Selasa, 27 Desember 2011

Pendidikan Kilat di Rumah Nenek-Kakek


Si sulung, Senin (26/12) pagi, pergi berlibur ke rumah nenek-kakeknya. Keberangkatan si sulung berbarengan dengan saudara sepupunya yang kebetulan kemarin lusa, Minggu (25/12) bermain ke rumah kami. Rumah saudara sepupu si sulung itu kebetulan dekat dengan rumah nenek-kakeknya. Enak bagi si sulung karena saudara sepupunya membawa mobil sendiri. Jadi, tidak perlu berpanas-panas atau malah barangkali berhujan-hujan (karena kini musim hujan) di atas motor, si sulung dapat sampai ke rumah nenek-kakeknya.

Sudah menjadi kebiasaan jika musim libur sekolah, si sulung, atau bahkan kami, berlibur ke desa, tempat tinggal kami sewaktu kanak-kanak. Berlibur ke rumah nenek-kakek/orang tua kami tidak memerlukan banyak biaya, seperti berlibur ke luar kota yang harus memerlukan tempat penginapan, yang tentu saja membutuhkan biaya. Tidak hanya tempat penginapan, tetapi hal-hal lain terkait dengan keperluan sehari-hari dan hiburan tentu memerlukan tidak sedikit anggaran. Itulah sebabnya, kebiasaan berlibur ke tempat tinggal nenek-kakek(-nya) anak-anak menjadi pilihan yang terbaik.

Saya melihat, tidak hanya faktor finansial yang memberi pertimbangan kami memilih berlibur ke tempat asal mula kami. Akan tetapi, faktor pendidikan mental, sosial, kesabaran, kebersahajaan, dan hiburan dapat ditemukan ketika berlibur di rumah nenek-kakek. Tidak perlu keluar biaya banyak, tetapi pendidikan secara komprehensif dapat terengkuh.

Ketika berlibur di rumah nenek-kakeknya, si sulung, secara praktis, misalnya, diajari berbahasa Jawa yang baik dan benar sewaktu berbicara dengan orang tua. Nenek-kakeknya selalu mengingatkan (dengan sabar) menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar manakala si sulung salah menerapkannya dalam percakapan. Dan, entah karena apa, si sulung selalu mudah diajari nenek-kakeknya. Ketika salah menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan dengan nenek-kakeknya, begitu diingatkan, seketika juga si sulung  mengubahnya dengan bahasa Jawa yang baik dan benar, yang biasanya terlebih dahulu dicontohi oleh nenek-kakeknya. Di dalam praktik berbahasa Jawa itu, tata krama bertingkah laku (secara tidak langsung) diajarkan pula.

Dalam kondisi seperti itu, si sulung akan lebih mudah “mengendalikan diri” ketika sedang berbincang-bincang dengan saudara-saudaranya yang lebih dewasa, baik dalam berbicara maupun bersikap. Ia akan menggunakan bahasa Jawa dan sikap yang seharusnya. Ia akan merasa malu jika dalam membangun komunikasi dan bergaul itu mengalami kesalahan. Karenanya, ia akan berhati-hati. Dan, kenyataan itu sering saya jumpai ketika saya ada bersama-sama si sulung di rumah nenek-kakeknya. Ia tampak begitu “terarah” dalam berbahasa Jawa dan bersikap. Tentu saja itu berkat pendidikan kilat yang dilakukan oleh nenek-kakeknya. Kami mengalami kesulitan melakukan hal tersebut di rumah oleh karena keterbatasan kami.

Tidak hanya perihal itu yang didapat si sulung ketika berlibur di rumah nenek-kakek. Si sulung pun dididik dalam hal tertib bangun tidur, misalnya. Nenek-kakeknya begitu sabar mengingatkan agar si sulung bangun pagi. Ketika nenek-kakeknya bangun, si sulung harus bangun. Lantas, bersama-sama diajak melakukan aktivitas yang dilakukan nenek-kakeknya di dapur, mencuci piring, merebus air, menggoreng makanan, dan sebagainya, termasuk mungkin bertani ketika hari mulai menjelang siang. Si sulung selalu mengikuti “ajakan” nenek-kakeknya itu dan tidak pernah menolak, begitu kata nenek-kakeknya. Saya melihat, si sulung dapat menikmatinya. Tidak pernah ada pemberitahuan (dari nenek-kakeknya) perihal sikap kurang baik si sulung ketika berada di rumah nenek-kakeknya. Kami menyadari pendidikan yang serupa itu,  saat-saat libur, tidak dapat kami lakukan di rumah terhadap si sulung dan (apalagi) adiknya yang masih kecil, yang cenderung manja itu.

Ya barangkali memang nenek-kakek lebih memiliki kharisma “mendidik” cucu-cucunya. Umumnya nenek-kakek memiliki kesabaran dan ketekunan yang lebih baik ketimbang yang dimiliki orang tua anak. Karenanya boleh jadi apa pun yang dikehendaki nenek-kakek terhadap cucunya (dalam hal ini si sulung), lebih mudah terwujud. Lingkungan baru, yang lebih segar, boleh juga menjadikan si sulung lebih mudah beradaptasi. Tata krama yang diajarkan nenek-kakeknya lebih mudah dihayati. Begitu juga lama tidak bertemu, membuat si sulung terhadap nenek-kakek yang dirindukan, lebih mudah patuh. Kenyataan itu agak berbeda ketika si sulung berada di rumah bersama ibu-ayahnya.

Berlibur ke rumah nenek-kakek, memiliki banyak objek yang dapat dikunjungi. Karena, rumah nenek-kakek berdekatan dengan banyak saudara, yang memungkinkan si sulung dapat “main ke sana, main ke sini”. Ada banyak variasi yang dijumpai, menjadi hiburan tersendiri bagi si sulung, dan demikian juga yang saya rasakan ketika kami berkunjung ke rumah nenek-kakek selama liburan. Membangun hubungan dengan saudara secara langsung, berkunjung ke rumah-rumah saudara, memperakrab kekeluargaan. Satu dengan yang lain saling mengenal. Perjumpaan itu dapat menjadi ajang untuk berbagi, yang bukan mustahil (akhirnya) saling lengkap-melengkapi kekurangan yang ada dalam masing-masing keluarga/personal. Dengan demikian, akan lebih memotensikan keluarga/personal. Sehingga, bolehlah dibilang perjumpaan serupa itu akan membawa berkat bagi semua.

Suasana desa tampakanya membuat si sulung lebih fresh. Tidak ada kesibukan rutin belajar seperti ketika hari-hari sekolah pun (sepertinya) membuat si sulung lebih dapat menikmati liburan di rumah nenek-kakeknya. Di rumah yang biasanya si sulung sulit makan, ketika di rumah nenek-kakeknya, sekalipun jenis makanan yang tersaji tidak jauh berbeda dengan ketika berada di rumah, pola makannya lebih tertib. Sarapan (pagi) tepat waktu, makan siang dan malam juga terkontrol. Dan, saya melihat (juga) ketika berada di rumah nenek-kakeknya, porsi makannya lebih banyak. Di rumah, yang biasanya sulit makan sayur, ketika berada di rumah nenek-kakeknya, suka makan sayur. Tentu saja peran persuasif nenek-kakeknya sangat berpengaruh. Bukankah yang demikian itu boleh disebut sebagai sebuah proses pendidikan praktis, yang justru menyentuh ke benak anak (dalam hal ini si sulung)?

Barangkali fakta seperti itu dialami juga oleh anak-anak lain ketika sedang berlibur di rumah nenek-kakeknya. Anak-anak mengalami proses pendidikan yang, di samping praktis, juga komprehensif karena semua aspek kehidupan anak hampir pasti tersentuh. Lingkungan tempat tinggal nenek-kakek, yang biasanya berdekatan dengan rumah-rumah saudara, dapat menjadi ruang-ruang kelas yang variatif. Yang, tidak membosankan bagi anak. Akan tetapi, sebaliknya, malah membuat anak betah tinggal bersama saudara-saudaranya untuk bersosialisasi, berbagi, dan saling mengisi.

6 komentar:

  1. wah, jadi keingat saya wktu SD, senengnya keluyuran dimanapun, termasuk di hutan karet, maklum daerah saya di pedesaan terpencil. . . . .

    BalasHapus
  2. Di mana sob, daerah asal sobat?

    BalasHapus
  3. di daerah jawa itu orang-orangnya baik-baik,,
    pengen banget suatu saat bisa main ke daerah jawa,jawa tengah

    BalasHapus
  4. Ah, sobat ini terlalu melebih=lebihkan. Saya kira, semua orang dari mana pun asalnya baik-baik. Terima kasih.

    BalasHapus
  5. itulah salah satu kelebihan ketika seorang cucu mengunjungi kakek-neneknya, pak. mereka selalu mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru tentang pendidikan karakter. oh, selamat natal dan tahun baru, ya, pak, semoga makin tenteram dan sejahtera.

    BalasHapus
  6. Ya, Pak, memang begitulah yang saya lihat ketika anak-anak ksmi berlibur ke rumah nenek-kakeknya.
    Terima kasih, Pak, atas perhatian panjenengan.

    BalasHapus

""