal, tidak perlu biaya mahal, tidak perlu waktu banyak, telah mengenal medan, sehingga bersepeda di tempat sendiri jauh lebih nyaman dan menyegarkan. Akan tetapi toh banyak juga yang menyerbu ke luar kota ketika kegiatan bersepeda di luar kota menawarkan dorpres bergengsi. Kalau sudah demikian salahkah jika dikatakan  bersepeda bukan lagi melulu mencari kesehatan, tetapi mengingini dorpres yang disediakan?

Saya pun berkeyakinan kalau saja di luar kota digelar sebuah aktivitas sepeda tanpa ada dorpres, tidaklah ada peserta yang mengikuti. Bahkan boleh jadi peserta yang berasal dari kota asal pun tidak banyak. Tampaknya sudah menjadi budaya segala kegiatan, termasuk bersepeda, jika hendak diikuti oleh banyak orang perlu diiming-imingi dorpres. Dorpres, dengan demikian, tetap menjadi daya tarik yang tidak dapat diingkari kehadirannya di setiap kegiatan yang direncanakan (dengan sengaja) untuk melibatkan banyak orang.  

Namun, boleh diduga peserta yang tidak mendapat dorpres tidaklah kecewa karena tentu mereka menyadari bahwa kegiatan serupa itu memang bersifat spekulatif, bisa memperoleh bisa tidak. Kalau toh tidak memperoleh, kegiatan itu telah membawa setiap peserta dapat bersosialisasi dengan banyak orang, berekreasi, dan berolah raga, yang dapat menyegarkan baik fisik maupun psikis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""