Kamis, 22 Desember 2011

Hari Ibu Untuk Ibu yang Arif


Ketika saya membuka akun facebook dan membaca status milik salah satu anak didik saya, di sana tertulis ucapan hari ibu yang (sepertinya) diperuntukkan bagi ibunya. Sekalipun saya menangkap maknanya dapat juga ucapan itu diperuntukkan bagi semua kaum ibu, tidak hanya untuk ibunya. Saya baru tersadar detik itu bahwa hari ini, Kamis (22/12), tepat Hari Ibu. Hari yang dipergunakan untuk memperingati (tentu) “kebesaran” ibu-ibu di dalam perjuangannya mempertahankan eksistensi sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya dan seorang istri bagi suaminya. Ibu yang memiliki peran besar di dalam membangun keluarga tentunya. Ibu-ibu yang tidak memiliki andil di dalam membangun “kemuliaan” keluarga rasanya kurang tepat jika dikategorikan dalam ibu-ibu yang dimaksudkan dalam konsep Hari Ibu. Yang dikonsepkan dalam Hari Ibu tentu saja untuk ibu-ibu yang mau bertanggung jawab atas keluarga yang dibangunnya bersama suami. Itu artinya, ia adalah sosok ibu yang baik bagi anak-anaknya dan sosok istri yang baik bagi suaminya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa di masyarakat ada juga ibu-ibu yang kurang bertanggung jawab atas keluarga yang dibangunnya bersama suami. Saya pernah mendengar cerita teman tentang seorang ibu yang tega meninggalkan anak-anak dan suaminya demi membangun hubungan gelap dengan seorang laki-laki sekalipun anak-anak dan suaminya begitu mencintainya. Hanya, karena persoalan ekonomi yang kurang mencukupi “keinginannya” barangkali, ia tidak lagi mempedulikan anak-anak dan suami. Ibu yang demikian menurut saya kurang layak untuk dimasukkan dalam kategori cakupan misi dan visi Hari Ibu. Sebab, jika ibu yang demikian dimasukkan dalam kategori cakupan Hari Ibu, justru akan memberi citra buruk terhadap kemuliaan Hari Ibu.

Saya yakin ibu-ibu yang seperti saya contohkan di atas tidak sedikit jumlahnya. Ibu-ibu yang hanya memburu keinginannya belaka. Ingin memenuhi hasrat pribadinya belaka. Bukankah sejak awal membangun sebuah mahligai keluarga sudah diperhitungkan masak-masak? Suka dan duka dalam keluarga mestinya harus ditanggung bersama. Dinikmati dengan sabar dan syukur ketika duka baru menerpa keluarga dan dinikmati dengan bahagia dan syukur ketika suka baru dianugerahkan Sang Khalik bagi keluarga. Dengan begitu, keutuhan keluarga yang tentu saja didambakan banyak kalangan nyata terwujud. Ibu yang disosokkan pribadi lembut, penuh kasih sayang, memberi perlindungan, dan menyebarkan penyejuk bagi keluarga tidak ditinggalkan.

Ya begitulah ibu, seharunya dapat memberi damai dalam keluarga. Bahkan, sekalipun tidak sedikit pula yang mengalami ketidakadilan dalam keluarga oleh karena kesewenang-wenangan suami, ada banyak ibu yang tetap hormat kepada suami. Tidak sedikit ibu yang dapat menyimpan duka yang ditimpakan oleh suami kepadanya. Banyak sekali ibu tidak membuka derita yang ditimpakan kepadanya oleh suami kepada publik. Ibu dapat merahasaiakan dukanya itu dalam-dalam di dalam kehidupannya. Bahkan, dalam deritanya, ibu masih dapat membangun “senyum”  kepada putra-putrinya, yang dia harapkan ke depan tidak mengalami hal serupa yang dialaminya. Ibu sekalipun dibuat derita oleh suami, tetap berusaha “manis” di hadapan suami, melayani dengan cinta dan tulus. Ada banyak ibu yang demikian. Barangkali ibu-ibu yang demikianlah yang harus dapat “kemuliaan” di Hari Ibu seperti kali ini.

Tentu saja juga ibu-ibu seperti yang tadi telah saya singgung di atas, yang dapat membangun keberadaan keluarganya tetap dalam kondisi harmonis. Yang, mampu menetaskan anggota keluarga yang berpengharapan positif, optimis, bergairah menatap masa depan.  Ibu yang memiliki peran mengemban tugas dalam keluarga bersama suami. Ibu yang dapat mendidik anak-anak dan bahkan istri yang juga dapat mendidik suami yang, (maaf) kurang terdidik. Sebab, tidak sedikit suami yang melupakan tanggung jawabnya sebagai bapak bagi anak-anaknya dan suami bagi istrinya.

Ibu, berbeda dengan bapak, sering memiliki peran ganda. Peran publik dan peran domestik. Kedua peran tersebut, bagi ibu yang arif, akan dapat dijalankan dengan baik, tanpa meninggalkan kekuarangan. Dengan demikian, dibutuhkan pemikiran dan tenaga yang ekstra bagi seorang ibu yang arif. Di kantor, ia harus dapat mengerjakan pekerjaannya dengan profesional; di rumah, ia harus dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah dengan penuh kasih sayang dan kelembutan bagi anak-anak dan suaminya. Ini peran yang tidak mudah untuk dijalankan. Akan tetapi, banyak ibu yang mampu melakukan peran tersebut dengan sangat baik, mampu melayani di bidang publik, tetapi tidak mengabaikan pelayanan domestik. Dan, kenyataan seperti itu tidak dialami oleh bapak. Bapak lebih banyak menangani peran di tataran publik, agak mengabaikan perihal domestik. Barangkali itulah sehingga adanya Hari Ibu tidak boleh diiri oleh kaum bapak-bapak, yang menginginkan adanya Hari Bapak.

Hari Ibu kali ini semoga dapat menjadi momen yang strategis untuk “memanggil” kembali ibu-ibu yang selama ini meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu anak-anak dan istri dari suami. Menyadarkan kaum ibu yang melupakan perannya dalam keluarga, yang bersama-sama dengan suami mampu membangun keluarga yang baik. Hari Ibu kali ini juga semoga menjadi momen yang manis bagi kaum ibu untuk memerangi ketidakadilan yang terjadi dalam keluarga oleh karena kesewenang-wenangan suami. Hari Ibu kali ini semoga menjadi momen yang mulia untuk menghargai ibu-ibu yang telah begitu arif membangun keluarga yang bervisi jauh ke depan.

Oleh karena itu, anak-anak, bapak-bapak, marilah kita menghargai ibu-ibu  dan istri-istri (kita). Tidak perlu dibelikan roti tart, rangkaian bunga tujuh warna, kado berharga, atau apa saja yang berbau material. Menghargai ibu oleh anak-anak dan istri oleh suami adalah dengan membangun sikap hidup positif dalam keluarga dan membawa citra baik keluarga ke tengah-tengah masyarakat. Selamat Hari Ibu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""