Jumat, 02 Desember 2011

Selalu Mengingatkan



Semestinya tidak perlu mengingatkan anak-anak yang berperilaku menyimpang akan menjadikan diri lebih aman bagi seorang guru. Sebab, tidak akan “bersentuhan” dengan anak. Berarti tetap ada dalam keadaan bersih. Tidak turut memasuki persoalan yang dihadapi anak. Dengan demikian, bebas, tidak memiliki urusan apa-apa dengan anak. Tentu saja, logikanya, dalam kondisi demikian seorang guru akan sangat lebih “enjoy” ketika membangun proses pembelajaran di tengah-tengah anak didik ketimbang guru-guru yang senantiasa memiliki “urusan” dengan anak didik.

Karena, anak-anak, khususnya yang berperilaku menyimpang, tidak memiliki “urusan” apa-apa karena tidak pernah diperingatkan/ditegur. Yang berarti juga tidak pernah merasa “tersakiti” benaknya oleh peringatan/teguran/nasihat guru. Akan tetapi, kondisi itu belum dapat menjamin mereka dapat menikmati suasana belajar yang sesungguhnya. Katakanlah, sekalipun mereka tidak memiliki “urusan” dengan guru yang mengajar oleh karena guru tersebut kurang peduli memberi peringatan/teguran/nasihat, bisa saja mereka tetap tidak konsentrasi belajar. Karena bukan mustahil sikap demikian itu telah menjadi semacam kebiasaan.

Karenanya, sekalipun perilaku mereka itu merugikan (baik bagi diri sendiri maupun orang lain), sering tetap tidak dirasakannya. Berlangsung saja seperti biasanya. Seakan tidak terjadi apa-apa. Dan inilah salah satu kenyataan pribadi anak-anak. yang, kurang memiliki kesadaran diri untuk mau berubah. Bahkan, ada semacam kesenangan jika berbuat kurang baik diketahui teman-teman. Beberapa anak yang memiliki perilaku kurang manis, yang saya temui, mengakui bahwa perbuatan yang dilakukan itu tidak benar. Akan tetapi toh demikian, ia tetap melakukan hal yang sama. Sehingga mereka perlu diingatkan/dinasihati/ditegur.

Mengingatkan/menasihati/menegur boleh jadi dipahami oleh anak-anak yang demikian membatasi kebebasannya. Hal itu dibuktinya seringnya anak yang demikian itu kurang berani bebas ke sana ke mari sekalipun di lingkungan sekolah. Kalau hendak keluar kelas saja harus melihat sana melihat sini kalau-kalau ada guru yang suka mengingatkan. Jika dilihatnya tidak ada guru yang dimaksud, mereka lantas berjalan ke tujuan semula. Akan tetapi, ketika jalan pun, mereka terlihat tidak tenang. Dan, begitu dilihatnya tiba-tiba ada guru yang dimaksud, mereka dipastikan berjalan cepat-cepat atau bahkan berlari, menghindar dari pandangan guru tersebut.

Jelas ini menandakan tidak adanya ketenangan bagi anak itu. Ke WC, kantin, perpus, apalagi ke ruang guru,  anak itu dipastikan tidak memiliki nyali yang bagus. Pasti muncul perasaan was-was, “ya tidak, ya tidak”. Dan, itu niscaya sangat mengganggunya. Kalau pun terpaksa harus ke ruang guru oleh karena ada sesuatu yang penting, paling-paling mereka akan merapikan dahulu apa-apa yang ada dalam tubuhnya kurang rapi. Mungkin kaus kaki, baju yang kurang pas dimasukkan, dasi yang nglewer, dan hal-hal lain yang tampak dipandang.

Yang terjadi dalam benak anak yang demikian itu justru ketidakjujuran. Karena rapi yang dibuat-buat itu jelas sifatnya sangat semenatra. Begitu selesai dari ruang guru, perilakunya akan kembali pada kebiasaan lama. Dan jika kebiasaan seperti itu sudah mereka jadikan “makanan” sehari-hari di sekolah oleh karena menurutnya dapat menambah prestise (gengsi) diri, maka perilaku semacam itu tidak mudah dihilangkan. Sangat dibutuhkan perhatian lebih.

Barangkali perhatian yang telah diberikan guru tertentu sudah berlebih. Berkali-kali diingatkan, ditegur, dan dinasihati. Tidak lagi terhitung jumlahnya. Akan tetapi, sepanjang peringatan, teguran, dan nasihat sepanjang itu pula perilaku menyimpangnya tetap berlangsung. Ketika diperingatkan, bisa saja berkata siap untuk berubah. Hanya, sudah hal yang biasa jika di kemudian hari dijumpai tetap seperti sedia kala, tidak ada perubahan apa-apa. Dan karenanya bukan mustahil oleh karena merasa bosan, guru akhirnya malas bersikap lagi. Membiarkan anak itu untuk tidak berubah, yang artinya tetap berperilaku menyimpang. Diakui atau tidak, fakta itu banyak dijumpai di sekolah.   

Ini tentu saja tidak baik. Sebab, bagaimana pun juga guru memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal pertumbuhan secara menyeluruh anak didiknya. Tantangan yang harus dihadapi guru di sekolah seperti itulah. Yakni, menegakkan bengkoknya moral-mental anak yang, diakui atau tidak, disebabkan lebih banyak faktor dari masyarakat yang menyajikan berbagai-bagai peristiwa menggetirkan. Tak bosan-bosannya mengingatkan, menegur, dan menasihati anak didik yang berperilaku menyimpang meski dengan risiko “dibenci” anak didik selalu harus dilakukan. Ayo terus berjuang, Guru!

1 komentar:

  1. guru itu bukan hanya mengajar, tetapi juga mendidik. mendidik di sini dalam artian guru tsb mengarahkan etika dan moral murid2nya agar lebih baik lagi.

    BalasHapus

""