Kamis, 15 Desember 2011

Mengolah Nilai Perlu Kecermatan


Minggu ini guru-guru disibukkan dengan kegiatan mengolah nilai. Nilai yang diperoleh anak didik selama satu semester. Yakni, nilai-nilai formatif dan nilai sumatif. Nilai-nilai itulah yang nantinya dapat digunakan sebagai cermin untuk melihat sampai sejauh mana anak-anak memiliki kompetensi. Tentu saja (akhirnya) dapat diketahui, ada anak didik yang berprestasi dan ada yang kurang berprestasi. Anak-anak yang berprestasi tentu saja bukan tanpa modal. Mereka sudah pasti memiliki modal untuk dapat memeroleh hasil yang baik, yaitu melalui aktivitas belajar yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, anak-anak yang kurang berprestasi boleh jadi memang kurang belajar secara intens.

Hanya, kadang nilai yang berupa angka-angka (kuantitatif), yang diterakan dalam buku laporan hasil pembelajaran (rapor), itu agak sulit diputuskan oleh karena penilaian sikap (kualitatif) pun tidak boleh diabaikan. Karena ada dijumpai anak-anak yang mendapat nilai angka bagus, tetapi sikapnya kurang baik. Di sinilah dibutuhkan kecermatan guru dalam mengambil keputusan dalam memberi nilai kepada anak didiknya. Tentu tidak diharapkan pemberian nilai kepada anak didik itu (akhirnya) menimbulkan persoalan baru, baik di kalangan para guru maupun anak-anak di satu sekolah, apalagi bagi anaknya sendiri dan orang tua/wali murid.

Anak didik yang mungkin nilai kompetensinya kurang, tetapi sikapnya baik dan terpuji, boleh jadi ada pertimbangan khusus. Pertimbangan khusus dengan melihat bahwa sikap baik dan terpuji yang dimiliki itu dapat memberi kontribusi positif dalam keputusan pemberian nilai. Dengan demikian, anak didik yang kompetensinya kurang dapat tertolong melalui sikap baiknya. Keputusan tersebut boleh jadi menjadi semacam motivasi bagi anak didik tersebut untuk lebih memacu potensi dirinya. Sebab, kalau sikap baik dan terpujinya tidak dipergunakan sebagai bahan pertimbangan yang berkonsekuensi pada pemberian nilai apa adanya, bukan mustahil justru menimbulkan sikap pesismistis pada anak didik itu. Barangkali prinsip menolong bagi yang sikapnya terpuji penting diterapkan. Dan bukankah ini bagian dari kecermatan guru dalam memberi nilai?      

Dengan kecermatan guru dalam memberi nilai, diharapkan nilai yang tertera di rapor sungguh dapat dijadikan cermin keontetikan kompetensi siswa. Siswa yang memiliki prestasi baik maupun yang kurang benar-benar tecermin lewat nilai tersebut. Karenanya diperlukan kerja sama antarguru, lebih-lebih untuk anak-anak SMP dan SMA sederajat, yang memang gurunya per mata pelajaran (mapel). Guru satu dengan guru yang lain perlu membangun persepsi yang sama terhadap keberadaan anak didiknya seutuhnya. Untuk menemukan gambaran kompetensi dan sikap sebenarnya. Dengan demikian, ketika rapor sudah berada di tangan anak didik, anak didik merasa bahwa apa yang diterimanya itu sesuai dengan keberadaan dirinya, baik kompetensi maupun sikapnya.       

Diharapkan lewat nilai-nilai yang dapat dibaca di dalam rapor, anak didik benar-benar berkaca dan mengambil keputusan untuk melangkah dengan lebih baik dalam proses pembelajaran berikutnya.

2 komentar:

  1. tampilannya seger. pasti ini hasil kecermatan menilai tema-tema yang ada.
    penilan afektif yang tepat akan menantang anak untuk berkarakter lebih positif

    BalasHapus
  2. Ya, Pak seger, tapi saya masih kesulitan bagaimana menghilangkan satu post dari post yang dobel. bapak dapat membantu....

    BalasHapus

""