Selasa, 06 Desember 2011

Sulitnya Mengubah Cara Belajar



Yang terjadi jika ulangan, seperti ulangan semester, yang minggu-minggu ini sedang berlangsung, anak selalu disibukkan dengan belajar. Belajar semalam suntuk. Atau, paling tidak, dalam semalam bisa saja belajar dua sampai tiga mata pelajaran (mapel). Karena besoknya, dalam sehari ada dua sampai tiga mapel yang mereka hadapi saat ulangan. Bagaimana pun cara seperti itu sangat melelahkan fisik dan otak. Apalagi jika mapel yang dipelajari itu memuat banyak materi, mau tidak mau, membutuhkan waktu yang panjang untuk dapat menguasainya. Parahnya lagi kalau memiliki kebiasaan belajar ndadagan (Jw, spontan). Dapat dipastikan, materi yang dipelajari tidak masuk ke otak karena memaksa-maksa diri terus belajar semalam suntuk sampai letih-payah.

Tubuh dalam kondisi baik barangkali efeknya tidak seberapa. Letih-payah yang terjadi dapat diobati dengan tidur sebentar. Sekalipun kurang waktu tidurnya, tetapi lumayan juga, sekadar untuk mengurangi letih-payah itu. Akan tetapi, saya berani memastikan bahwa kenyataan itu tidak akan memberikan hasil maksimal dalam belajar. Itu saja tubuh dalam kondisi baik. Bagaimana kalau tubuh dalam kondisi kurang baik? Tentu saja hasilnya “payah”.  Sebab, tubuh dalam kondisi kurang baik dapat dipastikan kerja otak juga menurun, tidak seperti biasanya, ketika tubuh dalam kondisi sehat. Bahkan jika dalam kondisi begitu dipaksa-paksakan hasilnya tidak karu-karuan (Jw, hancur lebur; tidak berbentuk; nyaris tidak ada hasilnya). Bisa-bisa justru tubuh semakin lemah, tidak berdaya, dan akhirnya jatuh sakit.

Ternyata cuaca pun turut memberi andil dalam hal ini. Cuaca yang tidak baik, seperti di musim pancaroba, boleh dibilang memengaruhi kondisi tubuh hampir semua orang.  Orang yang dalam kondisi tubuh sehat saja dapat terpengaruh oleh cuaca yang tidak bersahabat ini. Awalnya sehat walafiat, tetapi ketika cuaca menerjang, tubuh dapat mudah jatuh sakit. Apalagi jika telah dibuat (terlebih dahulu) letih-payah oleh karena disuntukkan dengan kegiatan belajar, dapat dipastikan mudah jatuh sakit. Seperti yang kali ini dialami oleh si sulung. Saat-saat ia harus memiliki tubuh sehat, malah jatuh sakit, sekalipun sakit batuk dan pilek-pilek, yang akhirnya sangat mengganggu konsentrasi belajarnya mengahadapi ulangan semester kali ini.

Belajarnya yang terforsir, menurut saya, karena kebiasaan belajar semalam beragam materi (banyak mapel) saat menghadapi semesteran, membuat tubuhnya cepat lelah. Apalagi semesteran kali ini persis jatuh di musim pancaroba, yang notabene diasumsikan banyak virus penyakit beterbangan. Maka, tepat sudah, stamina tubuh (dalam kondisi) menurun dihantam virus yang beterbangan. Akhirnya jatuh sakit menjadi risiko yang tidak dapat dihindari.

Saya membayangkan andai saja si sulung  tidak menggunakan pola belajar semalam, tetapi mencicil (sedikit demi sedikit) sejak lama, barangkali tidak sampai jatuh sakit seperti kali ini. Karena belajarnya telah dicicil sejak lama, belajar di malam menjelang esok ulangan, tentu tidaklah berat. Bukankah materi sudah ada yang dikuasai? Dengan demikian, belajar di malam menjelang esok ulangan, sekadar membuka-buka buku untuk menyegarkan (kembali) ingatan. Cara kerja otak tidak tertekan. Biasa saja. Tidak ada beban yang memberat. Kondisi ini, disadari atau tidak, mengawal stamina tubuh tetap terjaga. Yang, tentu memberi kontribusi positif terhadap aktivitas-aktivitas ulangan yang ada.

Namun, tidak sedikit anak yang mengabaikan cara belajar mencicil semacam itu. Mereka lebih banyak menggunakan pola belajar semalam. Entah mengapa mereka lebih menyenangi cara belajar yang marathon semacam itu. Seperti si sulung sudah sering diingatkan belajar mencicil lebih meringankan daripada belajar marathon, pun tidak pernah mengindahkan. Masih saja ia menggunakan pola belajar marathon. Rupanya begitu sulit mengubah cara belajar mereka, yang sepertinya sudah mendarah daging itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""