Minggu, 01 Januari 2012

Berdiaspora


Gambar dari: wayangprabu.com
Hidup di masa lalu berbeda dengan hidup di masa sekarang. Di masa lalu, ketika saya masih kecil, banyak orang berprinsip, hidup yang penting berkumpul, dalam bahasa Jawa sering disebut dengan ungkapan “mangan ora mangan sing penting kumpul” (makan tidak makan yang penting berkumpul). Sehingga, khususnya di daerah Jawa, kita dapat membuktikan, bahkan sisa-sisanya hingga saat ini masih dapat dilihat, banyak rumah sesaudara ada dalam satu lokasi. Yang di sisi ini rumah adik, di sisi itu rumah kakak, di sebelah sana rumah keponakan satu, dan yang di sebelah sini rumah keponakan satunya lagi. Hidup berumah tangga berada dalam satu area tempat tinggal.
Kenyataan itu paling banyak dapat kita jumpai di pedesaan. Sampai saat ini sebagian masih dapat kita lihat, sekalipun barangkali tidak semua rumah berpenghuni. Tidak berpenghuni karena yang memiliki telah pergi/merantau ke tempat lain, atau bahkan pergi ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI), yang kini begitu marak. Budaya merantau/ke luar negeri terjadi karena tidak ada lagi kemampuan bertahan hidup berkumpul (terus) tanpa makan. 
Kalau di zaman dahulu, ketika saya masih kecil, orang masih dapat mencari makan dengan cara bercocok tanam di mana saja, termasuk di sekitar rumah, dan hasilnya menjadi sumber pangan. Orang masih sangat leluasa mencari makan lewat menelisik sumber-sumber pangan dari tetumbuhan di sekitar tempat tinggal. Karena kebiasaan itu sangat memasyarakat, saya sering mendengar orang-orang mengatakan “isih isa ngramban cedhak omah” (masih dapat memetik sayur di dekat rumah). Dan, memang benar karena dahulu hampir setiap rumah berpagar tetumbuhan, yang umumnya daunnya dapat digunakan untuk sayur. Kini, hal serupa itu tinggal kenangan.
Orang-orang tua kami, tempo dulu, kalau hanya ingin menyayur tidak perlu pergi ke pasar membeli bahan sayur. Cukup memetik daun muda tumbuhan luntas, misalnya, atau yang lain dengan mengambil kelapa muda yang tumbuh di samping rumah, cukuplah untuk sayur. Paling-paling untuk melengkapi agar sayur itu berasa, diberilah sedikit garam, yang umumnya ibu-ibu kami telah memiliki banyak stok di dapur. Enak sudah sayur itu dimakan dengan nasi, yang tidak selalu berasal dari beras, tetapi kadang dicampur dengan jagung atau bahkan nasi jagung saja. Ikan untuk lauk sangat jarang. Kalaupun ada, lebih banyak ikan asin membeli dari penjual keliling, yang ketika itu jumlahnya masih sedikit.   Kami makan dengan lahap sekalipun hanya dengan sayur dan kalau beruntung ditambah ikan asin.
Tetangga yang kebetulan tidak memiliki tetumbuhan dapat disayur, misalnya, dapat mengambil milik tetangga sebelah. Tidak perlu membeli. Hanya mengambil dengan terlebih dahulu izin sekadarnya. Pastilah diizinkan. Apalagi untuk keperluan makan harian. Tidak ada yang akan menolak sejauh apa yang diinginkan itu ada. Hampir-hampir, semua yang ada seolah milik bersama. Di samping itu, sudah menjadi tradisi jika ada tetangga memasak, sebelahnya dikirimi masakan sekalipun saat itu bukan hari-hari khusus. Saling berkirim masakan hampir setiap hari terjadi meskipun masakannya sekadar sayur, misalnya. Jadi, barangkali boleh dibilang ketika itu tidak ada orang yang kurang makan.  Semua tercukupi oleh karena lingkungan sekitar menyediakan sumber pangan. Sehingga, ungkapan bahasa Jawa “mangan ora mangan sing penting kumpul” itu sebetulnya sikap hidup yang dipilih karena (saat itu) orang mengetahui kebutuhan masih dapat disediakan oleh alam lingkungan sekitar.
Maka, ketika alam lingkungan sekitar tidak lagi dapat menyediakan sumber pangan, katakan begitu, orang-orang mulai meninggalkan ungkapan tersebut. Mereka mulai berani melanggar ungkapan yang dahulu mungkin “dikeramatkan” banyak orang itu. Jadilah mereka merantau ke mana-mana asalkan dapat menjaga keberlangsungan hidup. Merantau ke luar daerah, pulau, atau bahkan luar negeri. Karenanya, sekarang barangkali ungkapan Jawa yang tepat adalah “kumpul ora kumpul sing penting mangan” (berkumpul tidak berkumpul yang penting makan). Ini fakta yang dapat kita lihat dengan gamblang (Jw, terang benderang) di hadapan kita.
Saya dan keluarga saja sekarang hidup tidak di daerah asal. Kami termasuk warga perantauan sekalipun dalam wilayah yang masih begitu dekat karena dalam wilayah kabupaten yang bersebelahan. Lahir dan dibesarkan di Pati, tetapi hidup berkeluarga beranak pinak di Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Bahkan, keponakan saya saja, yang sekarang masih sangat muda, sudah berada dan menganyam hidup bersama keluarganya di luar pulau, ada yang di Sumatera, ada yang di Kalimantan. Tidak sedikit juga saudara kami yang kurang beruntung hidup di negeri ini, akhirnya mengejar keberuntungan ke luar negeri. Mereka meninggalkan orang tua, anak, dan saudara yang masih hidup di Jawa. Itulah kenyataan hidup yang sekarang terjadi. Harus berpisah-pisah demi mempertahankan hidup.

Oleh karena itu, masa-masa libur menjadi waktu yang sungguh berarti untuk perjumpaan. Umumnya perjumpaan yang dibangun itu diadakan di rumah induk (milik orang tua). Rumah induk atau rumah tinggalan orang tua menjadi simbol pemersatuan. Anak-anak, cucu-cucu, atau bahkan cicit-cicit diperjumpakan di rumah induk itu untuk, di samping  menyatakan rasa syukur kepada Tuhan bersama orang tua/nenek-kakek atas keberlangsungan hidup yang dianugerahkan, juga mempererat ikatan kekeluargaan.
Atau, jika orang tua/nenek-kakek telah meninggal, yang boleh jadi kalau rumah peninggalannya masih ada dan ditempati salah satu generasinya, umumnya tetap digunakan sebagai tempat berkumpul. Menjadi simbol pemersatu generasi-generasi berikutnya. Menjadi pusat membangun semangat baru. Karena, di sana tempat mengenang jasa-jasa leluhur, yang mampu memberi “energi” dan inspirasi dalam hidup. Melalui kumpul-kumpul itu, semangat dan prinsip-prinsip hidup leluhur tetap dapat diperkenalkan kepada generasi-generasi yang lebih muda.
Dengan harapan, sekalipun berjauhan tempat tinggal, semua tetap memiliki ikatan batin secara mendalam. Semangat dan prinsip-prinsip hidup leluhur mengikat satu dengan yang lain. Bahkan, dapat menjadi karakteristik keberlangsungan hidup generasi-generasi turunan di tempat tinggal masing-masing.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""