Kamis, 15 Desember 2011

Berpikir Beres


Awalnya saya berpikir beres terhadap pekerjaan yang telah saya selesaikan. Tidak ada persoalan lagi. Sehingga, pekerjaan itu langsung saya serahkan kepada teman sepelayanan, yang memiliki kepedulian untuk menggabungkannya dengan pekerjaan lain yang dikerjakan oleh teman sepelayanan lainnya. Diadakan penggabungan itu dengan maksud agar nantinya tidak dijumpai banyak kesalahan karena dobel sana-dobel ini. Setiap orang agar dapat terkonsentrasi dalam satu kegiatan, tidak terpecah konsentrasinya karena ada dua atau tiga kegiatan yang terjadwal.

Pikiran saya yang telah memformulasikan “beres” itu ternyata pupus manakala pekerjaan itu saya forumkan di hadapan banyak teman sepelayanan, setelah dilakukan penggabungan. Ya, karena di mata banyak orang ternyata pekerjaan yang di mata saya tampak beres, ada banyak dijumpai ketidakberesan. Hal itu menunjukkan bahwa sepasang mata saya yang sekalipun telah bergotong royong dengan pikiran saya ternyata tidak memiliki kemampuan yang boleh diandalkan dalam melakukan pekerjaan.

Dalam hal tertentu, pekerjaan agar beres perlu dihadapi banyak pasang mata dan pikiran. Mengandalkan kemampuan sendiri rupanya tidak ada apa-apanya dibanding dengan kerja sama dengan berbagai pihak. Karena, ternyata berbagai pihak dapat menyempurnakan pekerjaan, yang kita anggap telah beres. Begitulah kenyataannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""