Jumat, 30 Desember 2011

Berkumpul, Wahana Membelajarkan Tradisi Leluhur


Gambar dari abiifebrii,blogspot,com
Berkumpul dengan saudara di rumah orang tua, tempat masa kanak-kanak kami diproses, menjadi sebuah muara perjumpaan yang menradisi. Setiap libur, apalagi libur Natal dan Tahun Baru, yang sering disatukan sehingga menjadikan masa libur relatif panjang, kami pergunakan untuk berkumpul. Saudara dengan anak-anaknya dan saya pun dengan istri dan anak-anak, ditambah lagi kedua orang tua kami yang sudah sepuh-sepuh (Jw, tua), membuat perjumpaan itu menjadi momen yang indah.

Anak-anak dapat berkumpul dengan saudara-saudaranya. Mereka dapat menciptakan suasana dan kondisi masing-masing sesuai dengan tingkat umur mereka. Mereka, yang masih kanak-kanak, misalnya,  dapat bermain-main sepuas mereka sekaligus membangun keeratan antarsesaudara. Bahkan, barangkali saking senangnya, ketika sudah bermain-main, mereka lupa waktu. Makan, yang ketika di rumah biasanya tepat waktu, boleh jadi kelewat waktu. Tidur siang, yang lazimnya terjadwal, oleh karena sudah telanjur gembira, bisa jadi lupa melaksanakan jadwal tersebut. Akan tetapi, sering mereka tidak merasakan lapar dan rasa kantuk. Mereka sungguh menikmati aktivitas masing-masing secara emosional dengan saudara-saudara satu nenek-kakek.

Kalau kami, orang tua, tidak mengingatkan mereka untuk makan atau tidur, misalnya, mereka tidak akan makan atau tidur. Dan, bukan mustahil kalau hal itu dibiarkan berlangsung terus, dapat berdampak pada stamina tubuh mereka menurun. Membuat mereka jatuh sakit. Oleh karena itu, dalam situasi dan kondisi demikian, kami selalu mengingatkan mereka untuk makan atau tidur. Hanya, memang,  umumnya tindakan kami itu sulit mereka terima. Sering mereka menolak apa yang kami ingatkan. Bahkan, bukan tidak mungkin (oleh karena ketidakcocokan), mereka agak tidak menyukai kami. Dan, memang begitulah kenyataan anak-anak ketika sedang berada dalam permainan dengan saudara-saudaranya, lupa “segala-galanya”.

Sementara kami, yang orang tua, dapat berbagi satu dengan yang lain. Sharing tentang pekerjaan. Bercerita ini-itu tentang aktivitas di rumah masing-masing. Tentang pelayanan di gereja. Tentang kondisi kampung, tempat tinggal beserta masyarakatnya masing-masing. Dan, sebagainya. Dalam situasi pertemuan khusus, yang berlangsung setahun sekali itu, sering juga kami pergunakan untuk berbicara perencanaan kegiatan-kegiatan di masa mendatang. Kegiatan-kegiatan yang bersifat melibatkan banyak orang. Misalnya, perjumpaan tahunan (setahun sekali), yang sudah sejak lama digagas orang tua, leluhur-leluhur kami. Setelah tahun ini di rumah si A, tahun berikutnya di rumah si B, misalnya. Berapa anggaran yang harus dikeluarkan untuk pembiayaan acara perjumpaan itu. Hal-hal semacam itu dirembug (Jw, dimusyawarahkan). Apalagi kalau misalnya di antara kami ada yang akan memiliki hajat. Kami akan membicarakan itu bersama-sama untuk meringankan beban yang ditanggung saudara kami itu. Dengan demikian, kami semua turut merasakan apa yang sedang dirasakan/dihadapi saudara kami.

Kami meyakini cara demikian sangat menyenangkan saudara kami yang memiliki hajat sebab beban yang sedang ditanggungnya dapat lebih ringan karena mendapat bantuan dari saudara-saudara. Dalam situasi demikian, sikap kegotongroyongan masih dapat kami jaga, sekalipun sifatnya hanya sebatas lingkup keluarga. Tradisi rembugan pun masih dapat dilestarikan. Kami, yang muda-muda, mengakui bahwa keberadaan kami sampai kini masih dapat menjaga sikap erat-kekeluargaan oleh karena orang tua kami tak bosan-bosannya memberi motivasi. Mendorong terus agar kebiasaan baik tersebut terus dipertahankan. Hanya, saya tidak mengetahui apakah ke depan nanti keberadaan begini masih dapat terjaga dengan langgeng atau tidak ketika orang tua kami sudah tidak ada lagi.

Kami, yang muda-muda, tentu saja berharap keberadaan yang demikian ini tetap terjaga dengan baik. Tidak satu pun di antara kami ada yang menghendaki keberadaan demikian akan segera pudar. Kami tentu akan terus berjuang untuk tetap mempertahankannya sekalipun orang tua kami, yang mencetuskan tradisi khas (kegotongroyongan dan rembugan) ini, telah tiada di tengah-tengah kami.

Persoalannya adalah kuatkah kami mempertahankan itu dalam rentang waktu yang panjang jika sosok yang senantiasa mengingatkan dan memotivasi telah meninggalkan kami? Ini yang membayang-bayangi kami. Mengganggu pikiran kami, sekalipun kami sudah berkomitmen untuk senantiasa menjaganya baik-baik. Kesibukan kami masing-masing, di zaman sekarang, di tempat kami masing-masing sering menjadi kendala yang dahsyat bagi kami dapat tetap menjaga tradisi leluhur itu. Kesibukan sepanjang hari sering menyita waktu bagi kami untuk membangun komunikasi. Tuntutan konsentrasi kerja dan aktivitas lain membuat kami seolah-olah kehabisan waktu. Dan, tentu saja semakin ke depan tuntutan akan semakin kuat, yang boleh jadi akhirnya kami memang kehabisan waktu. Kalau bayangan-bayangan semacam itu benar terjadi sementara sosok pengingat dan pemotivasi yang ulung telah tiada, mampukah kami menjaga ajaran arif leluhur kami?

Kami, khususnya saya, telah mendapat cerita banyak dan mengetahui sendiri adanya kegagalan dalam menjaga, katakanlah, paguyuban keluarga yang keberlangsungannya (bahkan) sudah puluhan tahun. Sudah turun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Toh demikian, tetap mengalami kesurutan, bahkan sekarang boleh dibilang telah mati. Itu dialami oleh beberapa paguyuban keluarga yang sudah terbangun mantap. Bukankah melihat kenyataan itu sebetulnya sangat memrihatinkan? Sebab, ada banyak sisi positif ketika  paguyuban keluarga dapat terus terjaga. Tidak hanya sekadar tempat berkumpul, tetapi dapat menjadi wahana pembelajaran tradisi-tradisi arif dari leluhur untuk generasi yang masih tertinggal.

8 komentar:

  1. saya jadi ingat pertemuan keluarga besar dari kakek... ternyata banyak yang saya tidak kenal.. saya lantas mengusulkan untuk dibuatkan web keluarga
    enak ya pak, kalau bisa kumpul keluarga

    BalasHapus
  2. Layaknya suatu organisasi,meskipun itu lingkup trah keluarga memang harus ada motifator atau penggeraknya agar loyalitas anggota trah keluarga tetap terjaga. Salam kenal ...

    BalasHapus
  3. begitulah, pak sungkowo. bertemu dengan keluarga besar dan menyatu bersama di rumah orang tua bagaikan "ngumpulke balung pisah" agar nilai persaudaraan bisa terus terjaga. sayangnya liburan kali ini saya ndak sempat sowan pada emak di kampung.

    BalasHapus
  4. @Pak Budi: Itu ide yang menarik, Pak, di zaman yang serba IT.
    @Pak Bambang: Sangat setuju Pak Bambang, sebab bagaimana pun juga motivator penghidup paguyuban/organisasi. Salam kenal juga, Pak....
    @Pak Sawali: Semoga di liburan mendatang Bapak ada kesempatan sowan ke ortu di kampung, ya Pak.

    BalasHapus
  5. kesatuan keluarga
    saya stuju , orang tua, tidak mengingatkan mereka untuk makan atau tidur, misalnya, mereka tidak akan makan atau tidur. Dan, bukan mustahil kalau hal itu dibiarkan berlangsung terus, dapat berdampak pada stamina tubuh mereka menurun. Membuat mereka jatuh sakit. Oleh karena itu, dalam situasi dan kondisi demikian, kami selalu mengingatkan mereka untuk makan atau tidur.Like this

    BalasHapus
  6. Serunya jikalau lagi berkumpul bersama keluarga...

    BalasHapus
  7. Met Natal dan Tahun Baru 2012, Pak.

    BalasHapus
  8. @ Mas Adib: Sering tidak ketemu memang apa yang dipikirkan dan dilakukan anak dnegan apa yang dipikirkan orang tua,Mas.
    @Mas Slame: Yang tentu saja dirindukan oleh banyak orang, ya Mas.
    @Pak Mursyid: Terima kasih, Pak.

    BalasHapus

""