Sabtu, 24 Desember 2011

Menguji Kesabaran


Kemarin, Jumat (23/12), kami pergi ke Semarang mengendarai mobil kepunyaan saudara. Si bungsu turut serta. Semalam sebelum  berangkat, seperti anak-anak kecil pada umunya, ia begitu hasrat segera pergi. Hal itu mengingatkan diri saya ketika masih kecil. Ketika hendak bepergian, lebih-lebih jika tujuannya tempat yang baru, sulit memejamkan mata. Membuat mata tertidur begitu berat. Karena, yang ada dalam pikiran gambaran-gambaran semua yang terkait dengan acara bepergian tersebut. Ingin saja segera berangkat.

Kehasratan si bungsu pergi ke Semarang, ke rumah saudaranya, terjawab sudah. Awalnya, ketika menaiki mobil, ia begitu gembira. Apalagi di dalam mobil telah menunggu beberapa saudara. Satu anak, keponakan saya, seusianya, yang sejak semalam menjadi bahan perbincangan si bungsu, dapat dijumpainya. Betapa senangnya ia. Menit-menit pertama di dalam mobil, si bungsu sungguh riangnya, bermain, berbincang-bincang, dan bersenda gurau dengan saudaranya. Akan tetapi, tidak terlalu lama, tiba-tiba, ia terlihat lemas. Mulai muntah-muntah. Ia mabuk.

Saya memang sudah mengetahui sejak lama keberadaan si bungsu jika dalam mobil. Selalu begitu. Muntah-muntah. Tidak sekali muntahnya, tetapi berulang kali. Sehingga, kegembiraan yang dibangunnya dengan saudaranya itu hanya sesaat. Selebihnya waktu yang ada dalam perjalanan menuju Semarang itu, ia selalu berada dalam pangkuan saya. Ibunya tidak ikut karena saat itu sedang bekerja. Kalau ibunya ikut, dalam kondisi seperti itu, biasanya ia berada di pangkuan ibunya. Akan tetapi, tidak dapat lama, karena ibunya juga memiliki “tradisi” yang sama. Muntah-muntah ketika berada dalam mobil saat melakukan perjalanan.

Karena berulang kali muntah, si bungsu tidak mengalami kenyamanan dalam perjalanan. Sebentar merebahkan tubuhnya ke dekapan saya, sebentar bangun lantas muntah-muntah. Begitu itu terjadi berualng-ulang. Jadi, membuat dirinya tidak nyaman benar. Raut wajahnya terlihat pucat. Tubuh lemas dan matanya tampak layu. Saudara sepupu yang sebayanya itu tidak dapat bermain-main lagi dengan si bungsu. Ia menikmati kesibukannya sendiri. Bulik si bungsu, adik saya, sepertinya turut merasakan ketidaknyamanan yang dirasakan si bungsu. Akan tetapi, saya, berkeyakinan si bungsu tetap memiliki kemampuan tubuh dapat sampai ke Semarang.

Plastik yang telah berisi muntah tetap berada di genggam tangan saya. Sebab, sewaktu-waktu plastik itu dapat digunakan. Dan, karenanya harus dalam posisi mudah dibuka. Kondisi itu terjaga di sepanjang perjalanan. Saya tidak memiliki sedikit pun niat membuang plastik kotor itu di sembarang tempat. Apalagi melemparkannya lewat jendela mobil. Tidak. Karena jika demikian, perilaku itu akan dapat merugikan banyak orang.  Bahkan, dapat membuat orang bertambah dosanya. Andai ketika dilempar lewat jendela mobil dan lemparan itu mengenai orang/pengguna (lain) jalan, pastilah mereka akan marah-marah kepada yang melemparkannya.  Bukankah ini sebuah dosa yang disebabkan oleh kemasabodohan pelempar sampah?

Saya baru membuangnya ketika tiba di tempat. Memasukkan ke bak sampah yang kebetulan berada di dekat rumah saudara. Si bungsu begitu tampak lemah. Ia tetap saya gendong turun dari mobil. Ia sempat mengutarakan ingin tidur. Dan, karenanya saya gendong ke tempat pembaringan yang berada persis di depan televisi berada. Akan tetapi, ketika hendak saya tidurkan, ia sudah tersenyum. Ya akhirnya tidak jadi tidur, malah bermain-main dengan saudara sepupunya. Si bungsu kembali sehat seperti semula. Ia dapat menikmati perjumpaannya dengan saudara-saudaranya hingga batas waktu  pulang.

Sebelum kembali pulang, untuk mengantisipasi si bungsu mabuk (lagi), Pakdenya menempelkan tembakau dari rokok ke udel (Jw, bekas tali pusatnya; pusarnya) dengan tensoplas. Saya mengikut saja karena Pakdenya (memberi kesaksian) pernah melakukan hal serupa kepada anaknya yang sering mabuk dan ternyata memang akhirnya tidak mabuk. Secara ilmiahnya saya tidak tahu persis mengapa tembakau itu mampu membuat seseorang tidak mabuk, seperti halnya Antimo. Barangkali saja zat yang terkandung di tembakau (yang tentu saja telah bercampur cengkih) itu memiliki khasiat untuk hal tersebut. Atas dasar analisis sederhana itu, saya mengamini upaya Pakdenya dengan cukup optimis.

Dalam menit-menit pertama perjalanan, si bungsu memang gembira dan sepertinya dapat menikmati perjalanan pulang itu. Bersenda gurau dengan saudara sepupunya. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian, si bungsu tampak lemas lagi. Ia hendak muntah. Dan memang ya, terjadi berualng kali, seperti ketika perginya. Upaya Pakdenya gagal. Analisis sederhana saya pun tidak berhasil. Dan, seperti itulah kenyataannya. Si bungsu muntah hampir selama perjalanan pulang. Hanya, di menit-menit terakhir si bungsu lebih nyaman karena ia dapat tertidur pulas di pangkuan saya hingga sampai di tempat. Dan, tidak mengalami muntah-muntah lagi.  

Saya akhirnya berpikir, apa mungkin upaya yang dilakukan Pakdenya tadi baru (saja) meresap ke dalam tubuh si bungsu sehingga si bungsu lebih terasa nyaman. Kalau memang dugaan itu benar berarti jauh sebelum menit-menit memulai perjalanan, upaya tradisional, seperti yang dilakukan Pakdenya itu, harus dikenakan terlebih dahulu supaya (zat-zat yang dimaksud) dapat meresap ke dalam tubuh. Sehingga, selama dalam perjalanan akan terasa nyaman bagi yang mabukan karena tidak muntah-muntah sampai tubuh lemas-lunglai.

Berulang kalinya si bungsu muntah dalam perjalanan, baik pergi maupun pulang, sejatinya dapat menjengkelkan hati. Terutama saya karena selama perjalanan saya harus selalu siap menghadapi kenyataan yang dihadapi si bungsu. Ketidaknyamanan yang dialami si bungsu juga akhirnya saya alami. Hanya, saya berusaha menikmati kenyataan tidak nyaman itu secara suka cita, seperti ketika tidak ada persoalan. Begitu saya “jengkel” atas kenyataan itu, si bungsu tentu akan semakin tidak nyaman dan bukan mustahil menangis di sepanjang perjalanan. Itulah sebabnya saya berusaha terus untuk bersabar karena boleh jadi kenyataan itu sebagai media “menguji” kesabaran saya.

1 komentar:

  1. Minum antimo pak, keponakan saya dulu sempet kayak gitu juga, akhirnya kalau mau jalan jauh, ya dikasih antimo dulu ....

    BalasHapus

""