Sabtu, 03 Desember 2011

Mendidik Bersama


Saya hanya mau menceritakan pengalaman yang baru saya dapatkan kemarin siang. Ketika saya hendak menuju ke tempat parkir motor guru, beberapa anak didik saya berjalan ke luar sekolah. Mereka masih berada di tengah-tengah lapangan halaman sekolah, yang biasa digunakan untuk upacara. Mereka saya ketahui berasal dari arah tempat parkir motor guru. Begitu mereka melihat saya, berhamburanlah mereka ke luar sekolah. Waktu itu memang jam pulang sekolah. Saya spontan berpikir tidak baik terhadap anak-anak tersebut. Pasti ada sesuatu yang dilakukan anak-anak itu di tempat parkir motor guru.

Tempat parkir motor guru memang bukan jalan tembus. Jalan yang tidak dapat dilewati anak didik ketika pergi maupun pulang sekolah. Memang posisinya agak "merangsang" anak-anak yang tidak suka lewat pintu sebenarnya, karena dekat dengan ruang-ruang kelas. Di sebaliknya dinding ruang-ruang kelas itu tempat parkir motor guru berada. Jadi, tempat parkir itu dapat menjadi “jalur” alteratif yang dapat dilewati agar lebih cepat sampai ke jalan, di luar sekolah. Hanya memang, sejak lama tempat parkir motor guru itu tidak boleh dilewati oleh anak didik ketika jam sekolah berlangsung, termasuk ketika pergi dan pulang sekolah.

Akan tetapi, namanya anak, masih ada saja yang hendak memanfaatkan areal itu untuk dilewati. Bahkan, ketika habis upacara, suatu ketika, beberapa anak menerobos tempat parkir motor guru itu menuju ke ruang kelas. Sudah diingatkan. Tetapi yang terjadi di lain waktu juga begitu. Dilewati lagi. Tempat parkir itu memang memiliki pintu besi. Hanya, pintu besi itu tidak selalu dikunci. Hanya ditutup rapat begitu, yang menandakan bahwa areal itu bukan tempat untuk dilewati.  Tidak dikuncinya pintu itu agar memudahkan para guru jika hendak ke luar atau masuk tempat parkir guna mengambil atau memarkir motor.

Kembali ke cerita semula. Begitu saya sampai di tempat parkir, di dekat motor saya (kebetulan hari itu saya mengendari motor, tidak menaiki sepeda oleh karena ada acara di luar sekolah), mata saya tertumbuk pada ceceran ludah yang ada di jok bagian belakang motor saya. Pikir saya langsung ke anak-anak didik saya tadi. Mereka pasti yang meludahi jok saya ini. Saya langsung mencari mereka, tetapi “sekumpulan” anak tadi sudah menghilang, entah ke mana.

Namun, satu anak saya jumpai. Ia yang akhirnya menunjukkan beberapa anak yang melewati tempat parkir motor guru itu, yang saya minta ditulis di selembar kertas. Saya memanfaatkan catatan itu untuk mengumpulkan mereka di hari berikutnya melewati guru bimbingan dan karier (BK). Terkumpullah tujuh anak. Mereka diwawancarai di ruang BK. Melalui wawancara itu dihasilkan sebuah keputusan, yaitu ada dua anak yang bermain-main ludah dan ludahnya itu mengenai jok motor saya. Keputusan itu merupakan pengakuan kedua anak tersebut.

Saya diundang oleh teman guru BK untuk diberitahu hasilnya dan sekaligus melihat anak-anak, yang ketika itu masih berada di ruang BK. Dua anak yang mengaku bermain-main ludah dan tiga anak sebagai saksi. Yang dua anak sudah kembali ke ruang kelas karena kedua anak itu disimpulkan tidak terlibat. Pengakuan kedua anak itu saya kembangkan untuk mengetahui hal yang sebenarnya. Benar, setelah saya bertanya lebih dalam dengan mendasarkan pada beberapa informasi guru BK, saya mendapatkan pengakuan yang lebih mendekati kebenaran, yakni mereka tidak bermain-main ludah, tetapi sengaja meludahi.

Hanya, satu anak yang mengaku meludahi. Satunya mengaku tidak meludahi. Akan tetapi, yang tidak meludahi tetap dikatakan oleh yang meludahi turut meludahi. Sekalipun saya menyuruh beberapa temannya yang tergabung dalam “sekumpulan” itu untuk memberi kesaksian, tidak ada yang dapat memberikan kesaksian yang cukup dapat dipertanggungjawabkan. Mereka lebih banyak memberikan jawaban, tidak tahu, dengan alasan ini alasan itu. Jadinya, di hari itu belum ada sebuah keputusan final.

Saya akhirnya berkeputusan di hadapan mereka berdua untuk hari juga dapat bertemu orang tua mereka di rumah secara bergantian. Maksud saya biar persoalan itu cepat selesai dan sekaligus orang tua mereka mengetahui. Sebab, pengalaman menunjukkan ada banyak orang tua yang kurang mengetahui persis bagaimana sebenarnya anak mereka di sekolah. Tidak sedikit orang tua yang mengaku bahwa anaknya di rumah baik-baik saja, tetapi fakta yang terjadi di sekolah sebaliknya, anaknya melakukan penyimpangan perilaku. Mengetahui keinginan saya begitu, mereka (kedua anak tersebut) tidak menyetujui saya datang ke rumah. Akhirnya niat itu saya urungkan, dengan syarat besoknya orang tua harus datang ke sekolah. Mereka berjanji memberitahu orang tua mereka untuk datang ke sekolah.

Hari ini, Sabtu (3/12), tadi pagi, orang tua salah satu anak tersebut hadir di sekolah. Tetapi yang satunya tidak hadir. Dengan susah payah, saya akhirnya dapat menghadirkan orang tua anak didik saya yang satunya itu. Kedua orang tua akhirnya berada di hadapan anak-anak mereka. Kami (saya dan guru BK) menghadirkan kedua orang tua dengan maksud agar orang tua dapat menjadi saksi apa yang hendak dikatakan oleh anak-anak mereka atas pengakuan mereka yang telah dikatakan kepada saya. Pikir saya, di depan orang tua, mereka akan berbicara dengan sejujur-jujurnya. Ada perubahan pengakuan, siapa sejatinya yang meludahi jok motor saya. Akan tetapi, meski berada di depan orang tua, (ternyata) mereka tetap mengaku seperti pengakuannya di depan saya, yakni yang satu meludahi, yang satunya tidak tetapi tetap dikatakan ikut meludahi oleh yang meludahi. Hanya, yang mengaku meludahi ketika mengatakan temannya itu turut meludahi terlihat agak grogi. Dari sini sebenarnya dapat saja saya menyimpulkan bahwa yang meludahi hanya satu anak. Yang dikatakan turut meludahi berarti tidak meludahi. Akan tetapi, saya tidak serta merta mengambil keputusan berdasarkan itu.   

Saya hanya menginginkan kejujuran mereka. Tidak yang lain. Kalau mengakui dengan jujur, tentu tidak ada sanksi yang berat. Berjanji untuk tidak berbuat serupa itu lagi dengan membuat surat pernyataan yang diketahui oleh orang tua. Itu saja.  Akan tetapi, sejauh itu pula belum saya peroleh kejujuran mereka. Saya merasa sulit mengambil keputusan. Tampaknya demikian juga orang tua mereka.   

Saya akhirnya menagtakan bahwa persoalan ini belum selesai. Saya mengaku di hadapan mereka (anak-anak dan orang tua) bahwa saya tidak dapat menyelasikan persoalan ini. Bahwa saya barangkali termasuk guru yang tidak memiliki kemampuan mendidik anak-anak. Bahwa saya barangkali termasuk guru yang tidak baik. Karena itu, selanjutnya saya mengatakan persoalan ini lebih baiknya diselesaikan di kantor polisi saja karena terkait dengan persoalan pelecehan, penghinaan terhadap seseorang. Saya begitu kaget ketika salah satu orang tua dari anak didik saya itu setuju. Artinya, ia setuju kasus itu dipolisikan. Dan, ketika saya bertanya kepada orang tua anak didik saya yang satunya, ternyata menyambut dengan cara yang sama. Ia setuju juga kasus itu dipolisikan. Dan, ketika hal itu saya tawarkan kepada kedua anak tersebut, yang satu setuju, yang satunya (yang meludahi dan mengatakan bahwa temannya ikut meludahi itu) tidak setuju. Tentu karena takut, akhirnya ia mengakui bahwa dirinyalah yang meludahi, yang lain tidak.

Saya berpikir bahwa ini adalah bagian dari sebuah proses pembelajaran yang menarik. Karena sangat jarang ada orang tua yang berani “bertaruh” seperti itu. Ini tidak cerita. Ini fakta. Hal yang sungguh terjadi. Dan, saya tidak mengerti kenapa ada orang tua yang berani bersikap demikian. Ini pengalaman yang sulit saya lupakan. Saya menemukan pada kedua orang tua itu ada “kejujuran” untuk membangun karakter anaknya. Ah, andai banyak orang tua/wali murid yang sedemikian, tentu tugas untuk membangun karakter anak-anak tidaklah berat.

Dan, tentu saja saya tidak akan mengalami peristiwa yang demikian itu. Jok sepeda motor diludahi. Hanya karena anak merasa tidak terima ketika melakukan perilaku menyimpang di sekolah diperingatkan/ditegur/dinasihati dan diberi tindakan. Rasanya tidak mungkin dibiarkan begitu saja jika dijumpai anak didik yang melanggar tata tertib sekolah. Apalagi pelanggaran yang dilakukan sering kali. Saya dan tentu semua guru merasa memiliki tanggung jawab untuk memperbaikinya.

1 komentar:

  1. Hemh...! Saya ikut prihatin atas perilaku siswa yang sampai sekurang ajar itu, Pak.

    BalasHapus

""