Jumat, 16 Desember 2011

Kecil Tak Selalu Berdampak Kecil


Rumah tetangga, baru direnovasi. Karena berdekatan letaknya (bersebelahan), beberapa material habis gempuran yang hendak diganti dengan material baru (karena renovasi), sedikit mengotori teras rumah kami. Kotorannya berupa debu kecil-kecil, yang melekat langsung di keramik. Saya pikir tidak masalah, sebab memang begitulah hidup bertetangga. Harus saling memahami dan mengerti keadaaan masing-masing. Yang satu sedang memiliki hajat apa pun, yang satunya juga merasa turut menikmati. Yang satunya ada proyek, satu pun turut menerima dampak-dampaknya, entah baik entah buruk, tetapi toh itu sesuatu yang sangat alamiah. Tidak ada salahnya bukan? Sebab, boleh jadi di lain kesempatan kami pun melakukan hal serupa.

Saat meneruskan rumah kami (entah kapan), yang hingga kini belum kelar bangunannya karena kurang dana, tentu kotorannya juga melayang ke teras rumah tetangga. Mengotori keramik rumah mereka dan harapan kami mereka juga memiliki rasa dan sikap yang sama dengan kami. Tidak memandang kami dengan sebelah mata. Tetapi, melihat kami dengan sepenuh-penuhnya, seperti sediakala. Ada enak ada tidak enak ketika bertetangga dengan banyak orang itu hal yang sangat (-sangat) wajar. Semua harus dihadapi dengan baik-baik saja. Sebab, bukankah kita memang diciptakan juga sebagai makhluk sosial, yang mau tidak mau, berhubungan dengan orang lain? Manakala berhubungan dengan orang lain, ada duka dan sukanya. Itu adanya. Tidak ada enak terus, pun tidak ada buruk terus.

Nah, bagaimana jika melihat keramik rumah kotor berdebu oleh karena sebagai “korban” tetangga yang berproyek. Ya harus dibersihkan. Oleh istri saya, keramik itu akan dibersihakan dengan lap pel (dari handuk bekas), yang ukurannya besar. Saya kurang menyetujui karena menurut saya dengan lap pel handuk bekas yang besar itu tidak akan dapat menyeret debu secara tuntas hingga ke sela-sela kecil antar keramik dan keramik-tembok (dinding), yang boleh jadi di sana tempat bersarang banyak debu.  

Saya usulkan memakai waslap, handuk sarung tangan yang terbuat dari kain sejenis kain handuk yang biasa digunakan untuk merawat pasien rumah sakit, yang saya biasa gunakan untuk mengepel lantai. Melalui pengamatan sehari-hari selama saya mengepel menggunakan perkakas itu, hasil ngepelnya lebih bersih. Sebab, debu-debu yang bersarang di sela-sela kecil masih dapat terseret hingga bersih. Waslap sekalipun kecil mampu membersihkan lantai yang berdebu hingga sebersih-bersihnya. Hanya, memang diperlukan ketelatenan dan kesabaran yang lebih ekstra. Karena menggunakannya dengan  cara menginjaknya dengan kaki lalu menggosok-gosokkan di keramik yang kotor. Karena permukaan waslap relatif kecil, maka diperlukan waktu yang relatif lama untuk dapat meyelesaikan lantai keramik teras rumah hingga bersih.

Saya memandang, waslap, sekalipun kecil, tetapi mampu membersihkan hingga ke sela-sela sempit, yang barangkali tidak terjangkau kalau menggunakan lap pel handuk bekas yang besar ukurannya. Ya, itu artinya tidak setiap yang tampak kecil di mata kita selalu memberi dampak yang kecil. Dapat saja, yang kecil memberi sesuatu yang besar maknanya bagi kita. Anda percaya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""