Kamis, 15 Desember 2011

Menghadapi Kasus Anak Perlu Kearifan



Disadari atau tidak, sering kita, sebagai orang tua/wali murid, ketika mendapat laporan dari anak tentang perihal yang didapatnya dari sekolah, langsung kita terima, yang kadang kurang arif. Apalagi jika laporan yang disampaikan anak itu sepertinya bermuatan merugikan anak. Orang tua/wali murid sering langsung bersikap memberi “pembelaan”. Memberi pembelaan dalam arti kita, sebagai orang tua/wali murid, langsung menuduh sekolah (dalam hal ini guru) yang salah. Guru dianggap telah melakukan tindakan tidak atau kurang benar terhadap anak.

Apalagi jika orang tua hanya melihat sisi positif anak. Tidak pernah melihat sisi negatif anak. Karena, di rumah anak sering menunjukkan sikap-sikap yang baik, sementara sikap yang sejatinya tersembunyikan. Bukankah banyak anak yang berlaku seperti itu? Di depan orang tua terlihat santun, baik, terpuji, rajin belajar; tetapi, di luar pantauan orang tua, mereka dapat bersikap berbalik 180 derajat. Ini yang sangat membahayakan kita, selaku orang tua/wali murid, ketika sudah memformulasikan anak pasti baik dan tidak pernah berbuat tidak baik.

Dalam kondisi demikian, barangkali anak sudah merasa berada “di atas angin” karena orang tua/wali murid memberikan semacam “perlindungan”. Anak dapat saja akhirnya semakin merasa tidak hormat kepada guru karena secara tidak tersadari oleh orang tua/wali murid, anak mendapat dukungan. Dukungan yang sejatinya semakin menghancurkan karakter anak (kita). Karena semestinya kalaupun benar-benar sekolah (guru) yang salah, orang tua/wali murid tetap dapat merespon secara arif persoalan tersebut. Dapat saja bersikap emosi, tetapi sikap emosi itu tidak perlu ditunjukkan di hadapan anak. Karena jika sudah demikian, anak sudah mendapatkan model yang kurang baik terhadap perkembangan mentalnya. Kita tentu sepakat tidak memberikan model kurang baik di hadapan anak-anak kita.

Itulah sebabnya, orangtua/wali murid dapat saja menemui guru, baik di rumah atau di sekolah (di sekolah lebih baik). Karena, persoalan yang dihadapi murni persoalan di pekerjaan, bukan di rumah. Dengan demikian, segala sesuatunya lebih dapat dibicarakan secara proporsional dan profesional. Menyampaikan perihal yang disampaikan anak itu kepada guru untuk meminta klarifikasi/konfirmasi. Apakah sesuatu yang telah disampaikan anak di rumah itu sesuai dengan faktanya atau tidak. Sebab, bukan mustahil anak demi mencari amannya (ini hanya berlaku bagi anak-anak tertentu) mengatakan apa yang tidak sebenarnya terjadi. Mengatakan dipukul guru, padahal sekadar disentuh bagian pipinya saja; mengatakan ditempeleng, padahal hanya sekadar dipegang kepalanya. Di sinilah orang tua dituntut untuk dapat lebih arif ketika menerima laporan dari si anak.

Beberapa hari yang lalu saya baru menjumpai persoalan serupa itu di sekolah. Ada persoalan yang menimpa beberapa siswa didik terkait dengan kedisiplinan dan keetikaan sebagai pelajar. Wajar jika kami, sebagai guru, mengingatkan kepada siswa didik yang kurang menaati tata tertib sekolah. Tentu saja teguran/peringatan/tindakan yang diberikan sesuai dengan kapasitas dan tingkat kekerapan siswa didik melakukan pelanggaran. Peristiwa yang kemarin memang agak berat kasusnya sehingga kami harus mengambil tindakan yang agak lebih tegas. Akan tetapi, salah satu siswa didik kami rupanya kurang dapat menerima tindakan tegas kami.

Di rumah, barangkali, dia menyampaikan sesuatu yang kurang benar kepada orang tuanya. Hanya, oleh karena orang tua/wali murid kurang dapat bersikap arif, lantas spontan berpikir guru telah berbuat salah. Melalui telepon kepada salah satu guru yang dapat dihubungi, pembicaraannya terdengar sangat emosional. Sampai-sampai keluar perkataan akan mengasuskan persoalan yang belum diketahuinya secara pasti, itu ke polisi. Saya tidak mengerti, apakah ketika mengatakan seperti itu ia berada di hadapan anaknya atau tidak. Kalau benar ada di hadapan anaknya, tentu ini sebuah pembelajaran yang kurang baik bagi anaknya. Jelas sikap orang tua yang seperti itu kurang arif. Untung salah satu teman guru yang dihubungi itu mengatakan agar persoalan tersebut disampaikan saja ke sekolah di lain kesempatan. Sebab, menurut teman saya, persoalannya tidak akan tuntas kalau hanya dikomunikasikan lewat telepon, bahkan bisa jadi malah semakin amburadul. Akan sangat membantu menyelesaikan persoalan apabila dikomunikasikan di sekolah secara baik-baik.

Tampaknya memang ada itikad baik sebab orang tua (yang diwakili oleh “buliknya” siswa didik kami) dan kakaknya datang ke sekolah. Mereka menyampaikan keinginan untuk mengetahui duduk perkaranya. Kami melihat ini sesuatu yang positif. Karenanya kami menyampaikan apa adanya. Anak tersebut dipegang bagian pipinya dan bagian kepalanya oleh salah seorang guru, tidak dipukul atau ditempeleng. Sembari diberi teguran/nasihat dengan suara yang agak keras dan tegas. Kami (akhirnya) juga membeberkan hal-hal pelanggaran yang dilakukan oleh yang bersangkutan di sekolah karena kami memang memiliki catatan kasus anak-anak didik di sekolah. Mendengar penuturan dan memahami catatan-catatan itu, mereka baru melihat bahwa pada anak didik yang bersangkutan  (keponakan atau adik) justru perlu ada perhatian lebih serius. Sebab, ada indikasi sikap berbohong.

Inilah pentingnya menghadapi segala sesuatu dengan lebih arif. Kearifan akan membawa dampak positif bagi siapa saja. Lebih-lebih bagi anak-anak yang memang memerlukan teladan-teladan kepribadian yang baik dalam keberlangsungan hidup mereka. Baik itu di rumah, sekolah, maupun di tengah-tengah masyarakat umum. Melihat persoalan anak dengan kaca mata yang proporsional dan profesional, diakui atau tidak, memberi dampak positif bagi pertumbuhan psikologi anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""