Kamis, 22 Desember 2011

Saling Ketergantungan


Sore ini, acara yang telah direncanakan, gagal lagi. Kegagalan yang pertama, kemarin. Sehingga, diundur sore ini. Akan tetapi, gagal pula. Ini kegagalan yang kedua. Kegagalan tersebut dikarenakan ada salah satu orang tidak dapat menghadiri. Apalagi salah satu orang yang tidak dapat menghadiri itu termasuk penting peranannya.

Barangkali jika peranannya tidak penting dalam acara tersebut, acara boleh jadi masih dapat berlangsung. Sekalipun keberlangsungan acara tersebut tentu kurang mantap karena ada bagian yang tidak ada. Ketidakadaan bagian yang sejatinya telah menjadi satu itu sangat berpengaruh. Karenanya, ketika mengadakan acara memang harus dipastikan semua anggota harus dapat hadir.

Itu artinya baik anggota yang peranannya penting, kurang penting, maupun tidak penting, memiliki “nilai” yang sama. Tidak karena penting peranannya dianggap yang paling hebat, sementara yang kurang penting apalagi tidak penting, dianggap biasa-biasa saja. Tidak begitu. Semua memiliki kepentingannya masing-masing. Dan, satu dengan yang lain saling melengkapi.

Itulah yang terjadi dalam acara yang telah disusun oleh saudara kami di Semarang. Ia menghendaki kami hadir dalam acara itu. Akan tetapi, kehadiran kami harus menumpang saudara yang satunya lagi karena ia yang memiliki mobil. Saudara kami itu saya anggap memiliki peranan penting terkait dengan acara tersebut. Karena kehadiran kami tergantung padanya. Seandainya kami berangkat sendiri  mengendarai motor bisa saja, tetapi karena sudah telanjur ada janji, hal itu tidak mungkin kami lakukan. Kami harus bersama-sama dalam satu mobil. Sebab, jika sampai kami bermotor, jangan-jangan ada pikiran negatif dari saudara kami itu. Kemungkinan itulah yang harus kami hindari.

Saudara kami yang memiliki mobil ternyata memiliki acara yang berbarengan dengan acara yang disusun saudara kami di Semarang. Hal itu terjadi dua kali. Kemarin dan sore ini. Demi kebersamaan, acara yang telah disusun diundur lagi, seperti yang telah saya singgung di atas. Pengunduran acara sampai dua kali sebenarnya sangat menjengkelkan. Akan tetapi, bagi kami, biarlah itu terjadi karena memang demikian itu kenyataannya. Kalau dipaksakan diadakan, jelas akan menimbulkan persoalan yang justru dapat memecah persaudaraan bukan?

Dalam hal demikian memang diperlukan salah satu harus ada yang mau mengalah. Akan tetapi, mengalah bukan karena tidak memiliki posisi tawar, tetapi karena persoalan skala prioritas. Barangkali saudara kami yang memiliki mobil itu (memang) memiliki acara yang lebih penting karenanya tidak dapat ditinggalkan. Sementara itu acara yang di Semarang masih dapat ditunda karena sifatnya kekeluargaan. Di samping sifatnya kekeluargaan, toh masih hari libur sehingga memungkinkan anak-anak mengikuti acara tersebut. 

Sekalipun ditunda (lagi) kalau masih ada waktu yang dapat digunakan saya pikir tidaklah menjadi masalah. Bahkan, upaya penundaan itu baik (sejauh masih ada alternatif waktu) kalau diarahkan untuk dapat menyatukan semua anggota. Dengan begitu akhirnya semua dapat bertemu. Pertemuan dapat dijadikan tempat saling berbagi, media saling memberi motivasi. Dan, itu tentu sangat menggembirakan. Begitulah hidup, saling ketergantungan satu dengan yang lain.

1 komentar:

  1. Apa kabar ? Silahkan teman teman Guru juga mendaftarkan blognya di http://stat.m-edukasi.web.id untuk menambah silaturahmi dg blogger guru yang lain, terimakasih

    BalasHapus

""