Rabu, 21 Desember 2011

Di Balik Kaus Ada (Rasa) Cinta


Sebenarnya ketika kalimat dalam SMS saya baca, saya langsung mengirim balik SMS. Isinya menolak secara halus dibelikan kaus. Menolak dibelikan kaus karena saya pikir kaus belum saya butuhkan. Sementara itu, ada sesuatu yang lebih penting untuk didahulukan daripada membeli kaus untuk saya. Memang orang itu perlu membuat skala prioritas. Mana yang harus didahulukan dan mana yang harus dikemudiankan oleh karena ditinjau dari sisi kepentingannya.

Yang penting dan mendesak memang harus didahulukan. Karena, tentu saja hal itu diperlukan dan jika tidak dipenuhi keberadaannya saat itu akan mengganggu keberlangsungan sesuatu proses. Proses bisa jadi tersendat, tidak berjalan. Dan, akhirnya tidak ada hasil yang diharapkan. Dengan begitu, akan mengecewakan pihak tertentu atau malah banyak pihak. Siapa pun tentu tidak menginginkan hal seperti itu terjadi.

Di sisi lain, kalau pada kenyataannya belum membutuhkan, tetapi diadakan keberadaannya, boleh saja hal itu dianggap sebagai sebuah pemborosan. Buat apa dibelikan kalau memang belum butuh. Tentu saja sangat sedih jika pada akhirnya barang tersebut tidak dipergunakan saat itu karena memang belum dibutuhkan. Barang tersebut hanya disimpan saja. Sekalipun disimpan di tempat yang istimewa, toh barang tersebut tidak dimanfaatkan. Memang dengan disimpan, barang tersebut akan tetap awet sampai kapan pun apalagi penyimpanannya di tempat yang istimewa. Akan tetapi, tetap saja tidak baik karena barang itu hanya tersimpan. Bukankah sebuah barang dibeli seharusnya difungsikan sesuai dengan fungsinya? Kalau tidak difungsikan oleh karena hanya disimpan karena belum dibutuhkan bukankah itu namanya mubadir?

Oleh karena istri saya telanjur menanyakan harganya (kepada SPG, sales promotion girl) dan barangkali telah sepakat dengan harga itu, sekalipun saya SMS, yang isinya menolak dibelikan, tetap saja istri saya membeli kaus itu. Kalau sudah telanjur menanyakan dan sepakat harganya, tentu tidak enak ditolak. Itu barangkali yang terjadi di pikiran istri saya. Ya saya akhirnya tidak punya kekuatan untuk menolak lagi. Kalau saya tolak jangan-jangan istri saya malah tidak senang. Sebab, jangan-jangan membeli kaus itu ada maksud tertentu. Maksud positif tentunya. Apalagi sejak berangkat dari rumah tidak ada “aba-aba” akan membeli kaus untuk saya. Rencana itu sepertinya memang tidak ada. Yang ada adalah rencana membeli baju untuk si sulung. Dalam pikiran saya, sekalipun saya di rumah, ketika sampai di toko yang dituju ya mereka cukup membeli baju buat si sulung. Tidak untuk yang lain.

Kalau pada kenyataannya juga membelikan kaus untuk saya, tentu dipandang istri saya, hal itu penting. Ada sesuatu yang diinginkan, tetapi keinginan itu barangkali (sengaja) tidak dibicarakan dengan saya. Keinginan pribadi untuk suami, begitulah kira-kira. Sehingga, tidak mungkin dikompromikan terlebih dahulu. Dia sudah mengerti kalau hal itu dikompromikan dahulu dengan saya, saya pasti menolaknya karena saya memang belum membutuhkan kaus. Sekalipun sudah tidak bagus dan banyak, saya masih cukup memiliki kaus untuk dipakai berganti-ganti. Ya, bagi saya, tidak telanjang itu saja sudah cukup baik. Tidak perlu bagus dan harus baru. Selama masih pantas untuk dikenakan ya dipakai saja.

Saya akhirnya harus menghargai upaya (cinta) istri saya, itu. Cinta kepada saya yang diwujudkan lewat membelikan kaus harus saya sambut dengan benak yang bahagia. Sudah susah-susah memilihkan dan (tentu) saja mencari-cari yang cocok, rasanya tidak bermoral jika saya abaikan apalagi saya tolak. Saya membayangkan seperti kaum-kaum muda (berada) sekarang yang sedang kasmaran dan mewujudkan rindu dan cintanya itu lewat rangkaian bunga, yang diserahkan kepada kekasihnya. Terlihat begitu romantis. Kami memang tidak seromantis mereka, yang muda-muda kaum berada itu. Akan tetapi, paling tidak, memaknai upaya (cinta) istri dengan cara tulus menerima kaus itu sudah merupakan sikap yang berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""