Minggu, 25 Desember 2011

Penghargaan yang Tak Terduga


Akhir September 2011 (lalu) saya menerima sebuah surat. Dalam amplop tertutup berwarna putih. Amplop surat itu berkop Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan  Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Jalan Gunung Sahari Raya (Eks Kompleks Siliwangi), Jakarta Pusat 10002. Surat tertanggal 8 Agustus 2011 dengan pokok surat berbunyi Pemberitahuan Calon Penerima Bansos, sangat membahagiakan hati saya. Bahagia karena baru kali pertama ini saya mendapat surat dari lembaga pemerintah terkait dengan “kesenangan” saya, yang sekalipun senang, tetapi kurang menekuninya.

Andai saja saya tekun terhadap kesenangan saya itu barangkali tidak hanya sebatas Calon Penerima Bansos. Barangkali bisa lebih dari itu. Kesenangan saya itu terkait dengan menulis puisi. Saya senang menulis puisi. Akan tetapi, hobi menulis puisi itu tidak saya tekuni dengan sesungguh-sungguhnya. Ada kalanya saya produktif menulis puisi, tetapi terkadang nonproduktif. Sebulan bisa menghasilkan beberapa puisi, tetapi beberapa bulan tidak menghasilkan satu pun puisi, pernah terjadi. Dan, itu berulang kali. Inilah yang saya katakan tidak tekun itu.

Padahal, saya sadar bahwa segala sesuatu yang ditekuni akan membawa kebaikan bagi yang menekuninya. Berani menghadapi tantangan kemalasan, terutama, akan dapat menghasilkan karya yang baik. Sebaliknya, kalah dengan kemalasan akan tidak menghasilkan apa-apa. Kalau toh menghasilkan sesuatu, dapat dipastikan tidak maksimal hasilnya. Dorongan-dorongan untuk menulis puisi kadang begitu kuat sehingga ketika ada inspirasi langsung menuliskannya. Akan tetapi, entah karena apa (barangkali kemalasan itu) kadang muncul dorongan-dorongan yang tidak membangun suasana hati menulis puisi. Kondisi seperti itu berlangsung demikian lama.

Sejak saya kuliah, 87-an, sudah senang menulis puisi. Dan, ketika itu lingkungan sangat mendukung. Karena, bergabung di salah satu kelompok teater di Surabaya (Sandradekta, seingat saya), sangat memungkinkan saya untuk terus berkreasi menulis puisi. Di komunitas teater dan komunitas-komunitas seni (termasuk di Dewan Kesenian Surabaya), yang saya sering menggabungkan diri, nyatanya mampu memicu kreativitas. Jadi, selama di Surabaya, kondisi terpacu berkreasi tumbuh positif.

Begitu lepas dari Surabaya, karena saya kembali ke tempat asal di Jawa Tengah, di salah satu desa yang jauh dari komunitas-komunitas seni, kondisi yang pernah berbiak itu, jadi mandul. Akan tetapi, meski begitu, dorongan-dorongan berpuisi itu masih juga muncul sekalipun jarang. Jadi, selama saya berada di Jawa Tengah menghasilkan beberapa puisi, yang saya dokumentasikan, seperti halnya puisi-puisi yang pernah saya hasilkan di Surabaya, terdokumentasi dengan baik. Nah, ketika 2009, Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional mengadakan lomba penulisan buku teks pelajaran dan naskah buku pengayaan, saya mengikutinya.

Yang saya ikuti penulisan naskah buku pengayaan karena itu yang saya pikir memiliki bahannya. Jadi, untuk memenuhi sejumlah halaman, saya harus mengumpulkan puisi yang pernah saya tulis sejak saya masih kuliah. Jumlah puisi yang terkumpul sejak saya kuliah hingga 2009 ternyata lebih dari seratus puisi. Hanya, karena temanya beragam, saya harus memilah-milah yang memiliki kedekatan tema saya jadikan satu kumpulan puisi. Naskah buku pengayaan yang saya ikutkan adalah buku kumpulan puisi untuk SMP. Judulnya, Pencarianku. Ketika saya mengirimkan naskah itu ke panitia, saya tidak berharap banyak karena saya menyadari ada banyak kekurangan  dalam naskah buku pengayaan itu. Akan tetapi, saya pikir mengikuti even semacam itu tidak ada ruginya, apalagi sudah ada bahannya. Kalau toh tetap dikatakan ada ruginya barangkali tidaklah seberapa jika memang naskahnya tidak menang.  Ya paling-paling tenaga, pikiran, waktu, dan sedikit biaya kita keluarkan. Itulah di antaranya yang mendorong saya untuk mengikuti lomba tersebut.

Terus terang, sekali lagi, ketika naskah itu saya kirim, saya tidak berharap banyak. Akan tetapi, karena mengikuti lomba, mau tidak mau, saya tetap menunggu informasi pengumuman pemenang.  Bahkan, beberapa kali saya membuka situs yang berhak mengumumkan informasi itu. Kali yang terakhir dapat saya jumpai pengumuman pemenang lewat internet. Saya tidak termasuk dalam daftar yang saya baca itu. Dan, saya menyadari kenyataan itu. Saya tidak mungkin menang. Bukankah untuk menjadi pemenang butuh proses yang panjang? Saya baru sekali proses, jelas belum berpengalaman. Yang sudah dua tiga kali ikut lomba saja , belum tentu menjadi pemenang. Itu yang membuat hati saya tetap berbangga diri.

Sampai suatu ketika saya dikejutkan ada kiriman surat yang sudah saya singgung di atas. Saya buka amplop surat itu. Dan, yang mengejutkan adalah dalam lembaran-lembaran yang terlipat dalam surat itu ada kuitansi, yang telah bertuliskan sejumlah nilai uang, yaitu Rp2.500.000,00. Sejumlah uang itu ditujukan kepada saya. Naskah buku pengayaan yang saya ikutkan lomba tampaknya mendapat perhatian pemerintah (dalam hal ini Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional). Tidak menjadi pemenang alias kalah, tetapi masih mendapat perhatian. Perhatian itu selaras dengan sebagian isi surat, yang tampaknya berguna untuk mendorong motivasi penulis buku teks pelajaran dan naskah buku pengayaan, khususnya kepada penulis yang telah mengajukan buku teks pelajaran dan naskah buku pengayaan yang belum menjadi pemenang.

Perhatian yang dirupakan dalam bentuk uang itu ternyata tidak untuk semua teks atau naskah yang kalah dalam lomba. Rupanya ada seleksi lagi untuk menentukan mana teks atau naskah yang layak mendapat dana hibah (bantuan sosial) itu. Dana hibah untuk buku teks pelajaran sebasar Rp 4.000.000,00; sedangkan untuk naskah buku pengayaan sebesar Rp 2.500.000,00. Berapa pun jumlahnya, sebagai sebuah penghargaan bagi yang kalah dalam lomba, tentu sangat membanggakan. Dan, hal itu sangat memotivasi untuk lebih mau menggali potensi lagi. Saya sendiri merasakan hal tersebut. Tumbuh keinginan untuk lebih produktif dalam menekuni hobi yang satu ini. Bagaimana tidak termotivasi, sudah kalah, tetapi masih mendapat penghargaan? Tentu patut disyukuri dan wujud syukur itu tidak salah jika semakin menekuni bidang yang telah digeluti.

Dana hibab yang diberikan itu diarahkan untuk perbaikan teks atau naskah yang dikirimkan ikut lomba. Jadi, uang sejumlah itu tidak kok dipakai untuk keinginannya sendiri, tetapi sudah diplotkan untuk merevisi dan memperbaiki teks atau naskah, yang setelah melalui tahapan itu harus dikirimkan ke  instansi yang sama (pemberi dana hibah), yakni Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional. Dengan demikian, peruntukan dana hibah itu sungguh bermanfaat bagi perbaikan mutu teks atau naskah, yang barangkali teks atau naskah itu kelak didokumentasikan di instansi terkait. Hanya, saya yakin, tidak semua dana hibab sejumlah itu habis untuk perbaikan teks atau naskah buku.

Fakta ini saya saksikan melalui blog coretan sungkowoastro dengan maksud kalau kesaksian ini dibaca banyak orang, termasuk guru di dalamnya, semakinlah banyak guru yang berpartisipasi dalam lomba serupa, yang tampaknya tiap tahun diadakan oleh instansi terkait. Even ini, menurut saya,  perlu direspon secara positif karena sekalipun kalah dalam lomba, tetap mendapat penghargaan yang sangat menarik. Kalah saja mendapat “perhatian” yang sedemikian dari pemerintah, apalagi yang menang. Pastilah sangat membanggakan.

7 komentar:

  1. selamat pak, meskipun belum juara..menurut juri, namun bagi saya bapak telah juara, karena bisa menginspirasi rekan guru lain

    BalasHapus
  2. Terima kasih, pak. Semoga tulisan ini bermanfaat benar bagi sesama guru.

    BalasHapus
  3. Wah selamat ya Pak...atas penghargaanya...tetap berkarya dan berkarya

    BalasHapus
  4. Oke, terima kasih, atas motivasi positifnya.

    BalasHapus
  5. selamat pak. saya yakin tulisan bapak ini akan memotivasi rekan-rekan guru yang lain.

    BalasHapus

""