Rabu, 28 Desember 2011

Keterbatasan Manusia


Kami memang punya rencana meneruskan pembangunan rumah, yang sudah beberapa tahun berhenti karena kehabisan dana. Kali ini, kami paling banyak membutuhkan pasir dan semen. Bahan yang lain tidak. Tukang untuk mengerjakan pekerjaan tersebut penting juga. Karena itu, hari-hari terakhir ini, mumpung libur kami berusaha berpikir tentang tentang tiga hal itu, pasir, semen, dan tuakng yang siap mengerjakan.

Dari ketiga hal itu, yang tampaknya paling sulit ditemukan adalah tukang. Sebab, ternyata, sekalipun akhir-akhir ini musim hujan (tetapi di daerah kami curah hujan masih relatif rendah) banyak orang yang membangun, baik itu merenovasi rumah maupun membangun rumah baru. Sehingga, walaupun di tempat tinggal kami banyak kelompok tukang, tampak sudah memiliki kesibukan masing-masing.

Saya sudah menghubungi beberapa orang, yang termasuk ahli dalam pertukangan batu, namun semuanya telah mendapat pekerjaan. Jadi, akhirnya saya tidak mendapatkan tukang batu. Pikir saya, kalau sudah mendapakan tukang batu, hal yang lain mudah ditangani karena di toko bangunan banyak tersedia. Semen banyak. Pasir apa lagi. Semen memang pernah mengalami kelangkaan sehingga harga per sak sangatlah membubung tinggi. Sementara, pasir tetap dalam kondisi stabil keberadaannya sehingga harganya pun relatif stabil. Itulah sebabnya, yang lebih dahulu saya usahakan adalah menemukan tukang. Akan tetapi, ya begitulah kenyataannya. Saya tidak dapat menjumpainya. Akan tetapi, ketika sedang membicarakan perihal tukang, salah satu tetangga nyeletuk, demikian, “tukang itu sepertinya banyak, tetapi ya kok sampai bisa kehabisan,”. Ia melanjutkan dengan memberi alasan bahwa  umumnya orang membangun itu musim-musin seperti ini (maksudnya musin hujan) sehingga tukang habis. Jarang orang membangun di musim kemarau panjang, mungkin saja rejekinya banyak yang muncul ketika musim-musim penghujan seperti ini.  

Ya tukang tidak saya temukan. Sehingga, saya tidak ingin segera membeli pasir dan semen. Pikir saya, untuk pengadaan pasir cukup membeli dengan cara sedikit-sedikt saja, dengan pasir kol. Membeli pasir satu kol. Kalau habis, membeli lagi. Begitu seterusnya. Sekalipun banyak orang mengatakan dan saya sendiri mengerti, membeli pasir dengan cara demikian justru menghabiskan banyak dana karena harga per kolnya relatif mahal. Lebih baik membeli pasir satu truk sekalian, harganya lebih murah. Akan tetapi, saya tetap berpikir membeli dengan cara satu kol-satu kol saja. Karena kalau saya membeli pasir satu truk, tentu pasirnya akan sisa banyak. Untuk semen tentu lebih mudah pengadaannya. Karena, semen sudah sak-sakan dari pabrik. Sekali membeli lima sak, misalnya; habis, membeli lagi. Begitulah pikir saya. Mudah dan lebih efektif bukan?

Akan tetapi, pikiran manusia begitu terbatas. Sesuatu yang tidak dipikir-pikir bisa saja terjadi. Artinya, kejadian itu berada di luar jangkauan pikiran manusia, bahkan boleh jadi telah ditolak-tolak. Begitulah yang saya alami kemarin, Selasa (27/12) sore. Tidak ada angin tidak ada apa, tiba-tiba salah satu tetangga bilang ada orang mau menjual pasir satu truk. Mulanya, pasir itu hendak dijual kepada salah satu tetangga, yang kebetulan masih saudara dekat dengan orang yang mau menjual pasir itu. Akan tetapi, salah satu tetangga yang hendak dituju tadi masih memiliki banyak pasir sehingga ia tidak mau menerima tawaran itu. Itulah sebabnya, salah satu tetangga yang mengetahui saya akan meneruskan pembangunan rumah menyampaikan hal tersebut kepada saya. Toh begitu, awalnya saya menolak dengan alasan buat apa membeli pasir kok banyak-banyak, nanti malah akan sisa. Apalagi penggunaannya tidak banyak. Saya tidak mau membeli sekalipun harganya murah.

Namun, setelah saya renungkan, saya berubah pikiran. Jangan-jangan memang itu “JalanTuhan”. Tuhan mengirimkan pasir satu truk untuk saya melalui “jalan” yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya. Berpikir positif begitu, saya akhirnya mengabaikan rencana saya membeli pasir kol-kolan.  Sebaliknya, saya memastikan siap membeli pasir satu truk itu. Dan, jadilah seperti apa yang saya yakini itu kehendak Tuhan.

Hal yang tak jauh berbeda terkait dengan tukang. Sore itu (juga) sejatinya sudah ada kepastian ada tukang yang mau mengerjakan. Kebetulan, ia masih tetangga kami. Hanya, karena sudah berumah tangga, ia tidak tinggal sekampung. Ia tinggal bersama istrinya, di kampung lain, tetapi masih dalam wilayah satu kabupaten. Ia sudah melanglang ke mana-mana, termasuk ke Jakarta menjadi tukang batu. Sore itu, ia datang ke rumah saya, berjanji ingin menghubungi teman-temannya dan besoknya, hari ini, Rabu (28/12) rencananya hendak memulai kerja. Harga sudah ada kesepakatan, per hari per pasang berapa. Akan tetapi, entah karena apa, tiba-tiba pagi tadi menghubungi saya lewat SMS membatalkan rencana itu. Saya menerima keputusan pembatalan itu dengan terbuka.

Saya berpikir positif saja. Inilah rencana manusia yang penuh dengan keterbatasan. Sudah direncanakan secara matang, termasuk harga setiap harinya, tidak tahunya batal juga. Melalui bantuan salah satu tetangga, menyusul keputusan pembatalan itu, dibawalah salah satu orang, yang kemudian saya ketahui orang itu tukang, ke rumah saya. Ia sanggup mengerjakan sepuluh hari karena saat ini masih mengerjakan bangunan di tempat lain. Perkiraannya sepuluh hari lagi pekerjaan itu selesai. Saya lantas menyanggupinya sembari merenungkan bahwa kejadian ini pun saya amini rencana Tuhan. Dan, saya pikir itu lebih baik. Buat apa memaksa-maksakan kehendak jika pada akhirnya kelak tidak membawa kebaikan. Bukankah begitu?

2 komentar:

  1. bisa jadi benar itu "jalan Tuhan" setelah menyaksikan pembangunan rumah sempat terhenti. semoga segera rampun dan bisa menjadi rumah yang nyaman buat keluarga, pak.

    BalasHapus
  2. Begtulah, Pak, yang terjadi atas kami. Terima kasih atas doa Pak Sawali.

    BalasHapus

""