Minggu, 25 Desember 2011

Natal, Kesederhanaan



Sabtu (24/12) sore, saya melihat si bungsu berlatih bersama teman-temannya di gereja untuk mengisi acara Natal, Minggu (25/12). Sekumpulan anak-anak kecil (termasuk kategori sekolah minggu) begitu riangnya di dalam gereja. Mereka menanti latihan dimulai. Ada yang berlari ke sana ke mari, ada yang sekadar duduk-duduk saja, ada juga yang masih menggelendot di tubuh orang tuanya. Begitulah anak-anak. Dunia mereka memang lucu, beragam, dan menggembirakan.

Sempat ketika saya melihat tingkah polah anak-anak itu, pikiran saya melayang ke masa kecil saya ketika Natal. Saya masih begitu ingat diri saya ketika hendak memasuki Hari Natal. Beberapa hari sebelum Natal tiba, saya, yang seorang anak gembala, selalu melakukan pekerjaan rutin keseharian. Yakni, menggembalakan kambing-kambing milik orang tua. Akan tetapi, ketika Natal tiba, pekerjaan menggembalakan itu tidak saya lakukan karena saya harus mengikuti kegiatan Natal, yang bagi saya ketika itu, sebuah kegiatan yang luar biasa. Rasanya tidak akan lengkap dalam hidup dunia anak-anak saya kalau tidak mengikuti Natal.

Itulah sebabnya, beberapa hari sebelum Natal, saya harus menggembalakan kambing sekaligus merumput untuk ditabung. Rumput yang ditabung itu dengan maksud untuk memberi makan kambing-kambing itu ketika Hari Natal karena kambing-kambing itu tidak digembalakan. Dengan begitu, kambing-kambing yang menjadi tanggung jawab saya tetap terpelihara karena ada banyak rumput di rumah; saya pun dapat mengikuti kegiatan Natal di gereja dengan sangat leluasa. Itulah dunia saya ketika masih anak-anak dalam ber-Hari Natal.

Suasana Natal di tempat tinggal saya, ketika masa kecil saya, sungguh terasa. Bahkan, ketika itu sudah menjadi tradisi kalau Natalan, di gereja selalu dipasang pengeras suara  jenis toa dipancang di tiang bambu yang tinggi menjulang. Lagu-lagu Natal disenandungkan sehingga lagu-lagu Natal tersebut mewarnai suasana desa. Dapat didengar sampai ke sawah-sawah ke tegal-tegal (Jw, perkebunan) sehingga sungguh-sungguh suasana Natal terasa betul. Itu terjadi setiap tanggal 25 Desember, tepat di Hari Natal. Saya (barangkali juga teman-teman sebaya saya), yang ketika itu masih kecil dapat menghayati Natal itu sampai dalam sehingga perasaan gembira, senang, suka cita, bersyukur, dan bersemangat benar-benar teralami dalam suasana sederhana pedesaan.

Malamnya, saya masih ingat, selalu ada acara drama, yang temanya tentang kehidupan orang-orang ketika zaman Yesus, yang diambil dari sebagian isi Injil. Drama itu dipertontonkan di atas panggung yang didirikan di luar gereja. Dengan demikian, banyak orang dapat melihat, tidak hanya kaum Kristiani desa saya, tetapi juga kaum beragama lain. Orang-orang berkumpul jadi satu melihat tontonan rohani yang dikemas dalam drama, yang menyerupai tontonan kethoprak itu. Kebersamaan terlihat begitu indah. Sehingga, acara selalu berjalan lancar hingga akhir. Dan, saya selalu dapat menikmatinya dengan sangat bahagia.

Saya tidak tahu persis bagaimana anak-anak kecil sekarang mengahayati Natal. Akan tetapi, barangkali sama juga dengan anak-anak kecil di zaman saya. Anak-anak kecil selalu dapat menikmati acara Natal yang dinanti-nanti. Apalagi sudah menjadi tradisi, ketika Natal, anak-anak selalu mengenakan pakaian baru. Mereka tentu riang gembira seperti yang saya lihat ketika mereka berlatih (untuk mengisi acara Natal) di gereja Sabtu sore itu. Saya sangat senang karena anak-anak menampilkan satu bentuk acara “unik”. Keunikan itu lebih terletak pada perangkat musik yang digunakan mereka untuk menari dan memuji Tuhan. Musik-musik itu terbentuk dari berbagai perkakas rumah tangga, di antaranya botol, panci, sendok, galon aqua, piring.

Yang sungguh unik adalah botol yang diisi air secara berbeda-beda volumenya  untuk menimbulkan bunyi bernada seperti halnya musik-musik modern. Dan, rupanya botol-botol yang telah ditata itu benar-benar dapat menimbulkan bunyi nada. Hanya memang ketika saya tanyakan kepada penyusunnya, salah satu pemuda gereja, untuk nada do belum diketemukan. Untuk menyusun musik dari botol itu memerlukan waktu satu hari penuh. Itu saja nada do belum ditemukan. Sekalipun nada do belum ditemukan, perpaduan perkakas rumah tangga yang diharmonikan itu menjadi suguhan musik yang manarik saat mengiringi anak-anak kecil menyanyi dan menari. Inilah sebuah kesederhanaan itu. Kesederhanaan yang diadakan untuk Natal, yang memang Natal, kelahiran Yesus Kristus, itu amat sederhana.

Kalau anak-anak dapat menyuguhkan pertunjukan Natal dengan alat-alat musik yang sederhana tetapi diramu secara kreatif;  Yesus Kristus yang ketika masa-Nya lahir di dunia memasuki keadaan yang begitu sederhana. Bayi yang umumnya lahir di dalam rumah, di sebuah kamar yang khusus, tidaklah demikian bayi Yesus. Ia lahir di sebuah palungan dalam kandang. Tempat yang sebetulnya tidak layak untuk seorang bayi dilahirkan. Akan tetapi, justru di situlah Yesus lahir dalam kesederhanaan. Yang, kesederhanaan-Nya melebihi kesederhanaan  umat-Nya, manusia. Sebab, rasanya tidak ada seorang bayi manusia dilahirkan di kandang yang hina. Akan tetapi, itulah fakta Yesus. Dan, melalui fakta itu, Ia dapat merengkuh manusia semua, yang penuh dengan kehinaan dan dosa. Natal selalu bersentuhan dengan kesederhanaan yang bersifat fisik, tetapi kemuliaan yang bersifat mental spiritual. Bagi yang mengimaninya, saya ucapkan “Selamat Natal dan menyongsong Tahun Baru 2012”!  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""