Selasa, 20 Desember 2011

Mendidik Adik Secara Persuasif


Sore tadi si sulung begitu peka. Ketika melihat adiknya, si bungsu, agak rewel, ia menawarkan diri membuat perahu kertas kepada adiknya. Sebelumnya ia mengajak adiknya untuk mandi. Akan tetapi, adiknya tidak mau dan tetap menggelendot di tubuh saya, yang sedang menyapu di dalam rumah. Barangkali si sulung dengan menawarkan diri membuat perahu kertas, adiknya lebih luluh dan akhirnya mau diajak mandi. Dan, sepertinya langkah persuasif itu cukup ampuh. Dalam waktu sekejap saja adiknya mau mendekat kepadanya, yang artinya mau dibuatkan perahu kertas, yang saya kira akhirnya juga mau dimandikan.

Lantas, si sulung menanyakan kertas kepada saya untuk dibuat perahu. Saya menyarankan mencari di ruang komputer, yang pasti ada kertas bisa dibuat perahu. Benar juga. Ia mendapatkan kertas. Adiknya dibuatkan satu perahu kertas dengan ilmu melipat yang dahulu ketika ia masih SD pernah diajari oleh gurunya. Ilmu melipat itu dipraktikkan dan hasilnya (perahu kertas) diberikan kepada adiknya. Si bungsu terlihat gembira. Bahkan memamer-mamerkan perahu kertasnya itu kepada saya. Sementara itu, si sulung masih membuat lagi. Barangkali dia satu dan adiknya satu. Masing-masing memiliki satu.

Dengan demikian, adiknya akan tetap merasa tidak terganggu jika saat bermain-main perahu kertas di kamar mandi si sulung memegang-megang salah satu perahu kertas itu. Andai perahu kertasnya satu, ketika bermain-main di kamar mandi dan si sulung memegangnya, pastilah si bungsu memberontak. Berpikir bahwa perahu kertas itu miliknya, tidak milik kakaknya sehingga kakaknya tidak berhak memegang. Permaianan apa saja jika jumlahnya satu, si bungsu selalu mengklaim bahwa permainan itu miliknya. Jadi, orang lain, termasuk kakaknya, tidak diperbolehkan memegang. Jika orang lain memegang, si bungsu pasti marah-marah atau menangis “mercari” pertolongan.

Membuat dua perahu kertas itu berarti menciptakan ketenangan. Si bungsu dapat bermain bebas, si sulung juga demikian. Sekalipun saya yakin si sulung tidak bermaksud bermain-main perahu kertas seperti adiknya, yang memang masih kecil itu. Si sulung hanya mengawali bagaimana caranya agar adiknya mau dimandikan. Oleh karena itu, ketika hendak bermain-main perahu, pakaian adiknya dilucuti semua. Dan si bungsu mengikut saja. Sehingga, ketika masuk ke kamar mandi dan memain-mainkan perahu di bak mandi yang terlebih dahulu dipenuhi dengan air, si bungsu dalam kondisi telanjang.

Beberapa saat mereka memang bermain-main perahu kertas di bak mandi. Si bungsu terlihat senang. Ia sepertinya begitu menikmati permainan itu. Saya berpikir bahwa aktivitas itu adalah bagian dari sebuah pendidikan alamiah. Saya yakin si sulung tidak menyadarinya bahwa itu sebenarnya sebuah pendidikan. Sekalipun dia tidak menyadari, tetapi dia telah melakukan hal yang terbaik buat adiknya. Si bungsu dikenalkan tentang perahu itu seperti apa, berjalannya menggunakan media apa. Dan, saya yakin pula si bungsu memiliki gambaran bahwa perahu itu seperti yang dibuatkan kakaknya dan tempat berjalannya di air. Bukankah ini sebuah pengenalan yang menarik, apalagi dilakukan oleh kakak kepada adiknya?

Hal yang menarik lagi adalah adiknya mau dimandikan setelah bermain-main perahu kertas itu. Saya tidak mengerti dari mana si sulung dapat menbuat cara yang sangat persuasif itu. Dengan cara begitu akhirnya si bungsu dengan senang hati mau dimandikan. Tidak menolak seperti awalnya. Dengan cara bermain-main perahu kertas, yang mau tidak mau harus bersentuhan dengan air, menjadikan si bungsu begitu mudah untuk mandi. Tidak perlu dipaksa-paksa si bungsu menikmati mandinya dengan bercelotehan di hadapan kakaknya. Saya, sebagai orang tua yang sekaligus guru, sangat menghargai peristiwa yang sangat menginspirasi bagi sebuah pembelajaran itu. Terima kasih, anak-anakku yang cantik!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""