Jumat, 16 Desember 2011

Rasa Khawatir


Sore ini tadi, Jumat (16/12), saya bersama si sulung hendak menyerviskan sepeda. Sebab, sepeda kami, di hari Minggu (18/12) nanti akan kami pakai mengikuti acara sepeda gembira yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus. Sepeda gembira yang digelar itu salah satu acara untuk memperingati HUT ke-462 Kota Kudus. Sekalipun agak kadaluwarsa pelaksanaannya sepertinya meriah karena ternyata diikuti juga oleh peserta dari luar kota, seperti Jepara, Demak, dan Pati. Diperkirakan ratusan bahkan bukan mustahil menembus ribuan peserta. Boleh jadi karena hadiahnya cukup menarik. Hadiah utama Xenia. Hadiah yang lain, sepeda motor, sepeda gunung, perlengkapan rumah tangga, dan lain sebagainya. Sepeda-sepeda yang hendak digunakan umumnya diserviskan terlebih dahulu seperti yang kami lakukan demi kenyamanan ketika nanti berkegiatan.

Hanya, servis sepeda gagal kami lakukan karena pedal yang seharusnya dibutuhkan untuk perbaikan sepeda saya tidak tersedia. Sudah membeli pedal di toko sebelah bengkel, tetapi ternyata pedalnya kurang cocok. Karena sudah sore, tidak mungkin pergi ke toko yang agak jauh dari bengkel untuk membelinya, akhirnya dijanjikan oleh toko sebelah bengkel besok dikulakkan (Jw, dibelikan). Dijanjikan begitu karena uang sudah telanjur diterima dan barangkali pemilik toko onderdil sepeda, sebelah bengkel, malas mengembalikan kepada saya. Saya tidak apa-apa. Berpikir positif saja. Apalagi yang memiliki toko juga sudah mengenal saya sekalipun tidak akrab. Tentu tidak akan melupakan bahwa saya sudah membayar dan besoknya saya tinggal terima barangnya saja.

Pak bengkel mencoba-coba sepeda saya, katanya yang perlu diganti memang pedalnya itu, yang membuat timbul bunyi krit-krit, seperti suara tikus. Suara yang tentu tidak membuat nyaman penggunanya. Bagian -bagian yang lain masih relatif normal digunakan. Hanya rem depannya yang perlu sedikit disempurnakan karena kurang set ketika untuk ngerem. Sementara itu, sepeda si sulung ternyata masih baik-baik saja. Tidak ada yang perlu diservis. Masih layak dipergunakan untuk mengikuti sepeda gembira.

Upaya menyerviskan itu rupanya berasal dari rasa khawatir kami saja. Dan, rasa atau sikap seperti itu bisa saja terjadi pada siapa saja. Tidak pandang bulu, tua atau muda, laki atau wanita, orang kota atau udik, dan sebagainya. Kekhawatiran sering muncul ketika kita akan menghadapi aktivitas-aktivitas tertentu, yang apalagi kalau belum ada persiapan sama sekali. Tentu saja di samping itu (yang tidak kalah pentingnya) adalah, sepeda yang dipakai itu bermerk apa tidak. Kalau sepeda bermerk barangkali tidak perlu menimbulkan rasa khawatir. Karena tentu saja dengan kualitas super, tidak akan menimbulkan ketidaknyamanan ketika sepeda itu dinaiki. Berbeda dengan sepeda saya.

Sepeda saya memang boleh dibilang tidak bermerk. Sepeda hasil dorpres si sulung ketika mengikuti sepeda gembira beberapa tahun lalu di tempat kerja ibunya. Sepeda itu tidak dipakainya karena kebetulan sepeda jenis laki-laki. Jadi, sayalah yang memakai, yang selama ini pun saya pergunakan ketika pulang-pergi bekerja. Sepanjang waktu saya gunakan memang tidak pernah ada keluhan setelah beberapa bagian saya ganti dengan onderdil yang agak baik. Akhir-akhir ini sering muncul bunyi krit-krit serupa suara tikus. Dan, hal itulah yang mempengaruhi saya untuk membengkelkannya. Ya daripada hanya membengkelkan satu sepeda lebih baik sekalian sepeda si sulung, yang juga nantinya dipakai untuk mengikuti sepeda gembira dalam acara yang sama, pikir saya. Tidak ada salahnya bukan?

Jika pada kenyataannya sepeda si sulung, yang sudah dipakainya sejak kelas IV SD hingga sekarang, kelas VIII SMP, dibawa ke bengkel  tetapi dinyatakan masih baik, ya itulah kenyataannya. Namun, bagi saya, cukup pantas jika perlu diperhatikan (dibawa ke bengkel) apalagi menjelang digunakan untuk even khusus seperti kali ini. Mengantisipasi jika nanti ketika berlangsung kegiatan, terjadi apa-apa. Apalagi sepeda si sulung juga tidak bermerk. Hanya, hingga kini masih cukup baik digunakan sebagai alat transportasi bersekolah. Sekalipun tidak bermerk seperti sepeda-sepeda mutakhir di masa kini, sepertinya sepeda si sulung tidak pernah rewel berat selama digunakan. Paling-paling remnya yang perlu selalu dikontrol. Pernah sekali mengganti keranjang depannya yang peyok-peyok. Sekali mengganti pedalnya yang putus karena barangkali saking serinngnya dipakai.

Rasa khawatir dalam hal tertentu saya pikir masih baik-baik saja sebagai manusia. Karena khawatir dapat membawa seseorang untuk mengambil langkah antisipasi. Mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Mempertimbangkan ini-itu demi kenyamanan ketika tiba saatnya. Inilah sisi positif rasa khawatir itu, dapat menjadikan seseorang mau berjaga-jaga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""