Kamis, 22 Desember 2011

Kunjungan Belajar Ala Anak-anak


Si sulung bersama teman-teman satu lesnya, kemarin pagi, Rabu (21/12), berkunjung ke Semarang. Katanya, mengunjungi beberapa tempat yang bergerak di bidang usaha, di antaranya perusahaan Teh Sosro, Nissin, dan Nyonya Menner. Anak-anak yang mengikuti sepertinya cukup banyak karena di samping ada satu buah bus juga ada satu buah travel, mini bus. Orang tua yang mengikuti tidak banyak. Mereka terutama yang memiliki putra/putri masih kecil, kelas tiga SD, yang umumnya memang minta didampingi orang tua.

Mengisi waktu liburan dengan aktivitas bersama mengunjungi objek-objek tertentu sangatlah berguna bagi anak-anak. Di samping anak-anak dapat semakin dekat antarteman les dan juga dengan pembimbingnya, juga mereka dapat bersosialisasi dengan orang-orang lain, yang barangkali belum pernah dijumpainya. Kesempatan untuk membangun hubungan antarteman les dan pembimbingnya ketika dalam jam-jam les agaknya kurang memberi peluang membangun suasana keakraban. Berbeda dengan ketika mengadakan aktivitas bersama dalam bentuk rekreasi ke objek-objek tertentu, misalnya, seperti yang kali ini dilakukan. Anak-anak akan semakin akrab. Satu dengan yang lain akan semakin saling mengenal.

Demikian juga dengan guru/pembimbingnya, anak-anak akan semakin lebih akrab. Rasa takut yang barangkali muncul ketika les oleh karena bersifat formal, dalam aktivitas semacam ini (tidak bersifat formal) akan membantu menghilangkan rasa takut. Keberanian anak-anak terbentuk oleh karena suasana yang mendukung. Suasana rekreasi suasana yang mampu membangun rasa percaya diri anak. Dengan begitu, mental dan psikis anak-anak dapat bertumbuh kembang.

Apalagi ketika sudah berada di lokasi tujuan, anak-anak akan menemukan sesuatu yang baru. Dan, kondisi demikian sangat membantu pertumbuhan sikap, mental, psikis, dan intelektual anak-anak. Anak-anak akan mengenal banyak hal baru di lokasi yang dituju. Mereka akan menjumpai banyak orang yang memiliki profesi berbeda dengan yang sudah mereka jumpai keseharian. Mereka juga akan menjumpai secara langsung berbagai-bagai kegiatan, yang mungkin saja selama ini hanya dapat dilihat di televisi. Bahkan, melalui objek-objek itu, anak-anak dapat menemukan pengetahuan-pengetahuan baru, misalnya, bagaimana proses membuat teh Sosro, produk-produk Nissin, dan jamu Nyonya Menner. Anak-anak akhirnya mengenal lingkungannya.

Anak-anak akan tumbuh kesadaran bahwa begitu beragamnya apa yang mereka lihat di lingkungan yang dikunjunginya. Orang tidak hanya seprofesi. Ada banyak kebiasaan. Tidak sedikit perbedaan cara orang berbicara, berpakaian, berjalan, berjualan, dan berusaha. Selama perjalanan dan di tempat kunjungan, anak-anak akan melihat bagaimana ada orang yang bekerja keras di tempat-tempat terbuka, di kantor, di kendaraan, dan di tempat-tempat lain. Hal-hal itu akan sangat memperkaya wawasan mereka. Tentu saja harapan kita (orang tua), melalui itu semua, anak-anak dapat terinspirasi hal-hal positif, yang kelak bukan mustahil menjadi “jalan” hidup mereka manakala sudah terjun d tengah-tengah masyarakat.

Pengalaman-pengalaman yang diperolehnya itu menjadi kekayaan akademis bagi mereka. Anak-anak dapat menceritakan hasil kunjungannya itu kepada siapa saja. Di rumah, hal itu dipastikan diceritakan kepada orang tua dan saudara yang tidak ikut berkunjung. Ia berbagi kepada orang lain tentang pengalaman yang didapat. Di sekolah (besok kalau sudah masuk), boleh jadi diceritakan pula kepada teman-temannya. Tentang apa saja yang diketahui, baik yang lucu, yang aneh, yang baru, maupun yang bagaimana saja, pokoknya yang mereka dapat, terbuka diceritakan kepada orang lain. Sebab, begitu itu bagi mereka (anak-anak) merupakan kegembiraan yang tidak dapat tertandingi. Bercerita pengalamannya kepada orang lain sesuatu yang menggembirakan mereka.

Bahkan, bukan tidak mungkin hal kebendaan apa saja yang diperoleh dari tempat kunjung dibagikan juga kepada orang lain, orang tua, adik, kakak, atau teman-teman dekat mereka. Si sulung, yang memperoleh jajan dari Nissin dan Teh Sosro, misalnya,  diberikan kepada adiknya. Tidak hanya berbagi tentang pengalaman yang dapat memperkaya aspek akademis, tetapi juga berbagi perihal kebendaaan/material, yang boleh jadi hal itu merupakan wujud cintanya, perhatiannya, kepada yang diberi. Si sulung ketika pergi masih mengingat yang di rumah, adiknya, dan karenanya dibawakan sesuatu yang dimungkinkan adiknya menyukai, jenis jajan-jajan itu. Kepada orang tuanya, kami, ia bercerita pengalaman yang didapat selama berkunjung.

Hal yang perlu saya catat juga di sini adalah, si sulung ternyata tidak membawa uang saku saat mengikuti acara itu. Saya berpikir (saat mengantar di tempat pemberangkatan) si sulung sudah mendapat uang saku dari ibunya. Karena memang biasanya ibunya yang memberi uang saku. Jadi, saya tidak bertanya perihal itu. Apalagi si sulung juga tidak menanyakan uang saku itu kepada saya. Saya pikir semua sudah beres. Akan tetapi, ketika sampai di rumah (sepulang mengantar si sulung ke tempat pemberangkatan), ibunya bilang bahwa si sulung tidak membawa uang saku. Ibunya langsung ngebel lewat HP. Ibunya bermaksud, kalau si sulung butuh apa-apa sementara pinjam teman yang membawa uang agak lebih, nanti sekembalinya dari kunjungan dikembalikan. Akan tetapi, si sulung sepertinya tidak mau melakukan tindakan itu.

Saya, terutama, tidak berpikir berat tentang si sulung tidak membawa uang saku itu. Si sulung tetap akan dapat mengikuti aktivitas itu sampai tuntas karena panitia menyediakan makan dan minum bagi anak-anak. Anak-anak sudah beriur untuk keperluan itu. Apalagi si sulung juga telah membawa beberapa snack kesuakaannya yang sudah dipersiapkan sejak sore harinya. Hanya memang, ia tidak dapat membeli sesuatu ketika temannya membeli, misalnya. Ketika teman-temannya membeli itu membeli ini, ia menjadi “penonton”. Dan, itu memang diceritakan juga oleh si sulung ketika tiba di rumah. Menceritakan dengan raut yang ria. Itulah sebabnya saya tetap bangga karena si sulung sekalipun tidak membawa uang saku selama kunjungan itu, kepulangannya membawa hati yang tampak gembira. Bahkan, ia membawa oleh-oleh (seperti yang telah disinggung di atas) juga untuk adiknya dan dirinya sendiri (dua bungkus snack, yang cukup beragam jenisnya), yang katanya diberi secara gratis oleh Nissin. Itulah kunjungan belajar ala anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""